BERITA

PT Pos Kembangkan Tiga Anak Usaha Hadapi Era Disruption

Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono (Foto: Eka/Bumntrack.com)

Jakarta, Bumntrack – Ditengah gencarnya pembangunan infrastruktur dan pesatnya pertumbuhan transaksi e-commerce mendorong PT Pos Indonesia agar melakukan transformasi bisnis. Namun sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Pos juga dituntut menjangkau semua kalangan masyarakat sebagai perpanjangan tangan negara.

“BUMN secara umum memiliki tiga misi utama. Pertama, menjadi triger atau pemicu aktitifas ekonomi di daerah. Kedua, apabila di sektor tertentu belum ada investasi karena rumitnya regulasi, maka BUMN akan masuk sebagai jalan awal pembuka investasi. Ketiga, BUMN dituntut untuk menghasilkan keuntungan,” kata Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono di Jakarta, Rabu (24/7).

Berdasarkan misi utama tersebut, PT Pos Indonesia saat bertransformasi tidak selincah perusahaan private, apalagi seperti digital starup Gojek/Grab. “Kita tidak bisa memilih kota-kota besar saja, atau top ten city. PT Pos harus ada di seluruh kota, kabupaten dan kecamatan, harus melayani masyarakat. Sedangkan menurut perusahaan private, bisa saja daerah tersebut tak perlu ada kantor, tidak perlu dilayani,” jelasnya.

Dirinya mengungkapkan bahwa dalam bertransformasi tidak menggunakan rule komersial game seperti daerah yang tidak menguntungkan secara bisnis, maka perusahaan bisa menutup daerah tersebut. Begitu pula dengan bisnis model, perusahaan tidak perlu melibatkan investasi tinggi dan karyawan banyak.

“Sementara PT POS Indonesia bertransformasi, satu hal yang paling mudah dan cepat dilakukan adalah mengembangkan anak perusahaan. Ada tiga anak perusahaan yaitu pos logistik, pos finansial dan pos properti. Tiga anak perusahaan ini lebih kecil, lincah dan tidak memiliki kewajiban seperti yang dipikul induk,” tambahnya.

Secara keuangan, lanjutnya, pos logistik empat tahun lalu pendapatan sekitar Rp300 miliar. Namun tahun ini diharapkan bisa mencapai Rp1 triliun. Kemudian Pos Finansial selama 14 tahun didirikan, baru tahun kemarin mendapatkan profit. “Sebelumnya equity minus Rp63 miliar, dalam 3 tahun setidaknya equity sudah positif ke Rp270juta,” jelasnya.

Pihaknya menilai menggembangkan anak perusahaan jauh lebih cepat karena aturan tidak sekompleks perusahaan induk. “Makanya strategi kita adalah mengembangkan anak perusahaan. Seperti halnya Telkom yang mengembangkan anak perusahaannya, Telkomsel,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan Laporan Keuangan PT POS Indonesia (persero) tahun 2018, laba bersih perusahaan turun 64,11 persen menjadi Rp127 miliar. Peningkatan laba bersih tersebut mayoritas disokong Jasa Kurir yang naik 14 persen di Rp3 Triliun. Kemudian dari sisi logistik, pertumbuhan naik 44,48 persen ke Rp510,9 miliar. Sedangkan jasa keuangan menyokong pendapatan Rp896 miliar atau turun 7,7 persen.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close