Monday 27th March 2017

HOLDING BUMN PANGAN MEMPERPENDEK RANTAI PERDAGANGAN

By: On:

1Rencana pembentukan Holding BUMN Pangan adalah salah satu dari 6 holding BUMN yang ditargetkan selesai di akhir tahun 2016. Kelima holding yang lain (energi, tambang, jasa keuangan, perumahan, infrastruktur) sudah dimulai persiapan sejak April 2016, sementara Holding BUMN Pangan baru diputuskan pada Agustus 2016, namun ditargetkan harus selesai bersamaan yaitu akhir tahun 2016.
Bagaimana perkembangan dan tujuan dari pembentukan Holding BUMN Pangan ini, maka majalah BUMN Track melakukan wawancara dengan Bapak Wahyu Kuncoro, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi, Kementerian BUMN.

Apa yang menjadi latar belakang dan tujuan pembentukan holding BUMN Pangan ini?
Ini dasarnya dari ratas (rapat terbatas) kabinet, kalau tidak salah pada 12 Agustus 2016. Rencana holding BUMN pangan ini adalah holding yang terakhir diputuskan pemerintah, setelah 5 holding yang lain yang terlebih dulu diputuskan pada awal tahun 2016. Pemerintah memutuskan perlunya Holding BUMN Pangan yang melibatkan 8 BUMN dengan harapan dan tujuan untuk: menjaga stabilitas pangan, kualitas pangan, ketersediaan pangan dan terakhir adalah keterjangkauan harga. Maka itulah bergabung 8 BUMN dalam satu holding dengan perusahaan induk Bulog dan anak-anak perusahaan Sang Hyang Sri, Pertani, BGR, Berdikari, Perindo, Perinus, PPI. Kalau dikaitkan dengan program pemerintah tercapainya kedaulatan pangan, di mana peran holding BUMN Pangan ini?

Dalam rangka kedaulatan pangan, Holding BUMN Pangan ini akan saling mendukung. Misalnya bicara tentang gula, banyak BUMN yang terlibat, seperti PTP, RNI dll. Nah nanti akan dijadikan satu pintu. Misalnya untuk gula, sudah disepakati semua BUMN produsen gula menjualnya ke Bulog. Dan Bulog hanya boleh menjual gula pada harga tertentu. Misalnya di tahun 2015, Bulog menjual gula di retail adalah Rp 12.500,- di semua outlet Rumah Pangan. Harga dari Bulog ini tetap, misalnya daging dipatok 80.000/ kg, gula 12.500/kg maka di semua tempat sama.
Jadi untuk bisnisnya, jangan sampai di sektor pangan ini terjadi tumpang tindih. Misalnya untuk perbenihan itu urusannya SHS dan Pertani melakukan bisnis saprotan (sarana produksi pertanian) dan pembelian beras dengan skema mensupport induknya Bulog. Contoh lain misalnya daging, sudah disepakati ini hanya ditangani Berdikari. Permulaan ini adalah daging sapi, nanti ke depannya daging ayam. Tidak ada lagi tumpang tindih, atau beberapa BUMN yang mengerjakan hal yang sama. Dan semua anggota holding ini akan menjadi besar.
Atau BGR sebagai BUMN logistik akan mensupport BUMN yang lain. Misal Bulog itu ada biaya logistik per tahun sekitar 1,2 triliun. Ada sekitar 500 milyarnya ditangani oleh swasta. Kalau ada sesama BUMN bisa saling support logistik ini maka akan saling menguntungkan.
Bagaimana bentuk kerjasama BUMN dan intervensi ke produksi pertanian?Kita ambil contoh di Brebes yang mempunyai potensi bawang merah. Bagaimana peran dari BUMN kita? Maka SHS sudah sepakat untuk menyediakan bibit bawang, mereka punya semacam demplot. Terus terkait dengan kebutuhan pupuk, kita bisa ajak Pupuk Indonesia untuk dukung kebutuhan pupuk petani bawang. Begitu panen, maka Bulog sudah siap membeli. Jadi memang tidak selalu secara langsung dalam satu grup, tetapi kita bisa saling support.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses