Thursday 14th December 2017

Revitalisasi Industri Strategis

By: On:

ah

Old wisdom industri pertahanan adalah Si vis pacem, para bellum. Adagium dari bahasa Latin itu mengatakan: “Jika menginginkan perdamaian, maka bersiaplah untuk perang”.

Dikaitkan dengan industri strategis pertahanan di Indonesia sangat ideal bila diplomasi kapal perang TNI bisa membuat daya getar dan daya cegah terhadap setiap ancaman nasional, mulai dari agresi dan pelanggaran wilayah, separatisme dan pemberontakan bersenjata, terorisme dan aksi teror bersenjata, sabotase dan spionase, sampai konflik komunal yang setiap saat bisa terjadi.

Kekuatan gun boat diplomacy terletak pada seberapa besar peralatan senjata yang dimiliki oleh suatu bangsa. Presiden AS Theodore Roosevelt yang terkenal dengan kebijakan Big Stick Policy mengatakan tidak usah terlalu banyak omong besar, cukup membawa tongkat pemukul besar, pasti AS ditakuti dan disegani.

“Speak softly and carry a big stick — you will go far.” kata Roosevelt pada pidato berjudul “Tugas Negara” pada 2 September 1901. Saya membayangkan TNI memiliki “big stick” atau tongkat pemukul besar yang diproduksi oleh industri pertahanan nasional untuk menjaga kedaulatan negara, menjaga keamanan nasional, dan mempertahankan NKRI. Misalnya saja: pesawat, roket, rudal, dan torpedo buatan PT DI. Terus kapal laut dan kapal selam buatan PT.PAL; kendaraan tempur, senjata dan munisi produksi PT.Pindad; propelan dan daya ledak bom/roket produksi PT.Dahana.

Tapi faktanya adalah “TNI sebagai kekuatan utama kemampuan pertahanan menghadapi masalah mendasar, yaitu jumlah peralatan pertahanan utama alat utama sistim persenjataan (Alutsista) yang tidak mencukupi dengan kondisi mayoritas peralatan yang usang secara umur dan teknologi”.

Pernyataan itu saya kutip dari mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Djoko Santoso. Ternyata alutsista TNI jauh dari memadai. Kondisi kendaran tempur (Ranpur) yang mencerminkan kekuatan taktis Matra Darat pada 2013 hanya 794 unit dan 60% dalam kondisi siap operasi dan itu pun dengan usia operasi yang rata-rata sekitar 25 tahun.

Matra Laut jumlah dan kondisi kapal Republik Indonesia sebagai kekuatan utama hanya terdiri 18 kapal pemukul yang memiliki persenjataan strategis dan 83% siap operasi, 72 kapal patroli yang ada telah berusia lebih dari 25 tahun dan siap operasi 68%, serta 56 kapal pendukung berusia antara 25-40 tahun dengan kesiapan operasi 43%.

Matra Udara terdiri dari 47 pesawat angkut, 68 pesawat tempur, 38 helikopter dan 57 pesawat latih dengan tingkat kesiapan rata-rata 45%. Dampak dari lemahnya alutsista tersebut berakibat pada lemahnya efek penggentar (deferent effect) yang merupakan pendukung upaya diplomasi

Untuk itu, revitalisasi industri-industri pertahanan harus merupakan prioritas negara. Perlu segera dirumuskan sebuah master plan tentang revitalisasi industri pertahanan demi peningkatan kemandirian dan daya saing bangsa. Harus ada keberpihakan dan kebijakan yang tepat kepada industri pertahanan, termasuk PT Pindad, PT DI, PT PAL, PT Dahana, dan lain-lain, agar lebih berkembang lagi di waktu yang akan datang.

Amerika Serikat dan Jerman bisa maju karena sukses mengembangkan industri stategis. Sementara industri strategis Indonesia dihancurkan oleh kekuatan asing pada 1998. Atas saran IMF, kreditor yang juga penasihat ekonomi Indonesia saat krisis ekonomi 1997-1998, pemerintah menghentikan bantuan dana kepada industri strategis. Langkah ini menyebabkan industri yang baru dibangun seperti PT. DI mati suri.

 

Sampai saat ini, industri strategis belum mendapatkan perhatian memadai. Untuk itu, komitmen dan konsistensi Pemerintah (Kemhan/TNI/Polri) untuk menggunakan produk BUMN Strategis merupakan bentuk keberpihakan yang harus menjadi keniscayaan.

Industri strategis nasional sering mengeluh tidak ada kesinambungan pesanan. Lalu, pesanan tahun jamak untuk produk rutin belum dilaksanakan. Belum lagi, adanya fasilitas Masterlist impor bahan peledak dan diijinkannya importir (non produsen) membuat industri nasional tidak kompetitif. Sementara izin ekspor produk militer dikeluhkan rumit dan birokratis

Selama ini prestasi PT. Pindad tak perlu diragukan dalam membuat senjata. Senapan serbu SS3 dan sub-machine gun PM3, misalnya, merupakan bukti nyata bahwa kita mampu memproduksi sendiri alutsista yang canggih dan mumpuni. Senjata produksi Pindad telah mendapat pengakuan internasional karena selalu menjuarai kompetisi menembak tingkat dunia seperti terakhir di Australia pada 3-20 Mei 2016. Kontingen TNI AD berhasil menjadi juara umum dalam kompetisi menembak tingkat dunia tersebut. Dari 20 negara yang ikut pertandingan, Indonesia mampu meraih 23 medali emas, 13 medali perak, dan 9 medali perunggu.

Itu berkat senjata produksi PT. Pindad!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses