CEO NOTES

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso Resep 3K dari Sang Ayah

Dikenal sebagi sosok yang berintegritas, Komjen. Pol. (Purn.) Drs. Budi Waseso atau akrab dengan sebutan Buwas senantiasa berani dan tunduk pada kebenaran. Banyak rumor yang beredar, penunjukan Buwas sebagai Direktur Utama Perum Bulog oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno tahun lalu merupakan salah satu upaya untuk melawan para mafia impor beras demi memperkuat ketahanan pangan.

Rumor itu ada benarnya. Di awal-awal kepemimpinan Buwas di Bulog, suami dari Retno Setyowati ini secara tegas menolak impor beras. Mantan Kabareskrim  yang juga pernah menjadi orang nomor satu di Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menegaskan bahwa stok beras bulog dalam keadaan aman, harga stabil dan gudang  Bulog tak kuat menampung komoditas impor. “Saya tegaskan bahwa Indonesia mampu bertahan alias tak impor beras hingga 2020,” kata Buwas.

Atas keputusannya yang viral, ia sempat ditegur Presiden Jokowi. Namun, bukan Buwas namanya jika tak teguh pada pendirian. Ia memberikan penjelasan sesuai fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, lantas orang satu di republik itu pun melunak.

Karakter berani yang melekat pada sosok Buwas adalah berkat tempaan mental dari sang ayah yang seorang Kolonel Angkatan Darat. “Sejak kecil, ayah selalu menerapkan prinsip 3K agar berhasil dalam hidup. Yakni komitmen, konsisten dan konsekuen,” ungkap Buwas.

Ia diajarkan untuk membangun komitmen dalam keluarga, lingkungan, dan pekerjaan. Ia juga harus konsisten dalam menjalankan komitmen, serta siap menerima konsekuensi atas segala keputusan yang diambil.

Seperti di Bulog saat ini, citra beras dari Perum Bulog yang berwarna kuning, pera, dan kadang berkutu segera ia ubah. Tiga bulan menjabat, Buwas meluncurkan produk beras renceng alias saset dengan kualitas premium. “Bulog hadir dengan beras premium, bahkan lebih dekat ke lapisan masyarakat urban, dengan menyajikan penjualan beras renceng yang bisa dimasak untuk makan satu hari atau bagi mereka para traveller, contohnya pendaki,” jelas Buwas.

Terinspirasi dari kakeknya yang seorang petani, Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 19 Februari 1960 itu bertekad untuk ambil bagian dalam menjaga kestabilan pangan di Indonesia, seraya meningkatkan kesejahteraan petani sebagai bagian yang tak dapat terpisahkan dari kesuksesan Bulog.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close