Saturday 24th June 2017

IPC Fokus Modernisasi Pelabuhan

By: On:

ipcMelewati tahun 2015 dengan kondisi perekonomian yang kurang stabil, IPC berhasil melaluinya dengan cukup baik. Salah satunya, dengan menerbitkan global bond atau surat hutang sebesar USD 1,1 miliar yang akan jatuh tempo pada tahun 2025 dan USD 500 juta yang akan jatuh tempo pada 2045. Transaksi yang dirilis pada Mei 2015 itu merupakan bukti sentiment positif investor terhadap Indonesia dan dukungan penuh bagi sektor prioritas negara, terutama pengembangan infrastruktur dan investasi jangka panjang yang dipandang strategis.
Ketidakstabilan perekonomian di 2015 juga tergambar dengan melemahnya nilai tukar rupiah serta penurunan harga komoditas dunia. Meski begitu, perusahaan yang telah memperoleh kesepakatan sister ports dengan
Shenzhen Port Authority (China) dan Port of Townsville Ltd (Australia) ini berhasil mencatat peningkatan pada kunjungan kapal non regular 17% menjadi sebesar 83,3 juta GT seiring dengan modernisasi fasilitas kepelabuhanan maupun pemisahan penanganan barang di terminal-terminal pelabuhan. Secara keseluruhan, IPC menangani 43,8 ribu kapal atau 201,7 juta GT di luar terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS).
Arus barang yang ditangani pelabuhan sebesar 85,7 juta ton dengan peningkatan hampir 90% pada kargo ternak. Sementara petikemas yang ditangani IPC sebesar 5,9 jutaTEUs yang lebih dari 80% dilayani di tiga terminal petikemas di Jakarta.
Langkah Manajemen Baru
Permulaan 2016 diwarnai dengan semangat kolaborasi bersama para pemangku kepentingan, termask Kementerian Perhubungan dan Otoritas Pelabuhan selaku regulator kepelabuhanan. Semangat ini diperkuat oleh aura positif yang terpancar dari manajemen baru IPC yang diharapkan dapat melakukan pembenahan dan pembaharuan, serta mampu membawa penyegaran bagi seluruh lini manajemen IPC.
Direktur Utama IPC Elvyn G Massasya mengatakan, target terdekat dari manajemen baru IPC adalah melakukan konsolidasi internal sekaligus membanguin kembali harapan insan perusahaan dalam culture yang lebih profesional dan memodernisasi pelabuhan-pelabuhan eksisting. Manajemen juga menyatukan semangat untuk melanjutkan proyek-proyek investasi yang disesuaikan dengan dinamika kondisi industri dalam kerangka konektivitas jaringan logistik nasional dan internasional, serta melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan sinkronisasi dan sinergitas antar stakeholders terkait.
Tak ingin kehilangan peluang tahun ini, perusahaan juga tengah mengambil langkah-langkah dalam peningkatan pendapatan, peningkatan efektivitas biaya dan investasi untuk pengembangan pelabuhan pada lokasi eksisteing dan baru, maupun usaha-usaha untuk peningkatan kapabilitas perusahaan secara komprehensif. “Secara konsisten, IPC terus berupaya mengembangkan dan meningkatkan berbagai aspek untuk secara bertahap menghadirkan pelayanan yang cepat, mudah di akses, fasilitas fisik yang memadai, dan ramah terhadap stakeholders,” ungkap Elvyn.
Upaya tersebut di antaranya melalui pengembangan proyek terminal kalibaru atau newpriok. Terminal ini didukung fasilitas canggih dan dapat dikembangkan secara bertahap dalam melayani kapal-kapal petikemas di atas 18.000 TEUs.
“Hal ini diharapkan dapat mendorong efektivitas biaya logistik di Indonesia dengan efisiensi dari skala ekonomi kapal-kapal besar tersebut,” ujarnya. Ke depan, IPC akan terus berkomitmen pada sisi penawaran kapasitas kepelabuhanan dengan menjalankan berbagai proyek investasi besar yang menyesuaikan dengan proyeksi permintaan pasar dan kondisi perusahaan. Adapun empat proyek yang telah diinisiasi oleh IPC berupa Inland Waterways (Cikarang-Bekasi-Laut Jawa atau CBL), Pelabuhan Sorong, Pelabuhan Kalibaru, dan Pelabuhan Kijing.
Beroperasi Agustus
Elvyn Menegaskan, pelabuhan Kalibaru sebagai salah satu ikon kebanggan IPC akan mulai beroperasi secara penuh pada Agustus mendatang. Keberadaan pelabuhan ini dapat mulai digunakan untuk mendukung kegiatan ekspor dan impor di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah ada sebelumnya.
Di bawah kepemimpinan direksi baru, Pelabuhan Kalibaru akan diintegrasikan dengan sistem kepelabuhan yang jauh lebih modern. “IPC juga akan melakukan revitalisasi peralatan di seluruh anak cabang pelabuhan yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia bagian Barat,” ungkapnya.
Dikatakan Elvyn, saat ini pihaknya sedang dalam tahap finalisasi pembangunan, salah satunya melakukan pemasangan sistem dan peralatan yang modern dengan sistem kepabeanan, inaport, dan membuat Pelabuhan Kalibaru menjadi pelabuhan smart terminal.
IPC juga akan melakukan restrukturisasi pada 13 anak perusahaan meliputi PT Pelabuhan Tanjung Priok, PT Jakarta International Container Terminal, PT Multi Terminal Indonesia, PT Indonesia Kendaraan Terminal, KSO Terminal Peti Kemas Koja, PT Jasa Armada Indonesia, PT‎ Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia, PT IPC Terminal Petikemas, PT Energi Pelabuhan Indonesia, PT Pengembang Pelabuhan Indonesia, PT Pendidikan Maritim Logistik Indonesia, PT Integrasi Logistik Cipta Solusi, dan PT IPC Terminal Petikemas.
Dalam melakukan restrukturisasi, manajemen akan mengubah pola dan konsep seluruh‎ anak perusahaan dari pola kompetisi menjadi pola kompetensi dan spesialisasi pada bidangnya masing-masing.
Menurut Elvyn, sebanyak 12 anak cabang pelabuhan IPC akan didorong menjadi full branch dan 16 anak perusahaan‎ akan dijadikan sebagai pendukung atau operator dari terminal pelabuhan tersebut. “Untuk Kalibaru sudah siap operasional beberapa bulan ke depan, namun NPC I dan II itu akan diselesaikan secara bertahap. Semua proses pembangunan dan kegiatan itu akan kami tekankan pada empat kriteria, yakni expertise, exprerience, modal, dan capability,” pungkasnya.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses