Thursday 14th December 2017

BAHKAN NEGARA PUN BUTUH MEREK

By: On:

ahBrand atau merek sangat menentukan citra bukan saja sebuah produk, tapi juga reputasi sebuah negara. Oleh karena itu, Presiden Joko
Widodo sangat menaruh perhatian terhadap masalah merek negara yang disebut nation branding. Presiden ingin citra Indonesia dapat positif di mata dunia. Pada sebuah rapat kabinet, Jokowi meminta kementerian dan lembaga untuk bekerja semaksimal mungkin dalam membangun citra positif itu. Untuk mengkoordinasikan semua itu, Presiden menunjuk Menteri Pariwisata Arief Yahya menjadi Ketua Tim Nasional Branding. Pilihan itu sangat tepat, karena sebagai doktor strategic management, Arief Yahya punya kompetensi ilmu branding. Selaku Menteri Pariwisata, ilmu branding Arief Yahya sudah dibuktikan dalam tataran praktis.
Bukan hanya Omdo atau Omong Doang.
Brand Wonderful Indonesia yang dipromosikan Kementerian Pariwisata terbukti ‘nendang’ dan diakui dunia. Brand Wonderful Indonesia sudah melesat dari NA (not available) ke ranking 47 besar dunia. Mengalahkan Truly Asia Malaysia (96) dan Amazing Thailand (83).
Dalam sebuah kajian, Reputation Institute menemukan adanya hubungan sangat kuat antara reputasi sebuah negara dengan keinginan orang untuk berkunjung, membeli produk dan jasa, menamam investasi, belajar, atau hidup dan bekerja di sebuah negara
yang baik reputasinya. Direktur Eksekutif Reputation Institute Kasper Nielsen mengatakan kenaikan 10% dalam reputasi sebuah negara akan mendorong kenaikan 11% penerimaan sektor pariwisata dan kenaikan 2% dari investasi luar negeri. Jadi, magic words atau kata kunci dari Nielsen adalah “Reputation means money”! Untuk mengukur reputasi brand sebuah negara terdapat riset yang dikenal dengan Nation Brands Index (NBI). Riset yang dilakukan ini didasarkan pada beberapa aspek, seperti kualitas dan kuantitas ekspor, pariwisata, kebudayaan, pemerintahan, dan sifat penduduk asli negara tersebut.

Hasil dari NBI ini menjadi pegangan bagi para investor, wisatawan, perusahaan asing, dan pihak lainnya untuk mengetahui reputasi dari suatu negara. Dampaknya jelas, makin tinggi peringkat NBI dari suatu negara, maka akan semakin baik reputasi dari negara tersebut sehingga berimplikasi pada kemampuan negara tersebut dalam
menghadapi persaingan. Semakin baik brand sebuah negara, maka semakin banyak orang yang mau berkunjung, membeli produk,
dan menanamkan investasi di negara yang memiliki reputasi yang bagus. Oleh karenanya, brand sebuah negara tidak lepas dari tiga kata: Tourism, Trade, Investment.
Menpar Arief Yahya paham betul magic words “Reputasi adalah uang” maupun tiga kata dengan urutan Tourism, Trade, Investment tersebut. Ia berusaha dengan penuh sermangat menjadikan sektor pariwisata menjadi pundi-pundi emas pendapatan baru negara di tengah pendapatan migas yang terus menurun.

SUMBER DEVISA UTAMA

Industri pariwisata diyakini bakal segera menjadi sumber devisa utama. Target
devisa dari sektor pariwisata naik dari 10 miliar dolar AS menjadi 20 miliar dolar AS pada 2019. Jumlah wisatawan mancanegara ditargetkan bertambah dari 9 juta orang menjadi 20 juta orang. Saat ini pariwisata sudah menjadi penyumbang devisa keempat terbesar setelah minyak dan gas bumi, batu bara, dan minyak kelapa sawit. Pada tahun lalu devisa yang diperoleh dari industri pariwisata sudah mencapai USD12,6 miliar. Kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) urutan ketiga terbesar atau senilai USD80 miliar. Peringkat pertama dan kedua masih ditempati industri pertanian dan pertambangan. Guna mewujudkan target pariwisata sebagai sumber devisa utama tersebut, Arief menjelaskan brand management Indonesia harus terus diperkokoh. Untuk memperkokoh nation branding tentu bukan hanya tugas Arief Yahya atau pemerintah saja, tetapi tugas semua anak bangsa termasuk BUMN, pihak swasta dan civil society lainnya.

Mengapa semua pihak harus peduli dengan pentingnya membangun merek negara ini?
Di era persaingan global, brand sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan dan keunggulan sebuah negara: apakah sebagai tujuan wisata, pusat produksi barang tertentu, atau tempat yang menguntungkan untuk investasi.
Ahli branding Randal Frost mengatakan, “Bayangkan Prancis tanpa mode, Jerman tanpa produk mobil mewah, dan Jepang tanpa produk elektronik yang menjadi keunggulannya dari bangsa lain”.
Prancis, Jerman dan Jepang adalah contoh negeri yang bisa mencitrakan dirinya berbeda dengan bangsa lain. Prancis identik dengan dunia fashion. Jerman dengan Mercedes Bentz. Jepang dengan Sony, Toshiba, atau Panasonic.
Indonesia harus terus menerus mempromosikan brand Wonderful Indonesia, antara lain sebagai negara yang memiliki resort indah dan negara dengan multikultural yang rukun. Yang perlu dipromosikan tentu bukan hanya Bali yang memang sudah sangat terkenal di dunia, tapi juga pengembangan 10 destinasi wisata unggulan baru.
Sangat diapresiasi bahwa logo Wonderful Indonesia dengan image Banyuwangi menghiasi bus tingkat yang mengelilingi kota London, Inggris, selama sebulan menyambut pameran pariwisata World Travel Market (WTM) 2016. Selain bus tingkat, 400 taksi
di London, yang disebut black cab, juga memajang logo Wonderful Indonesia dengan menampilkan aneka gambar lokasi wisata, seperti Bali, Bromo, Lombok dan Danau Toba. Upaya promosi brand Indonesia seperti ini perlu dialokasikan perhatian dan anggaran yang cukup seperti promosi brand negara- negara jiran. Hanya dengan biaya yang memadai, branding Indonesia bisa lebih joss
lagi!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses