Lokomotif Pertumbuhan Sektor Perikanan14/05/2013
Marketing Track Lokomotif Pertumbuhan Sektor Perikanan
Merintis usaha baru, mematok target menjadi pemain utama di perikanan dan kelautan. Tahun ini menargetkan laba minimal di atas 100% RKAP.Teks: Julianto Indonesia adalah negara maritim dengan luas wilayah laut sekitar 5.176.800 km2. Luas wilayah laut Indonesia lebih dari dua setengah kali luas daratannya. Di bentangan laut itu pula tersimpan berbagai sumber kekayaan alam yang melimpah- ruah. Sayangnya, sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang di dunia, secara teknologi industri kelautan Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga. Begitu juga dengan BUMN-nya, di sektor perikanan dan kelautan BUMN belum bisa berbuat banyak. Ironi!Right man in the right place. Mungkin begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan pelantikan Agus Suherman menjadi Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia (Perindo). Per 19 Februari 2013, Agus dititipkan beban untuk menyulap BUMN yang bergerak dalam industri perikanan dan kelautan ini bisa berbuat banyak. Ini memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi tidak juga mustahil. Cita-cita pun sudah ditambatkan. “Saya punya mimpi Perum ini menjelma menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan dan menjadi best player di sektor perikan dan kelautan,” kata Agus. Ucapan pria kelahiran Tulang Bawang , Lampung, ini bukan tanpa dasar. Secara skill, dia punya bekal yang mumpuni di sektor perikanan dan kelautan. Agus menuntaskan Sarjana di Universitas Diponegoro (Undip) Jurusan Perikanan pada tahun 1998, dilanjutkan di tahun 2002 menempuh magister di Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang Teknologi Kelautan. Dia Juga meraih gelar Doktor dalam bidang studi yang sama pada tahun 2007. Sebelum menahkodai Perindo, Agus menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Saya tidak ada upaya membanding-bandingkan, dari dulu prinsip hidup saya menjalankan semua pekerjaan dengan enjoy, yang penting saya kerja,” tuturnya mengenai posisinya yang sekarang. Dia hanya mengakui, secara latar belakang pendidikan dan tantangan lebih tertantang di tempat yang sekarang. “Dulu kita sebagai regulator sekarang kita operator,” kata pria kelahiran 3 Agustus 1976 ini. Sebagai operator, Agus sudah mengamati Perindo selama beberapa bulan terakhir. “Selama ini Perindo hanya menggunakan alat-alat produksi yang sudah tua. Sedangkan untuk fasilitas penunjang meliputi air kita hanya berperan sebagai penyalur saja,” kata Agus menganalisa. Dia menuturkan, sejak tanggal 23 Januari 2013 keluar Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perindo, intinya PP ini memberikan semacam kelonggaran kepada Perindo untuk melakukan usaha di bidang budidaya, pembenihan, pemasaran dan pengelolaan ikan. Dari analisa dan sejalan dengan PP itulah kemudian Agus memutuskan untuk meng-create alat-alat produksi baru. Perindo akan berinvestasi untuk alat produksi, misalnya untuk doking kapal di Pelabuhan Jakarta dan juga Belawan. Untuk Pelayanan air yang biasanya hanya menyalurkan saja melalui pipa, sekarang menyalurkan air punya Perindo sendiri. Untuk alat Couldstorage yang menggunakan teknologi sejak tahun 80-an akan diregenerasi dengan alat baru yang lebih canggih dan efisien. “Hal-hal inilah yang selama ini yang belum dikembangkan oleh Perindo,” ungkapnya. Agus menegaskan, transformasi yang paling mendasar dilakukan adalah di mana dulunya Perindo yang menyewakan peralatan sekarang kita benar-benar pengelola dan pemain dalam bidang perikanan. Perindo akan menerapkan ini di enam wilayah kerjanya. Selain itu, Perindo juga akan mengembangkan bisnis baru di bidang budidaya ikan. Pola yang digunakan oleh Perindo adalah inti plasma dengan masyarakat. Ikan yang dibudidayakan adalah jenis air tawar, Laut dan payau. Sejauh ini, beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat sudah dilakukan penjajakan. Untuk mendukung program ini, Perindo juga sudah melakukan kerjasama dengan pabrik pakan ikan. “Rencananya tiga bulan lagi sudah jalan,” kata Agus. “Setelah itu jalan, kita akan masuk ke pemasaran, setelah itu baru membangun pengelolaan ikan.”Tak tanggung-tanggung, untuk membiayai itu Perindo mengucurkan dana investasi sebesar Rp 120 miliar tahun ini, jauh melampaui RKAP semula yang hanya sebesar Rp 30 miliar. Semua dana itu memanfaatkan pinjaman dari bank. Cerita perindo kesulitan mengakses jasa perbankan dulu sudah tidak ada lagi. “Sekarang ini kita punya kesempatan ke sana (mengakses perbankan) karena logikanya pengusaha di sekitar pelabuhan yang kita kelola saja minta rekomendasi dari Perindo, kenapa tidak kita sekalian yang pinjam uang di bank,” ugkap Agus. Dengan investasi yang ditanam itu, Agus haqul yakin bisa mendongkrak laba perusahaan. Tahun lalu Perindo mencatatkan laba sebesar Rp 2,7 miliar sedangkan tahun ini berdasarkan RKAP dipatok Rp 6,3 miliar. “Kalau semua berjalan sesuai rencana, target laba tahun ini minimal bisa melampaui 100% dari target RKAP,” kata Agus. Beban dipundak Agus memang berat, jalan menuju pemain utama di bidang perikanan memang masih panjang. “Kita melakukan efisiensi, menerapkan budaya kerja keras. Hasilnya kita lihat saja nanti,” ucap Agus sambil tersenyum. “Saya menikmati semua pekerjaan ini, dengan begitu semua terasa indah.” Ini memang sejalan dengan filosofinya dalam bekerja, Jangan pernah merasa beban terhadap suatu persoalan, kerjakan saja!Ketua Bidang Pengembangan Potensi Unggulan Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Tengah, ini mungkin tidak terbebani dengan pekerjaannya. Tapi mungkin, karena sibuk dia akan mengurangi hobinya blusukan ke desa-desa. Hobi jalan-jalan ke desa ini sudah lama dilakukan Agus. Dia mengaku menemukan sensasi yang luar biasa ketika bercengkrama dengan keramahan masyarakat desa, berbincang-bincang minum teh dan makan singkong. “Mungkin karena dasarnya saya orang kampong ya,” celetuknya sambil tertawa. Waktu jalan-jalan di desa itu teryata Agus juga sekaligus melihat potensi apa saja yang dimiliki oleh desa tersebut. Setelah dia melihat ada potensi yang bisa digali lebih jauh, dikerjakan dan bermanfaat bagi masyarakat desa. Walau dia mengaku terkadang waktu ke desa sekadar plesiran dan refreshing belaka. “Cuma lihat orang main bola di kampung dan terkadang juga ikut main,” pungkasnya.
Laporan Terkait
Laporan Khusus | Opini | Rubik | Marketing Track | Berita | Event | Foto@2013 BUMN Track. All Right ReservedGedung Sarinah Lt 13 JL.MH. Thamrin Jakarta Pusat 10350Telp: 021-3144843 email: redaksi@bumntrack.co.id