Thursday 14th December 2017

Pariwisata:Penghasil Devisa Nomor Satu

By: On:

ayeKementerian Pariwisata menargetkan, pariwisata menjadi penghasil devisa terbesar pada 2019. Badan usaha milik Negara (BUMN) bisa berperan mendukung pengembangan industri pariwisata. Terlebih potensi pariwisata Indonesia masih amat potensial dikembangkan.

“BUMN-BUMN bisa mendukung salah satu sektor prioritas pembangunan, yaitu industri pariwisata. BUMN bisa banyak membantu di kriteria amenities dan aksesbilitas,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah wawancara khusus dengan Majalah BUMN TRACK, Juli 2016. Untuk melihat pandangan Arief Yahya dalam pengembangan industry pariwisata nasional, berikut petikan wawancaranya:

T : Mengapa pariwisata menjadi salah satu prioritas pembangunan pemerintahan sekarang ini?

J : Dulu orang bilang, industri di Indonesia ada dua macam: migas dan non migas. Karena ketika itu migas nomor satu. Kalau nanti tahun 2019 pariwisata menjadi penghasil devisa nomor satu, maka yang ada adalah industri pariwisata dan non pariwisata, karena pariwisata sudah mengalahkan migas yang menurun.

Nah kalau proyeksi kita ke sana, maka mestinya alokasi sumber daya, termasuk anggaran, ke sana juga. Maka adalah dosa besar bila seorang CEO mengalokasi sumber dayanya ke dying industry. Saya akan jelaskan fakta-faktanya. Mulai dari PDB. Sektor pariwisata menyumbangkan 10% dari PDB nasional, dengan nominal tertinggi di ASEAN. Lalu PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8% dengan tren naik sampai 6,9%, jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan. Dan devisa pariwisata US$1 juta, menghasilkan PDB US$1,7 Juta atau 170%, tertinggi dibanding industri lainnya. Misal di otomotif, bila kita menghasilkan 1 juta, maka PDB-nya hanya 700 ribu, karena sebagian mesti dibayarkan ke luar negeri.

Dari sisi devisa, pariwisata menempati peringkat ke-4 penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3% dibandingkan industri lainnya. Sementara pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata tertinggi, yaitu 13%, bandingkan industri minyak gas bumi, batubara, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif. Dan biaya marketing yang diperlukan hanya 2% dari proyeksi devisa yang dihasilkan.

Pariwisata adalah penyumbang 9,8juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutanke-4 dari seluruh sektor industri. Dalam penciptaan lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30% dalam waktu 5 tahun.

Serta pariwisata pencipta lapangan kerja termurah yaitu dengan US$ 5.000/ satu pekerjaaan, dibanding rata-rata industri lainnya sebesar US$ 100.000/satu pekerjaan.

Pendapatan yang diperoleh dari pariwisata tidak semua tinggal di dalam negeri, tetapi sekitar 12 % yang keluar negeri. Ini wajar, misal untuk pembelian tiket dan lain-lain. Sementara pendapatan yang tinggal adalah 88%. Ini sudah tinggi, bandingkan dengan industri otomotif yang membutuhkan impor 37% . Artinya yang tinggal di dalam negeri hanya 63%.

T: Apa yang menjadi target Kementerian Pariwisata dalam lima tahun ke depan?

J : Kementerian Pariwisata mempunyai target pada tahun 2019 adalah kunjungan wisatawan asing sebesar 20 juta dengan jumlah devisa Rp 240 triliun dan perjalanan wisatawan dalam negeri sebesar 275 juta. Diharapkan pariwisata memberikan kontribusi 15% pada PDB kita. Ini menjadikan pariwisata penghasil devisa nomor satu, jika dibandingkan dengan sektor lain.

 

Namun bisa jadi, tidak harus menunggu sampai tahun 2019, sektor pariwisata pada akhir tahun 2016 pendapatannya akan sama dengan sektor oil gas. Karena pemerintah di tahun 2015 merevisi asumsi oil gas dari 50 dollar AS ke 30 dollar AS per barrel, maka pendapatan negara pun akan turun.

T : Bagaimana dukungan BUMN-BUMN untuk industri pariwisata?

J : Saya sudah mengundang BUMN-BUMN pada bulan Februari 2016 dan mempresentasikan program Kementerian. Saya selalu mulai dari akhir. Harus kita lihat, di sini ada rasio aset BUMN terhadap PDB. Rasio aset BUMN pada PDB termasuk besar, sekitar 38%. Bandingkan dengan Malaysia, di mana rasio aset BUMN-nya terhadap PDB hanya 14%.

Di titik ini BUMN-BUMN bisa mendukung salah satu sektor prioritas pembangunan, yaitu industri pariwisata. BUMN bisa banyak membantu di kriteria amenities dan aksesbilitas. Saya berikan contoh, di Lombok ada Mandalika, dengan atraksi pantai dan laut. Aksesbilitasnya adalah pemerintah yang bertanggungjawab. Perpanjangan bandara, parkir pesawat diperluas, memperbaiki jalan menuju bandara. Nah amenities bisa dikerjakan BUMN, misal yang akan masuk di Mandalika adalah BRI lewat CSR-nya.

Misal yang lain, BUMN TWC (Taman Wisata Candi) Borobudur Prambanan Ratu Boko. Kawasan ini tidak bisa menyaingi kunjungan Angkor Wat selama tidak ada aksesbilitas international airport yang luas. Maka akan dibangun internasional airport baru di Kulonprogo. Ini tanggung jawab pemerintah. Tapi kalau airport yang berdimensi komersial maka menjadi tanggung jawab BUMN Angkasa Pura. BUMN TWC bisa membangun dan mengelola hotel atau penginapan.

Kami sudah membuat MoU antara Kementerian Pariwisata, Kementerian BUMN dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Intinya akan dibangun toilet bersih di taman-taman nasional, untuk memperbaiki amenities dengan menggunakan CSR. CSR BUMN yang sudah komitmen membangun toilet bersih adalah Garuda dan BNI di Banyuwangi.

Di sisi branding kita sudah mendapat dukungan dari BUMN-BUMN. Pada body pesawat Garuda sudah tertulis Wonderful Indonesia. Kalau kita turun di bandara-bandara, Angkasa Pura sudah cukup bagus, setiap ada yang kosong, dibranding Wonderful Indonesia. Bahkan Angkasa Pura akhir-akhir ini berinisiatif membuat pameran foto-foto keindahan alam di bandara.

T : Mengapa tetap mempertahankan slogan Wonderful Indonesia?

J : Ada pihak yang mengusulkan Remarkable. Remarkable sudah dipakai Rwanda. Lalu ada usulan WOW , namun sudah dipakai Filipina dan Afrika. Akhirnya kita menetapkan, mengukuhkan dengan Wonderful Indonesia. Bukan soal wonderful, wow atau remarkable, tapi dipromosikan atau tidak. Kalau tidak pernah dipromosikan yang susah.

T : Bagaimana posisi dan kondisi pariwisata kita saat ini?

J : Kita kalau mau jadi pemain global, pakailah ukuran global, jangan pakai katamu — nanti pakai ukuran sendiri. Saya pakai ukuran global yang dibuat WEF (World Economic Forum).

Pada tahun 2015, menurut Travel and Tourism Competitiveness Report yang dibuat WEF, Indonesia berada di peringkat ke-4 dibandingkan negara-negara ASEAN. Di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand. Ada 14 kriteria untuk dinilai. Tiga kriteria terbawah dari Indonesia adalah soal keberlanjutan lingkungan (kelestarian), infrastruktur dan soal kesehatan dan kebersihan.

Nah saya kasih contoh satu saja, yang mudah dilakukan. Di kriteria International Openess, kita mendapat nilai 114. Nah ketika pemerintah mempermudah dan memperluas negara yang mendapat bebas visa, maka kriteria ini langsung naik jadi 55.

T : Prioritas saat ini?

J : Membangun 10 Bali baru, yaitu Danau Toba, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Borobudur, Bromo, Mandalika, Wakatobi, Labuhan Bajo dan Morotai. Sepuluh destinasi ini menjadi daerah tujuan wisata baru yang dikembangkan, selain Bali yang sudah terkenal.

Untuk mencapai target pengunjung wisatawan asing tahun 2017 sebesar 17 juta, maka pada tahun 2016 sebenarnya membutuhkan anggaran sebesar Rp 8 triliun, namun kami hanya diberi Rp 4 triliun. Karena itu kami membuat tiga skenario yang menekankan pendidikan lembaga, mendapatkan devisa atau kedua-duanya secara seimbang.

Promosi juga mesti tepat waktunya. Setiap negara berbeda-beda. Bila Anda lewat Anda tamat. Contoh, untuk liburan Imlek di Februari kamu tidak promosi ke wisatawan China, maka wasaalam….Untuk menjaring ini, pada bulan Oktober mesti berpromosi, timing itu sangat menentukan. Adalah sangat konyol bila anak buahmu menempatkan event di Januari atau di Februari untuk target bulan Februari. Itu ugly cost. Begitu juga liburan, orang Singapura dan Malaysia saja beda, ini mesti kita ketahui.

Kami berpromosi di Swiss, Australia, Korea, Malaysia saya pasang di body bus dan feri. Di China, saya juga promosi di Baidu, googlenya China.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses