Bisnis Pengelolaan Bandara Akan Semakin Kompetitif10/04/2013
Laporan Khusus Bisnis Pengelolaan Bandara Akan Semakin Kompetitif
Bila dilakukan dengan lebih serius, pengelolaan bandara di tanah air kualitasnya tidak kalah dengan bandara interansional di negara lain. Angkasa Pura Airports (nama baru PT Angkasa Pura I) telah membuktikannya. Bandara Internasional Juanda, satu dari 13 bandara yang dikelola BUMN ini berhasil meraih predikat ASEAN Airport of The Year. Menurut Tommy Soetomo, President Director Angkasa Pura Airports, sudah saatnya kini pengelola bandara lebih berperan sebagai perusahaan services provider yang berorientasi pada customer satisfaction. Paradigma bisnis baru ini kini menjadi roh pengelolaan bandara-bandara Angkasa Pura Airports. Berikut petikan wawancara BUMN Track dengan Tommy Soetomo, President Director Angkasa Pura Airports, seputar trasformasi yang tengah dikembangkan: Apa makna strategis dari award yang diterima Bandara Juanda, Surabaya? Itu menandakan bahwa transformasi perusahaan dari infrastructure provider menjadi service provider, yang kami mulai 2,5 tahun lalu telah memperlihatkan hasil. Artinya upaya yang kami lakukan selama ini untuk meningkatkan kinerja perusahaan sudah berada pada jalur yang benar. Pada awalnya kami mengirim tiga bandara yang dikelola Angkasa Pura Airports untuk mengikuti ajang ASEAN Airport of The Year. Bandara Hasanudin Makasar, Ngurah Rai, Bali dan Juanda, Surabaya. Dan, ternyata dari tiga bandara yang kami kirim itu, Bandara Juanda yang berhasil meraih penghargan sebagai ASEAN Airport of The Year untuk katagori bandara yang melayani penumpang di bawah 20 juta per tahun. Untuk bandara berkapasitas di atas 20 juta penumpang yang menjadi pemenangnya adalah Bandara Changi, Singapura. Semua bandara Angkasa Pura Airports nantinya akan meniru role model? Tidak semua bandara bisa mengikuti Bandara Juanda, karena ada bandara yang memiliki kekurangan yang bersifat laten. Dari bandara-bandara yang kami kelola itu, ada yang statusnya civil enclave airport, artinya berarti bandar udara sipil yang berada dalam kawasan militer. Jadi, kami menemui kendala dalam mengembangkan bandara tersebut menjadi airport city. Bandara–bandara seperti itu, hanya bisa dikelola secara konvensional. Yang dimaksud dengan airport city itu adalah mengembangkan sebuah daerah di mana airport menjadi bagian dari pusat kegiatan di daerah tersebut. Contohnya seperti rencana pembangunan bandara baru di Yogyakarta yang akan dibangun di daerah Kulonprogo. Untuk mewujudkan kemandirian pengelolaan bandara di beberapa tempat kami melakukan land acquisition , seperti yang dilakukan di Banjarmasin. Mengembangakan bandara lewat strategi seperti ini juga terbatas, karena keterbatasan lahan yang ada. Rencananya bandara yang benar-benar baru itu, ya Bandara di Kulonprogo itu. Sementara di Juanda, akan dibangun terminal III dan runway II. Di Bandara Ngurah Rai, Bali saat ini tengah direnovasi. Untuk mengembangkan agar bandara tersebut dapat maksimal agak sulit, karena lahannya terbatas tidak sampai 300 ribu hektar. Namun meski dengan lahan yang terbatas di Ngurah Rai mulai April ini akan dibangun terminal general aviation, yang diperuntukkan bagi private jet. Di sekitarnya nanti akan dibangun juga commercial centre. Ini nantinya akan menjadi terminal private jet pertama di Indonesia. Selain masalah lahan kendala apa lagi yang dihadapi saat ini? Ada Undang Undang baru yakni UU No.1/2009 Tentang Penerbangan. Dalam UU tersebut Akan memperkenankan siapa pun dapat mengelola bandara. Jadi, tidak ada monopoli lagi. Lalu per 16 Januari lalu, divisi Air Traffic Control (ATC) sudah keluar dari Angkasa Pura dan membentuk perusahaan sendiri. Dengan keluarnya ATC dari struktur perusahaan maka pendapatan kami jadi berkurang antara Rp 1 hingga Rp1,2 triliun. Dari dua regulasi baru tersebut dapat disimpulkan bahwa bisnis pengelolaan bandara akan semakin kompetitif. Sementara pertumbuhan pendapatan pengelola bandara kini diukur seberapa besar pendapatan dari sisi non-aero. Selama ini rata-rata pendapatan non-aero Angkasa Pura antara 19% hingga 24% dari total pendapatan. Pendapatan non aero, ini yang akan ditingkatkan menjadi 46% pada tahun ini dan 60% pada 2017. Ini target yang sangat ambisius. Bagaimana upaya meningkatkan pendapatan non-aero? Harus diakui pertumbuhan yang signifikan tidak bisa mengandalkan pertumbuhan penumpang. Atau hanya dengan perluasan area komersial. Bila hanya mengandalkan itu, pertumbuhan kami akan sedikit naik, lalu turun menjadi flat lagi. Agar itu tak terjadi, itu sebabnya kami harus mengcreate pendapatan dari non aero, subsidiary company dan international cooperation. Implementasinya sejak dua tahun lalu kami mendirikan anak perusahaan, kini jumahnya sudah mencapai empat perusahan. Salah satunya bergerak dalam bisnis hotel. Bisnis ini cukup menjanjikan, tahun ini kami mentargetkan dapat mengembangkannya menjadi 1000 kamar. Pada 2015 akan berkembang lagi menjadi 1500 kamar. Angkasa Pura Airports juga memiliki saham sebanyak 10% pada jalan tol di Bali yang kini baru dalam proses pembangunan. Kami sadar keberadaan airport harus ditunjang oleh sarana infrastruktur lainnya, seperti jalan. Bila jalan menuju bandara lancar kinerja bandara juga akan menjadi lebih baik. Setelah satu setengah tahun, nilai saham itu telah meningkat 30%, karena jalan tolnya juga sudah mulai dibangun. Cukup jeli juga melihat peluang bisnis yang ada? Pemikiran saya sederhana saja. Selama ini dari pendapatan non-aero yang bersifat konsesi rata-rata Rp 200 miliar per tahun. Rata-rata konsesinya sekitar 5%. Itu artinya bila 5% saja dapat menghasilkan Rp 200 miliar, maka sebenarnya setiap tahun ada duit Rp 4 triliun yang berseliweran di depan mata kita, tetapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Di antara bandara yang dikelola masih ada empat yang merugi? Iya ada, itu terjadi karena traffic di bandara tersebut masih kecil. Tapi, jangan lupa kami ini BUMN. Sepanjang itu ditugaskan pemerintah, kami harus bisa memerankan diri sebagai pioneering. Seperti Semarang, beban operasionalnya berat. Bandara itu dibangun di atas tanah rawa dengan biaya mencapai Rp 1,2 triliun. Sementara traffic –nya hanya 2 juta penumpang per tahun. Lazimnya untuk bisa mengelola bandara dan menghasilkan untung butuh traffic minimal 3 juta penumpang. Maskapai penerbangan domestik kini banyak memesan pesawat baru, akan berdampak pada kinerja? Iya, secara makro memang kondisi ekonomi Indonesia cukup bagus. Apalagi diprediksikan kalangan kelas Menengah akan terus tumbuh. Pesawat-pesawat baru itu pasti akan membutuhkan lahan parkir baru. Arus penumpang terutama wisatawan domestik juga bakal meningkat. Tentunya itu memang akan mempengaruhi kinerja kami. Untuk itu kualitas pelayanan harus terus kami tingkatkan. Melihat perkembangan pada bisnis penerbangan, memang sudah saatnya infrastruktur seperti bandara terus ditambah atau diperluas.
Laporan Terkait
Laporan Khusus | Opini | Rubik | Marketing Track | Berita | Event | Foto@2013 BUMN Track. All Right ReservedGedung Sarinah Lt 13 JL.MH. Thamrin Jakarta Pusat 10350Telp: 021-3144843 email: redaksi@bumntrack.co.id