Wednesday 17th January 2018

MEMBANGUN HOMESTAY DI 10 DESTINASI

By: On:

pariwisataJika Kementerian BUMN dan BUMN Pariwisata sedang giat mengembangkan desa wisata, pada saat yang sama Kementerian Pariwisata juga mengembangkan desa-desa wisata dan homestay. Apa kemudian beda desa wisata di antara 2 Kementerian ini?
Secara konsep desa wisata, tidak jauh berbeda, yaitu mengembangkan kemampuan desa sehingga mempunyai perputaran ekonomi yang salah satunya digerakkan oleh sektor pariwisata. Kemudian yang menjadi pembeda adalah titik fokus dalam pengembangan desa wisata. Kementerian BUMN mengembangkan desa-desa wisata yang berdekatan dengan destinasi yang dikelola BUMN. Contohnya Borobudur, dikembangkan desa wisata di sekitarnya, maka diharapkan ada peningkatan volume, lama waktu tinggal dan belanja dari wisatawan. Pada akhirnya masyarakat sekitar destinasi wisata mendapatkan keuntungan, tidak lagi menjadi penonton, namun juga memberikan nilai lebih bagi BUMN Pariwisata di situ.
Sementara Kementerian Pariwisata juga mengembangkan desa-desa wisata dan homestay, namun prioritas di daerah-daerah yang menjadi 10
Destinasi Unggulan Indonesia. Ke sepuluh destinasi unggulan tersebut adalah Danau Toba-Sumatera Utara, Tanjung Kelayang-Belitung, Tanjung Lesung- Banten, Kepulauan Seribu – Jakarta, Borobudur- Jateng, Bromo-Jawa Timur, Mandalika-Lombok, Labuhan Bajo-NTT, Wakatobi-Sultra dan Morotai- Maluku Utara. Maka pada umumnya desa-desa wisata yang dikembangkan Kementerian Pariwisata berada
di sekitar 10 destinasi tersebut. Meskipun kementerian Pariwisata tidak menutup kemungkinan membangun desa wisata di luar wilayah 10 destinasi tersebut.
Frans Teguh, Asisten Deputi Pengembangan Infratruktur dan Ekosistem Pariwisata, mengatakan prospek desa wisata adalah positif. Wisata perdesaan atau istilah yang sering ditawarkan country site tour terus bertumbuh dan diprediksi tumbuh 20-25% dari kebutuhan sekarang. Maka peluang ini kongkrit, wisata perdesaaan perlu dikembangkan,

Oleh karena itu Kementerian Pariwisata lalu membuat konsep desa wisata atau wisata perdesaaan. Pertama, wisata ini adalah menghadirkan pengalaman orang untuk mendapatkan suasana perdesaaan. Di mana aktivitas harus dirancang seperti apa, termasuk fasilitas, sanggar, tempat kuliner, guide/pemandu. “Orang bisa melakukan apa saja yang ada di desa tersebut, dan ini disesuaikan dengan karakteristik desa. Bila desa di pegunungan, penghasil kopi, penghasil sayur-sayuran, cindera mata, maka aktivitasnya mengikuti,”kata Frans Teguh.

Hal kedua, penting juga hadirnya fasilitas-fasilitas pariwisata maupun publik, seperti jamban, pengelolaan air limbah, listrik, telekomunikasi. Jadi membangun desa wisata, yang harus tersedia dulu adalah fasilitas dasar publik, seperti listrik, telekomunikasi, sanitasi, dll. Baru kemudian menyusul fasilitas pariwisata. Ketiga itu adalah pelayanan atau hospitality. Orang Indonesia itu memang terkenal ramah, tetapi pelayanan yang bagaimana hingga menghasilkan nilai ekonomi. Misalnya kebersihan, ketrampilan bahasa, tampilan dan lain-lain.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses