Thursday 14th December 2017

Transformasi BUMN Sejajar Khazanah dan Temasek

By: On:

ahAkhmad Kusaeni, Pemimpin Redaksi BUMN Track

Transformasi BUMN seakan menjadi topik tidak  habis-habisnya jika bicara soal kinerja dan prestasi perusahaan- perusahaan plat merah. Ketika  rapat pertama Dewan Juri  Anugerah BUMN 2016, Ketua  Dewan Juri  Tanri Abeng  bertanya apa tema utama yang menjadi benang merah penjurian. Ketika  panitia menjawab temanya transformasi BUMN, Tanri menarik nafas.

“Zaman saya menjabat Menteri BUMN, soal transformasi ini sudah dibahas dan diperdebatkan. Sekarang apalagi?,” kata Tanri yang menjadi Menteri BUMN pada Kabinet Pembangunan VII tahun 1998-1999.

Lalu ia mengusulkan agar tema transformasi BUMN itu dikaitkan dengan macam-macam persoalan  dari mulai menjadi pemain global sampai bagaimana Indonesia bisa terbebas dari himpitan utang luar negeri. Intinya, meski itu isu lama dan klise, masalah transformasi BUMN tetap  saja menjadi sesuatu yang relevan untuk dilakukan pada saat ini dan ke depan. Indonesia memiliki lebih dari

119 BUMN. Ada yang sehat, ada juga yang sakit karena terus merugi dan menjadi beban  negara. Idealnya, BUMN menjadi contoh bagi perusahaan swasta dalam kinerja dan tata kelola perusahaan yang baik. Namun kenyataannya beberapa BUMN kembang  kempis, mati suri, karena tidak dikelola secara professional.

BUMN kita punya potensi yang sangat besar. Jika pemerintahan dapat melakukan transformasi BUMN dari birokrasi ke korporasi, menurut Tanri Abeng, maka Jokowi-JK bisa melunasi utang luar negeri Indonesia. Ini akan menjadi warisan Jokowi-JK yang sangat besar mengingat sepanjang sejarah Indonesia semua presiden hanya bisa menambah utang. Kuncinya: transformasi BUMN dari budaya birokrasi ke korporasi. Tiga langkah besar yang harus dilakukan: depolitisasi, debirokrasi, dan de-link aset BUMN.

Menurut Tanri, dengan peningkatan kapasitas dan skala BUMN melalui holdingisasi saja, negara sudah tidak perlu berutang. Ia mengatakan jika BUMN dapat ditransformasi, maka dengan melepas sebagian  saham BUMN melalui public offering di pasar modal, pemerintah akan memperoleh dana yang cukup untuk membayar utang tersebut.

“Tapi sekarang saya belum dengar lagi ada BUMN yang melakukan IPO,” katanya. Mas Achmad Daniri, anggota Dewan Juri lainnya, yakin betul kalau transformasi BUMN bisa berhasil melalui pasar modal. Dalam sebuah  artikel yang ditulisnya, Daniri mengatakan sumber dana perusahaan berasal dari dua sumber, yaitu utang dan modal sendiri (saham). Bagi BUMN terdapat opsi lain, yaitu penyertaan atau tambahan modal pemerintah. Untuk pilihan terakhir ini, masalah yang muncul adalah keterbatasan dana yang dimiliki pemerintah untuk menyuntikkan modal ke BUMN.

Dalam pandangan Mas Achmad Daniri untuk kebutuhan belanja modal, maka pasar modal (capital market) menjadi pilihan yang sangat strategis. Dengan masuk ke pasar modal maka perusahaan plat merah dapat meraih dana segar dalam jumlah besar. Sebagai pengingat, masih menurut Mas Achmad Daniri, sepanjang tahun 2010, BUMN telah mendapat manfaat pendanaan dari pasar modal. Tercatat dari pasar surat utang, sejumlah BUMN telah menerbitkan obligasi korporasi yaitu obligasi BTN Rp 1,65 triliun, Telkom Rp 3 triliun, PLN Rp 3 triliun, Jasa Marga Rp 1,5 triliun, dan Danareksa Rp 500 miliar. Lalu, penambahan modal melalui rights issue yaitu Bank BNI senilai Rp 10,46 triliun, dan Penawaran Perdana Saham (IPO) yaitu Pembangunan Perumahan  (PP) Rp 581 miliar dan Krakatau Steel Rp 2,68 triliun.

BUMN yang telah tercatat  di Bursa Efek umumnya lebih baik prestasi dan kinerjanya. Umumnya emiten BUMN tersebut mencapai  pertumbuhan kinerja yang semakin baik, peningkatan setoran dividen, kapitalisasi pasar yang terus tumbuh, dan world class orientation. Kalau itu rumus kesuksesannya, seperti disampaikan Mas Achmad Daniri, mestinya kita sepakat untuk terus mendorong BUMN lainnya untuk bertransformasi, termasuk lewat IPO, untuk menjadi BUMN yang sehat dengan manajemen yang transparan,  akuntabel, dan kredibel baik di mata investor, maupun para pemangku kepentingan lainnya.

BUMN, seperti dikemukakan  Toto Pranoto, anggota Dewan Juri lainnya, diharapkan akan menjadi kekuatan seperti halnya Temasek di Singapura dan Khazanah Nasional, perusahaan milik pemerintah di Malaysia. Produktivitas aset dan penciptaan laba yang dilakukan BUMN Indonesia masih relatif rendah dibanding Temasek maupun Khazanah. Saatnya BUMN Indonesia sejajar dengan perusahaan-perusahaan negara di negeri tetangga.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses