Tuesday 26th September 2017

DESA WISATA MENJADI DESTINASI BARU

By: On:

wawancaraKementerian BUMN di akhir tahun 2016 lalu, menginisiasi sebuah program baru yaitu pengembangan desa wisata. Sebagai langkah awal adalah

pengembangan desa wisata di sekitar Borobudur Jateng dan Tabanan Bali. BUMN-BUMN kemudian terlibat pada program ini. Bagaimana latar belakang dan tujuan program desa wisata ini, Majalah BUMN Track mewawancarai Edwin Hidayat Abdullah, Deputi Kementerian BUMN, Bidang Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata.

Kementerian BUMN menginisiasi pengembangan desa wisata di Borobudur dan Tabanan. Apa yang menjadi latar belakang program ini?

Pariwisata kalau kita lihat dari teorinya, bisa berkembang bila mempunyai 3 hal. Pertama adalah destinasi, apakah itu keindahan alam, bangunan-bangunan bersejarah, dll. Kedua, Aksesibilitas. Apakah itu dalam bentuk penerbangan, jalan darat maupun jalan laut. Ketiga Amenities atau fasilitas. Ini adalah kesiapan infrastruktur di daerah tersebut, dari hotel, rumah sakit, pusat hiburan. Nah konsep pariwisata ini terintegrasi ketiganya.

Namun pada dasarnya pariwisata ini mengundang orang datang. Kalau mengundang orang datang, tentu mesti ada yang menerima. Bagaimana kita bisa mengundang orang untuk datang, tapi masyarakatnya tidak siap. Atau tidak mendapatkan benefit atau manfaat secara langsung dari wisatawan yang datang. Ini membuat masyarakat menjadi penonton.

Untuk membuat industri pariwisata bermanfaat bagi semua, tentu kita mesti sinergi antara masyarakat , investor, pemerintah daerah. Nah yang kita coba ini namanya community based tourism. Jadi kita mengembangkan satu destinasi, tidak hanya memikirkan infrastruktur hotel atau jalan menuju tempat tersebut, tetapi harus mempersiapkan masyarakatnya juga.

Apa kemudian yang dilakukan dalam pengembangan desa wisata?

Kita membangun desa wisata dengan dilengkapi Balkondes dan Homestay. Balkondes adalah balai ekonomi desa atau center activity masyarakat untuk mendukung pariwisata. Balkondes dikonsepkan oleh BUMN PT TWC dan Patra Jasa, di mana ada berbagai kegiatan masyarakat yang mendukung pariwisata. Ada tempat semacam warung atau restoran untuk makan, kemudian ada stage atau panggung untuk pertunjukan, dan juga shopping area untuk promosi potensi lokal

Balkondes-balkondes ini disponsori oleh BUMN-BUMN dan dikoneksikan dengan main attraction yang ada di dekat situ, misalnya Borobudur. Jadi orang datang ke Borobudur tidak hanya melihat candinya saja, tetapi kemudian dapat melihat suasana desa. Bahkan kalau mereka ingin menginap, kita siapkan homestay-nya. Aktivitas masyarakat desa pun bisa dinikmati, apakah itu kerajinan, pertanian.

Apa manfaat program ini bagi industri pariwisata ?

Secara tidak langsung kita membuat destinasi baru. Misalnya ke Borobudur, biasanya orang cukup satu atau setengah hari saja, karena hanya mengunjungi candi saja. Sekarang wisatawan bisa melihat tidak hanya candi saja, tetapi alam yang indah juga. Misalnya kalau kita ke Punthuk Setumbu, satu lokasi di sekitar Borobudur yang indah untuk menikmati matahari terbit. Saat melihat Borobudur seolah-olah kita berada di atas awan. Namun untuk mencapai Punthuk Setumbu orang mesti jalan kaki pukul 2 atau 3 pagi. Sekarang tidak perlu susah, di sana sudah ada homestay, sehingga orang cukup jalan 1-2 kilometer untuk mencapai lokasi. Di daerah Borobudur kita akan bikin 20 desa wisata. Katakanlah setiap desa ada 60 kamar homestay, maka akan ada 1.200 kamar. Dengan ini volume atau kapasitas akan naik, akses wisata berkembang. Selanjutnya waktu tinggal akan lebih lama. Bila sebelumnya orang ke Borobudur hanya setengah hari, sekarang bisa 2-3 hari karena menginap. Otomatis spending atau belanjanya
akan naik juga. Orang mesti beli makan siang, malam. Ada produk kerajinan yang terbeli, dan seterusnya. Siapa pengelola Balkondes dan homstay ? Ya masyarakat desa itu sendiri. Lewat BUMDes atau koperasi. BUMDes- BUMDes inilah yang kerjasama dengan BUMN-BUMN.

Apa yang kemudian menjadi tugas BUMN-BUMN dalam program desa wisata ini?

Tugas BUMN adalah memberikan bantuan supervisi, pelatihan, marketing dan lain-lainnya. Ini kita kawal, bukan bangun, terus kita lepas. Kita dampingi mereka sampai bisa mandiri. Waktunya maksimal 5 tahun. Tentu di Borobudur yang leading adalah PT TWC (Taman Wisata Candi), tetapi tidak sendiri. Seperti pendampingan di homestay , dibantu oleh Patra Jasa, ITDC dan Hotel Indonesia Natour. Untuk pemasarannya kita bantu juga secara online.
Ada juga peran BUMN-BUMN lain seperti Semen Indonesia, mereka sebagai sponsor di desa Candirejo. Atau BRI di desa Tanjungsari. Mereka
yang mendanai pembangunan fasilitas Balkondes. Namun untuk manajemen, pendampingan dilakukan oleh BUMN- BUMN Pariwisata.
Kita tidak hanya melakukan pembangunan fisik tapi juga harus melakukan pembangunan sosial. Jadi bangun Balkondes tidak hanya sekedar bangun, tetapi juga melakukan social innovation. Bagaimana membuat masyarakat ini melakukan inovasi sosial, dengan adanya pariwisata, dia juga termotivasi untuk melakukan pelestarian lingkungannya sendiri. Tidak semena- mena lagi. Pertanian akhirnya pun menjadi obyek wisata, sehingga menjadi terlindungi. Untuk melakukan pembangunan sosial ini, kita mesti turun, mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa. Bahkan saya juga ikutan turun, bertemu dengan masyarakat desa.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses