BERITA

Industri Manufaktur Menurun, PT Barata Optimis Penjualan Meningkat 50 Persen

Jakarta, Bumntrack.co.id – Direktur Utama PT Barata, Fajar Hari Sampurno mengatakan industri manufaktur secara keseluruhan menurun sejak beberapa tahun terakhir. Sedangkan penurunan industri manufaktur di Indonesia penurunan tersebut nampak dari indikasi investasi yang berbentuk paket.

“Sejak tahun 2020, banyak investasi yang dilakukan dalam bentuk paket. Alat-alat, mesin dan equipment yang masuk ke Indonesia total impor dari luar. Sedangkan dahulu ada kewajiban investor untuk produksi alat, mesin dan equipment di Indonesia,” kata Direktur Utama PT Barata, Fajar Harry Sampurno di Jakarta, Jumat (21/20).

Untuk mengatasi tren penurunan industri manufaktur tersebut diperlukan strategi antara lain mewajibkan investor luar negeri untuk memproduksi peralatan dan perlengkapan di Indonesia. “Di Undang-Undang Pertahanan ada, minimal 35 persen diproduksi di dalam negeri,” jelasnya.

Kedua, lanjutnya, untuk mendorong industri berorientasi ekspor. Pasalnya, kecenderungan bangsa Indonesia khususnya manufaktur, hasil produksinya tidak kelihatan seperti seperti turbin, boiler, dan boogie. Sedangkan yang kelihatan adalah bentuk proyeknya seperti PLTU.

“Substitusi impor bukan harus Barata, tapi seluruhnya. Misalnya, Siemens adalah merek luar, tetapi diproduksi di dalam negeri. Oleh karena itu, saya utamakan menggunakan barang-barang produksi Indonesia,” jelasnya.

Terkait skema Barata ke depan, perusahaan sedang mengkaji beberapa kerjasama dengan pihak lain. Kerjasama tersebut antara lain membantu percepatan kilang Pertamina, membantu pembangunan PLTU PLN dan membantu pemeliharaan dan perbaikan kapal.

“Rencana 2020, kita targetkan peningkatan Ekspor hingga 2 kali lipat dari Rp430 miliar. Kalau Operation berjalan maka penjualan akan meningkat 50 persen. Sedangkan laba 2019 mencapai Rp2,2 triliun. Yang penting adalah melakukan efiensi,” jelasnya.

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close