Wednesday 13th December 2017

BUMN MEMBANGUN DESA WISATA

By: On:

ahBarbara Russell, penulis Kanada yang sudah tinggal di Amerika Serikat lebih 20 tahun, memutuskan untuk tinggal di Paiton, Jawa Timur. Dari desa kecil nan asri dengan persawahan dan perbukitan, Barbara mengajar secara online untuk mahasiswanya di University of Maryland. Sesekali ia menulis dan menyunting karya-karya ilmiah.
Barbara betah tinggal bersama warga desa yang guyub di tengah keterbatasan dan kekurangannya. Ia pun menulis artikel di The Jakarta Post 19 September 2016: “Why American tourists should come to Indonesia” yang menganjurkan agar orang Amerika datang dan tinggal di desa di Indonesia seperti dirinya.

Ada sekitar 75 juta warga AS yang bepergian ke luar negeri setiap tahunnya. Turis AS merupakan yang terbesar nomor dua setelah China dalam pengeluaran uang saat wisata. Pada tahun 2015, misalnya, turis AS mengeluarkan USD 112 triliun saat berkunjung ke luar negeri. Dari 75 juta turis AS hanya 7 persen yang berkunjung ke Asia. Dari 5 juta orang AS yang ke Asia,
hanya sebagian kecil saja yang ke Indonesia. Itupun tujuan utamanya ke Bali.
Padahal, Indonesia memiliki jenis wisata menarik untuk ditawarkan yang dinamakan Community Based Tourism (CBT). CBT adalah wisata dimana warga mengundang turis untuk datang ke desa dengan menyediakan tempat menginap semacam homestay. Turis diajak menikmati panorama lokal, pagelaran budaya tradisional, ritual keagamaan, pesta rakyat dan kearifan lokal. Intinya, dalam CBT turis-turis ditawarkan untuk merasakan bagaimana hidup bersama warga di padesaan . Dan Indonesia berlimpah ruah untuk jenis wisata semacam itu. Bacalah kesaksian Barbara. Buat orang Amerika atau Kanada seperti dia, pengalaman ke desa-desa di Indonesia, adalah sesuatu yang menarik karena sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari di negerinya. Barbara dengan sukacita menceritakan bagaimana hari-harinya tinggal di Paiton, Jawa Timur.

Setiap hari Minggu pagi ia keliling desa menyusuri sawah dan bukit. Jika ia berjalan di kawasan tempat tinggalnya di Amerika Serikat saat fajar menyingsing, ia tidak melihat begitu banyak orang di jalan. Orang Amerika masih berada di rumah-rumah ber-AC atau di dalam mobil saat terpaksa harus keluar rumah. Kehidupan sehari- harinya sangat pribadi dan masing-masing. Tapi di pagi buta di Indonesia, sangat berbeda. Desa-desa, jalan setapak di punggung bukit atau di pinggir kali, terasa sudah hidup dengan orang-orang yang lalu lalang.
Pagi-pagi sekali semua warga desa ke luar rumah. Ada yang menyapu halaman, pergi ke sumur untuk mengambil air, membuka warung, memotong kayu bakar, atau memandikan ternak. Saat azan subuh berkumandang, mereka berkumpul di mesjid untuk shalat berjamaah.
Bunyi-bunyian khas yang terdengar di desa selain cericit burung dan lenguhan sapi atau embekan kambing adalah gelak tawa, suara orang mengobrol, musik gending gamelan, atau lagu dangdut dari radio komunitas. Namun, yang mengesankan
Barbara adalah keramahan dan sapaan dari warga desa: “Hey, Mister” (meski dia itu wanita) lalu warga minta “Photo, photo” kalau ia kelihatan membawa kamera. CBT yang dinikmati Barbara di Paiton adalah jenis wisata baru yang sedang nge- trend dan digemari turis Eropa, Australia dan Amerika Utara. Ini bukan jenis wisata buat turis kaya raya yang memuja pelayanan mewah kelas satu dan akomoidasi hotel bintang 5 + diamond. Tapi jenis wisata bagi turis yang ingin merasakan pengalaman hidup di negeri asing secara langsung.

Mereka mau hidup bersama orang kampung dan tinggal di rumah mereka di padesaan yang tidak memiliki fasilitas wisata sempurna, resort mewah, dan panggung atraksi yang serba wah. Trend baru wisata ini sudah diantisipasi oleh Kementerian Pariwisata dan Kementerian BUMN melalui program Sinergi BUMN Membangun Desa Wisata. Pemerintah menargetkan kunjungan turis asing pada 2019 sebanyak 20 juta.

Untuk program CBT, pemerintah berencana membangun 100.000 homestay desa wisata. Sebagai inisiator, Kementerian Pariwisata membuat panduan bagaimana desa wisata itu harus dibangun dan dikelola. Akomodasi dan fasilitas turis perlu didesain memenuhi persyaratan standar pengunjung asing dari luar negeri. Turis backpacker mungkin bisa menerima akomodasi tanpa AC, termasuk kamar mandi dan toilet gaya Indonesia. Tapi banyak turis, terutama yang sudah sepuh, tak bisa buang hajat di WC jongkok. Jadi menyediakan akomodasi dengan layanan
dan fasilitas lengkap sebuah keharusan. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana membuat desa wisata itu bisa diakses
secara online.
Desa wisata harus memiliki akses telepon (yang mungkin diperlukan untuk bantuan medik) dan akses internet (yang membuat turis tetap bisa berhubungan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Skype, dll).
Untuk mempromosikan pariwisata Indonesia, termasuk CBT, perlu segera didirikan Tourist Information Center (TIC)
di setiap Bandara Internasional di Tanah Air. Pemerintah perlu membuat alat baru digital yang disebut Travel X-Change Indonesia (TXI). BUMN-BUMN pariwisata membuat portal Explore Indonesia (Xplorin). Setiap desa wisata di-support pembangunannya oleh satu BUMN dalam program “One
BUMN One Village”. Itu baru namanya Wonderful Indonesia.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses