Tuesday 25th April 2017

Eskavator Merah Putih Bergoyang

By: On:

Teknologi militer yang dimiliki Pindad terbukti bisa dual use. Escava200 alat berat made in Bandung ini buktinya.

 

Bukan cuma Goyang Dumang Cita Citata yang bisa menarik hati. Jika anda datang ke Markas Pindad awal Juli kemarin, anda pasti ikut bergoyang. Di jalan Gatot Subroto No 1 Bandung itu produk kendaraan Pindad beratraksi di tengah lapangan. Mulai dari Panser Anoa seri 4X4, seri 6X6, hingga Anoa Ambulance. Ada juga tank jenis SBS hingga yang berjenis Amphibi. Namun, yang paling memikat dari semua kendaraan tempur itu adalah Escava200.

 

Kendaraan roda rantai ini bukan tank, tetapi eskavator atau alat berat. Escava200 berwarna merah putih ini kendaraan komersil yang sudah proven di laboratorium Pindad. Ini sebenarnya yang dinantikan dari akhir tahun lalu atas permintaan Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA).

 

Teknologi Pindad yang bisa memproduksi kendaraan tempur rantai atau tank sangat potensial untuk memproduksi eskavator. Ini menunjukkan bahwa teknologi militer yang dimiliki Pindad dual use dengan produk komersil. Tantangan dua kementerian itu selesai dalam setengah tahun.

 

Komitmen Penyerapan Nasional

Alat berat made in Pindad itu beratraksi di tengah lapangan, menirukan pekerjaan pengerukan pasir hingga jengking bertumpu pada belalai eskavator. Tidak ada macet, semua berjalan mulus. Peluncuran Escava200 disaksikan oleh Menteri Rini Soemarno yang didampingi segenap direksi BUMN Karya.

 

“Alhamdulillah eskavator ini jalan Bu,” ujar Direktur Utama Pindad Silmy Karim dalam pembukaannya.

 

Kompetensi Pindad di hidrolik sangat memungkinkan untuk memproduksi eskavator. Malah, ujar Silmy, dibandingkan membuat Tank bagi Pindad membuat eskavator lebih mudah. Jika dibandingkan dengan produsen eskavator dunia, Pindad membutuhkan waktu yang sangat cepat.

 

“Kobelco atau Caterpillar perlu puluhan tahun untuk bisa memproduksi,” ujarnya.

 

Kelemahannya produk Pindad mungkin dalam estetika produk. Potensi pasar eskavator domestik pada tahun 2012 sebanyak 7.940 unit. Jika Pindad mengambil 10% saja, berarti setiap tahun harus memproduksi 740 unit.

 

Menteri Rini sangat mendukung pengembangan Pindad. Bahkan di tahap awal ini beberapa perusahaan Karya diwajibkan menyerap produknya. “Untuk penyerapan pertama, kami wajibkan BUMN Karya membelinya. Saat ini BUMN Karya yang diwajibkan membeli Escava200 antara lain PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Hutama Karya, PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, dan PT Waskita Karya,” jelas dia di Bandung.

 

Di tahun mendatang Menteri Rini berharap jumlah BUMN yang harus membeli Escava200 akan ditambah. Di luar BUMN Karya, Rini akan mewajibkannya juga kepada perusahaan pertambangan. Pertimbangan BUMN Karya sebagai konsumen awal adalah karena perusahaan-perusahaan itu tengah menggarap proyek nasional seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, dan jembatan penyeberangan.

 

Rini cuma minta sama Pindad, supaya Pindad benar-benar bisa memenuhi target 100 unit pembuatan di tahun ini. “O, iya. SNI juga jangan lama-lama,” tambahnya.

 

Bukan cuma Pindad yang ia genjot, produsen baja nasional Krakatau Steel (KS) juga kena sentil Rini. Dalam konteks ini, KS diharapkan turut mendukung pengembangan di Pindad.

 

Ada Harga Ada Rupa

Rini benar-benar memastikan Pindad bisa terus mengembangkan produk anyarnya ini. Ini penting juga bagi Pindad, sebab kata Rini, kalau Pindad hanya bertahan pada industri pertahanan, kemampuan finansialnya bisa sangat rendah karena pembelian produk pertahanan terbatas.

 

Makanya, untuk membuktikan kapasitas Pindad dalam memproduksi Eskavator pada 17 Agustus depan Pindad ditarget bisa memproduksi 10 unit. Adapun satu shift kapasitas produksinya sebanyak 100 unit yang harus dikerjakan dalam satu tahun.

 

Rini memang berdecak kagum dengan Pindad, perusahaan yang dinasionalisasi sejak Kemerdekaan ini telah hidup sepanjang 207 tahun. Pindad didirikan pada tahun 1808 semasa pemerintahan kolonial. Dengan usia yang sangat panjang itu juga, Pindad memiliki mesin produksi usia tua namun masih bisa bekerja optimal. Bahkan, Pindad terus meningkatkan kapasitas produksinya.

 

Tahun depan, Escava200 ini ditargetkan bisa produksi dengan skala dua shift. “Kami akan terus melakukan pengembangan di sana-sini di samping meningkatkan jumlah produksi,” janji Silmy.

 

Investasi produksi alat berat ini menggunakan dana internal yang hingga akhir tahun ditaksir sebesar Rp 50 miliar. “Paling kami membutuhkan modal kerja saja,” ujar dia.

 

Diproduksinya eskavator bukan berarti Pindad tidak fokus pada industri pertahanan. Tetapi ketika sebuah perusahaan masuk pada tingkatan teknologi, bisa ada penemuan-penemuan baru. Ini berarti sebuah prospek bagi Indonesia ke depan. Misalnya crane, ternyata Pindad sudah memproduksinya sejak puluhan tahun lalu.

 

“Pengembangan Pindad ke depan akan bersifat strategis yang selama ini masih impor. Sehingga, kami berharap bisa membantu negara dalam menghemat devisa,” terang Silmy.

 

Pindad yang memiliki 4.000 karyawan ini juga membandrol eskavator merah putih ini di kisaran US$90.000-US$110.000 per unit. Angka ini bisa dibilang cukup kompetitif terhadap produk yang berkembang di pasar. Soal service after sales, Silmy menjamin Pindad akan memberikan yang terbaik.

 

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses