Thursday 14th December 2017

Wisata Danau Toba

By: On:

ahCuti lebaran saya membawa keluarga berlibur ke Sumatera Utara. Saya ingin melihat bagaimana Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung pengembangan sektor pariwisata.

Sebagai traveler yang kerap singgah di berbagai bandara di dunia, saya terkesan dengan fasilitas dan layanan Bandara Internasional Kualanamu yang dikelola Angkasa Pura II. Bandara ini adalah bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Bandara ini didesain untuk melayani kebutuhan penumpang, kecepatan bergerak orang dan barang, ruang tunggu nyaman, toilet, tempat ibadah, restoran dan outlet belanja. Pengelola tahu persis kebutuhan penumpang yang suka narsis di media sosial. Makanya tersedia Wifi gratis dan spot menarik tempat pengambilan foto bagi yang mau upload di Facebook atau Instragram.

Tidak mengherankan bila Bandara Kualanamu meraih Service Quality Award 2016 kategori Diamond yang merupakan penghargaan prestisius di bidang kepuasan pelanggan. Bravo untuk Dirut Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi dan tim. Mudah-mudahan Kualanamu bisa mendapat sertifikasi Bintang 5 dari Skytrax dan sejajar dengan bandara-bandara berkelas dunia lainnya.

Dari Kualanamu ke Medan saya naik kereta api Bandara Railink, yang merupakan anak perusahaan patungan PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II. Pelayanan dari pembelian tiket kereta, petugas di stasiun, dan interior keretanya sendiri cukup nyaman. Namun, jumlah penumpang tidak terlalu banyak. Tiket yang sudah diberi nomor kursi, akhirnya tak berlaku karena kosong. Penumpang boleh duduk bebas sesuai kehendaknya.

Sudah lebih dua tahun beroperasi, kereta api bandara ini belum menunjukkan kemajuan di jumlah penumpang. Penumpang sebelah saya mengeluhkan suara mesin kereta terlalu bising dan getarannya terlalu keras. Keluhan lain, kereta berhenti langsir terlalu lama dan jalannya lamban. Kecepatan sekarang berkisar 60 km/jam. Kalau bisa ditingkatkan menjadi 80-90 km/jam sangat bagus. Saya catat waktu tempuh Kualanamu-Medan sekitar 45 menit, mungkin sangat keren kalau hanya 20 menit.

PT Railink menargetkan membangun kereta api di seluruh bandara besar yang ada di Indonesia, termasuk Soekarno-Hatta. Jadi, tolong keluhan ini diperhatikan, khususnya untuk pembangunan kereta api bandara di Jakarta yang jauh lebih besar dari Kualanamu. Kapasitas yang disiapkan sekitar 33.700 kursi dengan 124 trip satu harinya. Dengan target okupansi penumpang mencapai 60 persen, pengalaman kereta bandara Kualanamu hendaknya menjadi pelajaran.

Selama di Parapat, saya jadi ingat Menteri BUMN Rini Soemarno pernah mengumpulkan para dirut perusahaan pelat merah di Hotel Inna Parapat. Rini mendorong BUMN-BUMN mendukung peningkatan 10 destinasi wisata di Indonesia, salah satunya adalah Danau Toba. Dukungan ini selaras dengan arahan Presiden Jokowi untuk mengakselerasi pertumbuhan di sektor pariwisata dengan target 12 juta kunjungan wisata mancanegara hingga mencapai devisa sebesar Rp 172 triliun.

Arahan Jokowi tersebut disambut dengan penandatanganan MoU oleh BUMN bidang Pariwisata pada 12 Februari 2016. Kemenpar dan Kementerian BUMN juga dalam waktu dekat akan mendatangani MoU yang sama.

 

Saya kira BUMN-BUMN tidak boleh berdiam diri. Saya ambil contoh, Hotel Inna dan Patra Jasa Parapat harus berbenah. Parapat, Danau Toba dan Pulau Samosir, sangat menarik untuk wisatawan, tapi banyak hal yang harus diperbaiki, termasuk pelayanan dan fasilitas perhotelan. Coba perhatikan komentar-komentar orang di Agoda mengenai Hotel Inna Parapat, perlu segera dilakukan pembenahan.

 

Kapal-kapal yang mengangkut penumpang dari Parapat ke Pulau Samosir kebanyakan pelayaran rakyat. Tidak ada pelabuhan khusus untuk bertolak dan merapat yang bagus dan memadai seperti halnya di tempat lain. Mungkin PT Pelindo bisa membangun pelabuhan itu dan PT Pelni menyediakan kapal-kapal dan Ferry yang lebih manusiawi.

Kapal-kapal yang ada sekarang jelas tidak seperti yang diharapkan. Terkesan kumuh karena pedagang kopi, mie instan, dan pengamen dibiarkan masuk. Alat-alat keselamatan seperti pelampung tidak tersedia buat semua penumpang. Orang boleh merokok sembarangan dan membuang puntung yang meningkatkan rIsiko kebakaran.

Semua pihak terkait perlu bersama-sama memperbaiki agar Parapat, Danau Toba dan Pulau Samosir lebih menarik dan bisa menjadi tujuan wisata utama. Berbeda dengan di Bali atau Lombok, jarang sekali saya menemukan wisatawan asing di Parapat dan sekitarnya.

Ini berarti kurang promosi ke luar negeri. Makanya Menpar Arief Yahya meminta BUMN dan BUMD membantu promosi pariwisata, khususnya dalam hal pembangunan merek, pengiklanan dan penjualan penjualan produk wisata. Selain itu, aktif mengembangkan destinasi wisata, termasuk pengembangan atraksi serta peningkatan aksesibilitas dan kenyamanan.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses