KOLOM PAKAR

Go Ahead Mobil Listrik Nasional

Jakarta, Bumntrack.co.id – Rilis Bank Dunia pada Jumat, 6 September 2019 tentang Resiko Perekonomian Global dan Implikasinya terhadap Indonesia tentang prospek pesimis Indonesia dalam jaringan pemasok moblis nasional sangatlah MENOHOK, disaat keluarnya Perpres Nomor 55/2019 tentang percepatan program kendaraan listrik berbasis baterei yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 8 Agustus 2019. Dengan kata lain, reportase Bank Dunia ini dikeluarkan hanya sebulan setelah Perpres moblis nasional yang mempunyai nuansa dan tekad semangat kemandirian bangsa pada ulang tahun kemerdekaan RI ke – 74.

Pada chatting di WAG AITAA yang merespon kiriman salah satu pejabat eselon 1 kementrian/badan ditanggal 9 Agustus 2019, saya mengatakan bahwa kita perlu hati-hati dalam merespon rilis Bank Dunia.

Mengapa demikian? Ada yang ANEH dalam REKOM Bank Dunia tersebut, dan keanehan ini dari sisi teori ekonomi maupun inovasi tidak masuk diakal. Setelah ngalor ngidul membahas point-point penting dengan menjadikan contoh reformasi negara lain melalui komparasinya dengan kasus moblis nasional, reportase Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia janganlah berfokus pada langkah meminimasi CAD (Current Account Deficit), tetapi disarankan fokuslah pada FDI (Foreign Direct Investment).

Inilah rekomendasi yang saya anggap aneh bagi saya yang sejak 2010 mencoba belajar memahami ilmu Supply Chain Economy (SCE), sebagai konsep strategis dalam memahami implementasi Global Supply Chain Manajemen (SCM). Harusnya reportase Bank Dunia sebelum membahas contoh Global SCM, maka perlu membahas sinkronisasinya dengan SCE.

Minimasi CAD dan FDI adalah 2 (dua) sisi mata uang. Didalam meminimasi CAD, ada aktivitas-aktivitas inovasi (selain eksport tentunya), dimana yang paling sederhana adalah bagaimana memberdayakan produk dalam negeri, yang implementasinya berupa substitusi import dan peningkatan TKDN. Kemenperin dibawah Airlangga Hartarto sudah gigih memperjuangkan insentif Super Deductible Tax untuk investasi dibidang R&D dan pendidikan vokasi pada industry manufaktur, sehingga BUMN maupun BUMS juga mulai bergerak untuk mengambil manfaat insentif pajak yang tertuang dalam PP Nomor 45/2019.

Dari sisi FDI (yang bukan HOT MONEY), investasi yang masuk ke suatu negara, misal Indonesia, pasti akan membutuhkan jaringan Global Supply Chain pemasok dalam dan luar negeri. Sangatlah tidak efisien bila investor tersebut mencari dari area/negara lebih jauh yang biaya logistiknya mahal selama pemasok dalam negeri mampu mensupport.

Untuk itu, dibutuhkan kesiapan SDM dengan kualifikasi ahli, regulasi kebijakan non tariff, tariff import untuk memasukkan komponen Global SC lainnya , serta restriksi investasi.

Dari sisi listing kesiapan-kesiapan diatas, reportase Bank Dunia sudah betul, mengingat memang dalam ratas antispasi ekonomi dunia, Rabu 4 September 2019, Presiden Jokowi mengeluhkan bahwa dari 33 perusahaan asal China yang merelokasi pabriknya akibat perang dagang, 23 memilih Vietnam dan 10 lainnya memilih thailan, Malaysia, dan kambodia. Tidak ada satupun dari 33 perusahaan tersebut yang memilih Indonesia, malah kita kalah dipilih dibandingkan KAMBODIA, negara anggota baru di ASEAN yang baru membuka diri. Hal ini memang membuktikan bahwa Bisnis Ekosistem (BE) dari Global SC Indonesia masih dianggap lemah (selain kultur dan soft factor pertimbangan lain dari investor).

Oleh karena itu, selain pembangunan hard infrastruktur, pembangunan soft infrastruktur seperti kualitas SDM, regulasi dll factor yang membentuk BE Global SC perlu dibenahi, sehingga Indonesia menjadi destinasi yang menarik untuk FDI jaringan perdagangan manufaktur dunia yang akan membawa Global SC nya.Dengan demikian, Indonesia tidak sekedar menjadi destinasi, tetapi juga mempunyai peran besar dalam IKUT TERLIBAT dan BERPERAN penting pada sistem Global SC tersebut, yang ujung-ujungnya menjadikan ekonomi dan daya saing negara semakin kuat.

Politikus yang baik dan cerdas, Akademisi yang paham kompleksitas geopolitik bisnis, Pengusaha swasta yang nasionalis, BUMN yang professional, serta juga jangan dilupakan para Millennial Start up berbasis inovasi teknologi tinggi perlu dilibatkan secara intens dalam mendesain skema BE Global SC moblis nasional, dalam kerangka berpikir Supply Chain Economy.

Kita harus yakin dan ON THE TRACK dalam menempuh ROAD MAP moblis nasional. Jangan lupakan para MILLENIAL MUDA pengusaha high tech yang inovatif tersebut, karena anda akan tidak menduga kejeniusan ide-ide out of the box mereka dan KECEPATAN eksekusinya. GO AHEAD Mobil Listrik Nasional, abaikan prediksi Bank Dunia yang tidak akademik.

Ditulis oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Akademisi Manajemen Bisnis ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close