CEO NOTES

Melaju Berkat Doa Ibu

Jujur, pantang menyerah dan menjaga hubungan baik adalah bekal nilai kehidupan yang ia emban. Atas pencapaiannya saat ini, ia yakin ada doa ibu yang mengiringi.

Sejak kecil Hendy Helmy pandai beradaptasi. Betapa tidak, masa kecilnya yang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya membuat ia harus pandai membaur dan menerima berbagai hal baru setiap saat.

Pria kelahian Malang, 24 Juli 1971 ini sempat mengarungi kehidupan di Surabaya, Jember, Bandung, Cirebon, hingga ia kembali lagi ke Kota Kembang saat SMA hingga kuliah. “Masa kecil saya bandel banget. Tetapi ayah saya selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang positif,” tukas Hendy mengenang masa lalu.

Setidaknya, ada empat nilai yang selalu diingatkan sang ayah kepada keempat anaknya, yakni kreativitas, berusaha keras, kejujuran dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Nilai-nilai tersebut ia terapkan dalam keseharian. Hendy yang saat itu duduk di bangku SMA turut membantu memasarkan komoditas cabai milik ayahnya. Sulung dari empat bersaudara ini pun tak sungkan berjualan di pasar mulai tengah malam dengan menggunakan mobil bak terbuka. Dengan kegigihannya, Hendy mampu melariskan cabai dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan sang ayah. “Saya jujur bahwa ada selisih harga dan keuntungan tersebut saya bagi dua dengan ayah,” ungkapnya.

Tak hanya membantu memasarkan cabai, sang ayah juga mahir bermain musik ini sering menantang Hendy dengan pekerjaan-pekerjaan lain, seperti ketika merenovasi rumah ataupun sekadar mengganti lampu-lampu di rumah yang mulai padam. Jika Hendy bisa mendapatkan harga yang lebih hemat, maka selisih keuntungan menjadi miliknya.

“Melalui cara-cara ini, ayah mengajarkan saya kalau kita mau berusaha pasti ada jalan, yang penting kita harus jujur. Ayah saya bilang, tidak akan dikurang-kurangi hakmu kalau kamu jujur. Semua di dunia ini rezeki, tinggal bagaimana kamu mencarinya. Itu pesan ayah,” ungkap Hendy.

Selain itu, ada satu hal lagi yang menjadi kunci sukses hidup Hendy, yakni taat pada Ibunda. Hendy yang tak dapat menahan haru ketika mulai bercerita tentang sosok Ibu ini percaya, bahwa rezeki dan karier yang diraihnya hingga saat ini adalah berkat dari doa Ibunda. “Ayah selalu mengingatkan saya agar jangan pernah membantah ibu. Apapun keinginannya, ikuti. Kalau bertentangan dengan kita, diamkan saja jangan dibantah. Ibu adalah pembuka rezeki dan pintu surga,” ujar Hendy dengan mata berkaca-kaca.

Dalam membentuk karakternya, peran Ibu lebih banyak mengisi nilai-nilai akhlak. Ibunya lah yang rajin mengingatkan Hendy untuk bersedekah, membantu sesama dan peduli terhadap keluarga. Sang Ibu pula yang mengingatkan Hendy agar sifat tersebut juga tertanam pada anak cucunya kelak.

Kini, ketika ibunya telah tiada, Hendy meneruskan baktinya dengan cara bersedekah dan meneruskan ilmu atau kebaikan yang ia peroleh sebagai amal jariyah ibunda yang tak pernah putus.

Bercita-cita Menjadi Mahasiswa ITB

Selepas menamatkan pendidikan di bangku SMA, ia bercita-cita masuk ITB. Namun sayang. Mimpinya untuk menjadi salah satu mahasiswa ITB tidak terwujud lantaran Hendy tidak lolos seleksi penerimaan. Meski masih memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk mengenyam bangku pendidikan di ITB, Hendy kembali fokus untuk menata jalur pendidikannya dengan belajar dan berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Pasundan.

Setelah lulus dari jurusan Teknik Industri Unpas pada 1996, ia mengikuti tes masuk PT KAI selama delapan bulan dan baru diterima pertengahan 1997. Berselang enam tahun, Pria berdarah Padang ini berhail mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Institut Teknik Bogor (ITB) dengan konsentrasi Manajemen Bisnis.

Sosok yang Hangat

Setahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Logistik (Kalog), Hendy Helmy memiliki mimpi besar bagi pengembangan perusahaan yang ia pimpin. Tak hanya fokus pada pengembangan perusahaan berskala global, Hendy juga mempersiapkan para insan Kalog agar memiliki kompetensi unggul sehingga mampu berkiprah di berbagai bidang usaha yang lebih luas.

Sebelum menduduki kursi nomor satu di Kalog, Hendy telah berkeliling menduduki berbagai jabatan strategis di PT Kereta Api Indonesia, sebagai induk Kalog. Ia juga berpengalaman di berbagai daerah, antara lain pernah menjabat sebagai Manajer Komersial di Cirebon selama lima bulan, kemudian 1,5 tahun di Surabaya, 10 bulan di Jakarta sebagai Senior Manajer Komersial, tiga bulan di Kantor Pusat sebagai Vice President (VP) Marketing Penumpang, VP Sales and Marketing di bagian barang, sampai EVP Pemasaran dan Sales Angkutan Penumpang selama tiga bulan. Setelah merampungkan S2, Hendy ditugaskan menjadi EVP di Daop VI Yogyakarta.

Sosok pribadi yang hangat terpancar dari gaya kepemimpinannya. Hendy membuka lebar-lebar arus komunikasi dengan siapapun, tanpa memandang level jabatan. “Kadang cerita tentang kerjaannya hanya sedikit ketimbang cerita tentang pengalaman hidup, kita kasih motivasi agar fokus dalam bekerja,” ungkap Hendy.

Kepada karyawannya, ia seringkali mengingatkan agar tidak diperbudak dengan pekerjaan, namun mampu me-manage agar tetap memiliki waktu luang dengan keluarga ataupun menjalani hobi. Tak lupa, ia mengingatkan untuk patuh terhadap orangtua, terutama Ibu. “Saya sering bilang ke tim, jangan sibuk mengejar dunia kecuali kamu sudah dapat rihda ibumu. Kalau kamu sudah dapat ridha Ibu, dunia ini milik kamu,” ungkapnya.

Menjadi Direktur Utama di Kalog, bagi Hendy, merupakan sebuah amanah dan bagian dari bisnis yang harus ia tekuni dan menangkan. Karenanya, Hendy tak pernah merasa terbebani atas perkerjaannya, meski ketika perusahaan sedang dihadapi sebuah tantangan yang besar sekalipun.

Mengutamakan Keluarga

Pria yang piawai berolahraga dan bermusik ini dikenal sebagai sosok yang ramah, mengayomi dan taktis. Begitupula di lingkungan keluarga, Hendy yang merupakan kakak sulung dari Pepep pemain drum grup musik ST 12 itu dikenal sebagai ayah yang baik, suka menolong dan sayang keluarga.

Bahkan, ungkapan spontan dan tulus pernah disampaikan sang anak ketika diminta bercerita tentang kunci sukses ayahnya. “Saat dinas di Jogja dulu, anak saya pernah diminta testimoni di hadapan tamu undangan pada sebuah acara kantor, ditanya apa kunci sukses ayahmu, dia bilang, ayah saya itu hormat pada orangtua. Padahal, saya tidak pernah bilang itu ke dia,” ungkap ayah dari Sutan Alif Fathan dan Sutan Bintang Ramadhan merasa haru.

Hendy memilih untuk memberi teladan kepada kedua buah hatinya. Meski dulu, ia selalu berpikir bagaimana mengajarkan agar anak-anak menjadi orang sukses, bagaimana agar mereka menjadi pebisnis yang baik. “Saya jadi berpikir, ngapain kita ngajari ini itu, saya cuma harus mengajarkan mereka untuk jadi orang jujur, orang yang baik, pantang putus asa dan menjaga hubungan baik. Selebihnya, biar Allah yang menjaga mereka,” ungkap suami dari Meitty Muliawatyini penuh keyakinan.

Keteladanan juga ia tunjukkan lewat sikap menyayangi, melayani dan menghormati kedua orangtua, terutama Ibu. Sebab ia berharap agar anak-anaknya kelak juga memperlakukan ibunya dengan sama, yang penuh taat dan kasih sayang. Hendy yakin, dari keberhasilan seseorang ada terselip doa ibunya.

Sebagai seorang ayah, obsesi Hendy hanyalah ingin menuntaskan kewajiban untuk menyekolahkan anak-anak. Kini, kedua jagoannya tengah mempersiapkan kelulusan SMA dan bersiap untuk melanjutkan kuliah.

Di masa tuanya nanti, Hendy ingin menikmati hidup dengan jalan-jalan keliling dunia seraya mengucap syukur atas kebesaran Tuhan yang selama ini tercurah padanya.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya
Close
Back to top button