Wednesday 17th January 2018

EKONOMI PANCASILA

By: On:

Oleh Akhmad Kusaeni

Pancasila bangkit kembali. Semua orang jadi peduli kepada ideologi negara itu. Teriakan “Saya Indonesia, Saya Pancasila” ramai di media sosial menjelang peringatan ke-72 tahun Kemerdekaan RI. Bahkan Presiden Joko Widodo melantik Pengarah dan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), yang dipimpin oleh Yudi Latief.

Dibalik hingar bingar kebangkitan Pancasila itu, ternyata tidak menyentuh substansi yang mendasar seperti wacana sistim ekonomi Pancasila. Tidak ada diskusi, fokus pemberitaan, trending topic di media sosial, mengenai bagaimana Pancasila itu bisa diimplementasikan dalam sistim dan praktek perekonomian Indonesia.

Dulu, Prof Mubyarto sering bicara soal Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang paling tepat bagi bangsa Indonesia. Prof Mubyarto banyak melakukan kajian yang mendalam terhadap kelebihan dari sistem ekonomi Pancasila.

Misalnya saja, dalam sistim ekonomi Pancasila perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak dikuasai oleh negara. Lalu, bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Dalam sistim ekonomi Pancasila, hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Kelebihan tersebut tidak ditemukan dalam sistim ekonomi neoliberalisme. Mari kita periksa kelemahan-kelemahan neoliberalisme yang selama ini diagung-agungkan sebagai satu-satunya jalan mendongkrat pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat.

Salah satu pilar penyangga liberalisme ekonomi adalah pasar bebas. Konsepnya: Biarkan si “invicible hand” mengatur segalanya berdasar hukum “supply and demand“.

Kredo pasar bebas adalah pasar yang tidak diatur dan diintervensi adalah cara terbaik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hanya melalui pasar bebas pertumbuhan ekonomi bisa dicapai.

Ekonom-ekonom pembela pasar bebas sangat percaya bahwa “The best government is the least government“. Ekonom tersebut, yang Indonesia dikenal sebagai Mafia Berkeley, sering berguyon bahwa pertumbuhan ekonomi paling cepat di malam hari, ketika pemerintah sedang tidur.

Ternyata pasar bebas itu kini tidak berlaku lagi di negeri yang menjadi pusaran dinamonya. Justeru pertumbuhan ekonomi jadi anjlog dengan pasar yang kelewat bebas. Justeru pemerintahan Donald Trump yang tidak bisa tidur, sibuk melakukan intervensi dan berusaha membelenggu si “invisible hand“.

Amerika Serikat menarik diri dari sistim perdagangan bebas dan bersikap proteksionis. Trump mengeluarkan kebijakan penalti pajak bagi perusahaan yang mengimpor lebih banyak ketimbang ekspor. Kebijakan ini tidak hanya dikecam oleh berbagai lembaga internasional, tapi juga menimbulkan perdebatan sengit di kalangan perusahaan besar di AS.

Hypermart seperti Walmart atau Target, misalnya, kelabakan karena sebagian besar produknya impor dari Cina dan negara-negara berkembang. Mereka akan dikenakan pajak tinggi dibandingkan General Electric atau Boeing yang sebagian besar produknya diekspor. Dua perusahan eksportir ini bakal menerima potongan pajak yang sangat besar.

Kebijakan proteksionisme AS dinila berpotensi menimbulkan kekacauan dalam perdagangan dunia. Sementara Trump tidak percaya lagi bahwa tangan-tangan ajaib bisa mengoreksi sendiri krisis keuangan yang kini melanda AS.

Ekonomi dunia yang “booming” ternyata juga membuat paham liberalisme melemah. China yang dianggap sebagai negara yang proteksionis dan tidak liberal, ternyata bisa tumbuh ekonominya secara mencengangkan. Prof. Kishore Mahbubani dari Singapura meramalkan ekonomi China akan melewati AS dalam tempo kurang dari sepuluh tahun lagi.

Amerika Serikat telah menyimpang dari pakemnya sendiri. Jika AS saja sudah tidak percaya terhadap kredonya sendiri, apalagi yang lain. Mungkin sudah saatnya dunia, seperti dikumandangkan oleh ekonom Samuelson, untuk mengucapkan “Selamat Tinggal Perdagangan Bebas”. Bye-bye Neoliberalisme.

Dan kita di Indonesia, dalam suasana Merah Putih peringatan Kemerdekaan RI, sudah sepantasnya mengucapkan dengan Semangat 45, “Selamat Datang Sistim Ekonomi Pancasila”. Saya Indonesia. Saya Ekonomi Pancasila!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses