Wednesday 13th December 2017

RNI BUKA KEMBALI DUA PABRIK KELAPA SAWIT DI BATURAJA

By: On:

Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Didik Prasetyo membuka kembali pengoperasian dua Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di perkebunan sawit Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang dikelola oleh PT Mitra Ogan, anak perusahaan RNI Group.

Pembukaan kembali ditandai dengan penekanan tombol sirene operasi pabrik dilanjutkan dengan tasyakuran makan tumpeng bersama seluruh karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan pada 19 Oktober 2017.

Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo (tengah) bersama Komisaris Utama Mitra Ogan besrta Jajaran Direksi Mitra Ogan saat menekan tombol pengoperasian  pabrik sawit PKS 1 dan PKS 2 di Karang Dapo Palembang. Kamis (19/10).Foto/RoniMawardi/BUMNTRACK

“Pabrik ini dibuka sebagai tanda Mitra Ogan bangkit lagi. Pabrik adalah mesin uangnya perusahaan. Kita mengolah lagi setelah sekian lama tidur. Kalau kita solid dan kompak, pabrik dan perusahaan bisa hidup 1000 tahun lagi,” kata Didik saat memberikan sambutan.

Semua karyawan bertepuk tangan. Lalu Didik menanyakan apakah perusahaan bisa hidup 1000 tahun lagi seperti sajaknya Chairil Anwar, secara serentak hadirin mengatakan: ”Bisaaaaaa…!”

Didik mengaku senang dan bersemangat. Untuk membawa Mitra Ogan bangkit dan berjaya lagi perlu kerja keras dan kerja cerdas secara bersama sama.

”Harus sefaham dan kompak. Bisa? ” tanya Didik lagi yang dijawab hadirin bisa.

Dirut Mitra Ogan Muhamad Natsir meminta agar tanaman sawit dan pabrik pengolahannya dijaga. Kapasitas produksi dari dua pabrik adalah 1.800 ton per hari atau 90 ton/jam, terbagi atas kapasitas pabrik 1 sebanyak 600 ton per hari dan kapasitas pabrik 2 sebanyak1.200 ton per hari. Natsir berharap, sedikitnya 500 ton buah sawit per hari yang bisa dioleh dengan redimen 20%.

Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo (tengah) bersama Komisaris Utama Mitra Ogan besrta Jajaran Direksi Mitra Ogan saat menekan tombol pengoperasian  pabrik sawit PKS 1 dan PKS 2 di Karang Dapo Palembang. Kamis (19/10).Foto/RoniMawardi/BUMNTRACK

Kedua pabrik itu untuk mengolah pasokan sawit dari kebun inti dan plasma seluas sekitar 15.000 hektare.

Menyadari sebagai pemain baru di industri sawit, RNI menggandeng PTPN III sebagai partner bisnisnya. Di dalam join venture agreement disepakati bahwa pihak RNI akan memegang posisi Direktur Utama dan Direktur Keuangan sedangkan dari PTPN III menempati posisi Direktur Produksi. Perusahaan patungan didirikan pada tahun 1989 dengan mengambil nama PT Perkebunan Mitra Ogan. Tahun itu juga dilakukan penanaman perdana untuk 10.000 ha yang kemudian menjadi Kebun Inti Peninjauan.

Sejalan dengan tumbuhnya kebun sawit yang terus berkembang, tahun 1993 mulai dibangun pabrik dengan kapasitas 60 ton per jam. Belakangan karena berbagai hal, pabrik tersebut sempat untuk sementara tidak beroperasi.

Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo (tengah) bersama Komisaris Utama Mitra Ogan beserta Jajaran Direksi Mitra Ogan saat menekan tombol pengoperasian pabrik sawit PKS 1 dan PKS 2 di Karang Dapo Palembang. Kamis (19/10).Foto/RoniMawardi/BUMNTRACK

Dalam CEO Notes yang rutin ditulisnya, Didik menulis pilihan untuk berbisnis kelapa sawit adalah pilihan yang sangat logis. Indonesia merupakan negara yang memiliki suhu tropis yang sangat cocok untuk mengembangkan lahan kebun untuk kelapa sawit. Kelapa Sawit merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi dari seluruh dunia. Selain harganya murah, produk minyak sangat efisien dan sangat stabil digunakan dalam berbagai produk makanan, kosmetik, dan juga digunakan sebagai sumber untuk bahan bakar alternatif.

Total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini berkisar 8 juta hektar, yaitu dua kali lebih banyak dibandingkan  tahun 2000 yang  hanya sekitar empat juta hektar. Ekspor minyak sawit merupakan penghasil devisa penting dan industri yang memberikan kesempatan kerja bagi jutaan rakyat Indonesia. Sementara itu di pasar dunia, dalam 10 tahun terakhir, penggunaan atau konsumsi minyak sawit tumbuh sekitar rata-rata 8%-9% per tahun.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses