Wednesday 13th December 2017

TEGAS, BERNYALI, BEKERJA DENGAN HATI

By: On:

aPTPN mulai bangkit. Luka yang menggerogoti tubuh BUMN perkebunan selama bertahun- tahun perlahan dibasuh oleh tangan dingin Elia Massa
Manik, sosok bernyali besar yang pada April tahun lalu didapuk menjadi nahkoda bagi Holding Perkebunan.
Belum genap setahun Massa memimpin perusahaan dengan membawahi 14 PTPN, perbaikan ke arah positif mulai terlihat. Betapa tidak, PTPN yang selama ini dikenal sangat tertutup kepada orang luar dibiarkan terbuka selebar-lebarnya. Warisan tradisi masa lalu beraroma kolonialisme yang terpelihara rapi selama puluhan tahun, dibuat
luluh lantak dengan kultur baru berupa jujur, tulus, ikhlas, sehingga membuat semuanya menjadi transparan.
Masuknya Massa ke tubuh PTPN juga bukan suatu hal yang direncanakan.

Kala itu, Massa masih menjalankan amanah untuk membantu Bank BNI merestrukturisasi kredit PTPN 7 dengan total Rp 6 triliun. Ia penasaran, mengapa perusahaan yang menangani banyak komoditi itu bisa terpuruk begitu dalam. Keberhasilan restrukturisasi yang dijalankan Massa sampai ke telinga Menteri BUMN Rini M Soemarno. Singkat cerita, Menteri Rini segera meminta Massa untuk membantu PTPN Holding setelah menerima usulan business plan penyehatan PTPN grup.

itu memiliki utang sebesar Rp 33 triliun dan mengalami kerugian berjalan Rp 623 miliar di luar impairment pada Maret 2016. Pada September 2016, rugi usaha yang ditanggung perusahaan membengkak menjadi R 1 triliun. Dari 14 PTPN, Sembilan di antaranya menggoreskan rapor merah. Bahkan, perbankan pun ogah melirik. Dari hasil maping yang dilakukannya seorang diri, ditemukan pula sederet permasalahan lain seperti rendahnya produktivitas kebun, Presentasi memaparkan kondisi perusahaan secara real terkait kinerja keuangan, produktivitas, sales, hingga benchmarking. Setiap hari, setidaknya ada dua PTPN yang ia hadapi. Pria yang turut berjasa menorehklan suskes di PT Kertas Basuki Rahmat dan PT Indofood ini memberikan waktu selama tiga bulan kepada masing-masing direksi untuk memperbaiki performanya. Ada yang termotivasi, ada pula yang

Tak hanya diapresiasi oleh Menteri BUMN, usulan tersebut juga disambut baik oleh Presiden Jokowi. Alhasil, sepulangnya liburan dari Negeri Kanguru, Massa langsung “ditodong” melalui Sekretaris Jenderal yang menanyakan kesiapannya untuk mulai bergabung di PTPN. “Dari hari H mendapat approval Presiden, saya minta operasional yang tidak efisien, motivasi SDM menurun, pengembangan bisnis yang stagnan, hingga rendahnya budaya organisasi yang kian membuat perusahaan ini

Peluang itu masih ada. Kita bisa bangkit kembali. tidak. Hasilnya? Massa yang mengurangi jumlah direksi di tiap-tiap PTPN dari lima menjadi tiga itu terpaksa waktu satu bulan,” katanya. Pertama kali bergabung, peraih gelar MBA dari Asian Institite of Management, Filipina ini mengaku tak mengetahui secara detail kondisi ke-14 perusahaan. Yang ia tahu hanya “penyakit kronis” yang diderita oleh PTPN 7. Belakangan terbongkar, perusahaan yang menjadi tumpuan berbagai komoditas nasional kalah bersaing. Melihat deretan ‘dosa’ perusahaan, Massa pantang balik badan. Ia tetap optimis dan semakin tertantang menguji nyalinya. “Peluang itu masih ada. Kita bisa bangkit kembali,” ungkapnya penuh optimisme.

Massa lantas memetakan strategi transformasi. Para direksi masing- masing PTPN diminta untuk melakukan memangkas 46 direksi dari ke-14 PTPN. Yang melegakan, secara mayoritas ia mengganti berbagai posisi penting di tubuh PTPN itu dari SDM internal. “Ancaman dan resistensi pasti ada, tapi secara gentle dan santun saya jelaskan ke mereka akan kondisi perusahaan ini sebenarnya, sehingga langkah perombakan direksi menjadi bagian dari perubahan yang harus dilakukan,” ungkap Sarjana Teknik Lingkungan lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1988 ini seraya meyakini bahwa perubahan harus dimulai dari pimpinan puncak, terlebih saat menangani perusahaan yang kolaps.

Langkah selanjutnya setelah merampingkan jumlah direksi, pria yang pernah melakukan turn around di Elnusa hingga berhasil melepaskan beban
lilitan utang, likuiditas hingga problem operasional ini memisahkan manajemen holding dengan operasional untuk memaksimalkan fungsi operating holding. Bisa dibayangkan, bukan sesuatu yang mudah untuk mengelola 1,1 juta hektar lahan perkebunan tanpa adanya struktur organisasi yang tepat.
Massa memutuskan, manajemen holding dipimpinnya dengan dibantu Direktur Keuangan & Korporasi, Direktur Produksi serta Direktur Human Capital Management & Umum. Sedangkan untuk mengurus operasional PTPN III, Massa menunjuk Direktur Pelaksana Operasional dan tiga Senior Excecutif Vice President.
Dari sisi keuangan, proses transformasi yang ia lakukan dengan merestrukturisasi utang perusahaan. Massa melakukan
fresh money injection untuk memperbaiki kinerja kebun yang sebelumnya produktivitas sawit hanya 18 ton TBS per hektar akan ditingkatkan menjadi 24 ton TBS per hektar. Peningkatan produktivits juga akan dilakukan pada komoditas lain seperti karet dan teh sehingga diharapkan mampu mendongkrak laba perusahaan. “Yang menarik, setelah kami melakukan restrukturisasi di beberapa PTPN, pihak bank yang tadinya berpaling kini sudah mulai mau kembali memberikan pinjaman,” katanya.

Untuk melengkapi aksi turn around- nya, Massa membuat skala prioritas pada bidang yang akan ditangani. Ia kemudian memilih sektor perkebunan sawit sebagai ceruk yang paling awal digarap, dengan melakukan improvisasi produktivitas kebun. Selain itu, ia juga akan menata ulang ketentuan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan membuat teknologi yang seragam, sehingga pengadaan spare part dan lainnya lebih mudah dan murah. “Selama ini PKS menggerogoti rata-rata Rp 1 triliun per tahun karena spare part- nya beragam . Sebelum Juni 2017, kita akan melakukan perbaikan di PKS hingga selesai 70%. Tapi roadmap teknologi kita selesaikan pada Januari ini,” ungkapnya. Meski belum genap setahun, proses turn around yang dilakukan Massa sudah menunjukkan hasil menggembirakan. Pihak bank sudah kembali mendekat. Bisnis karet yang sebelumnya rugi dalam empat tahun terakhir kini sudah mulai mencetak untung. Lalu setelah mengalami rugi usaha secara konsolidasi mencapai Rp 1 triliun pada semester tiga 2016, pada akhir tahun 2016 tingkat kerugian ini bisa ditekan hingga menyisa Rp226 miliar. Sedangkan tahun 2017, Massa telah mematok target laba sebesar Rp 650 miliar dengan nett operating cashflow sebesar Rp 2,7 triliun.

Pacu SDM

Upaya transformasi yang dilakukan perusahaan berjalan simultan. Pengelolaan dan pengembangan SDM dinilai Massa menjadi salah satu senjata terpenting. Karenanya, manajemen PTPN saat ini tengah berbenah di bidang SDM antara lain dengan mengembalikan fungsi Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) yang berada di kota Yogyakarta. Lembaga yang berdiri sejak 1970 ini seakan mati suri. Lembaga yang seharusnya disokong penuh oleh perusahaan justru diperintah untuk mendanaoi operasionalnya secara mandiri. Alhasil, bukannya fokus mengembangkan SDM internal, justru ‘menebar proposal’. “LPP ini punya kualitas bagus, tapi sayang yang memakai justru perusahaan lain. Inilah yang akan kita ubah dan kita jadikan positioning LPP Perkebunan sebagai Corporate University bagi PTPN,” ujar Massa di sela acara Re-design Leadership Development Program di Yogyakarta, 9 Januari lalu.

Guna menjadikan LPP Perkebunan sebagai Corporate University, Holdding Perkebunan akan menggelontorkan dana awal ke LPP sebesar Rp 25 miliar untuk tahun pertama 2017 sebagai tambahan anggaran pendidikan, yang selama ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 65 miliar per tahun.
Sebagai konsekuensi dari reposisi itu, LPP Perkebunan juga sudah diminta untuk mendesain kembali SDM level, yunior, madya maupun puncak. “Kami harap agar program pengembangan pendidikan ini bisa mengontribusi 20 persen dari konten ajar program pengembangan seorang leader di PTPN Group,” harapnya.

Hobi Bermusik

Siapa nyana, sosok pekerja keras berperawakan serius ini sangat lihai bermain musik. Sejak SMA, Massa mulai menjajal hobi bermain gitar, belajar otodidak bersama seorang kawan. “Dulu saya sering main lagu klasik, otodidak hanya diajarin tetangga yang jago main gitar. Mungkin karena senang sehingga dijalankan pakai hati,” katanya mengaku. Sempat pula terlintas untuk membangun sebuah studio musik di rumahnya, bahkan desainnya pun sudah siap. Tetapi niat itu urung dengan pertimbangan khawatir tidak sempat digunakan. Alhasil, pria yang jarang mengenakan kaus kaki ini kerap gitaran di ruang kerjanya, terutama ketika sedang merasa suntuk dan penat. “Bermain musik bisa membuat saya lebih tenang, bahkan terkadang muncul inspirasi dan ide,” ujar Massa yang sesekali berkunjung ke studio milik kawannya saat rindu ngejam.
Dalam menjalani kehidupan, Massa merasa sangat bersyukur dilimpahi keluarga yang sangat mendukung karirnya. Keluarga selalu menghormati apa yang menjadi pilihan Massa. “Paling- paling istri mengingatkan saya agar jaga kesehatan,” ungkapnya tersenyum. Demi membayar waktunya yang terbatas, saat memiliki waktu luang Massa berusaha menghabiskan waktu dengan istri dan buah hatinya, untuk sekadar bercengkrama sambil menyicip kuliner bersama.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses