KOLOM PAKAR

Membangun Ekonomi Berbasis Kemandirian

Jakarta, Bumntrack.co.id – VUCA (Volatile, Uncertaintly, Complexity dan Ambigue) dan BELA NEGARA adalah 2 (dua) istilah yang populer dalam ranah berbeda. VUCA populer di konteks perubahan bisnis yang DISRUPTIVE, sementara BELA NEGARA populer dalam rangka penguatan nasionalisme dan menangkal isu radikalisme. Meskipun demikian, keduanya dalam pandangan saya saling memiliki keterkaitan, dimana BELA NEGARA akan memperkuat kemampuan negara menghadapi era VUCA.

Berbicara masalah VUCA, banyak pihak baik di level NEGARA, KORPORASI, hingga UNIVERSITAS kebingungan dengan perubahan-perubahan cepat yang terjadi. Di level NEGARA, masalah BREXIT yang selalu ditolak parlemen telah membuat Perdana Menteri Theresa May mengundurkan diri. Salah satu contoh kecil kesulitan Inggris seandainya tetap exit dari UNI EROPA (menerima BREXIT) adalah masalah pasokan bahan makanan telor dan daging ayam yang tidak bisa didapatkan secara fresh, karena akan butuh lead time 2 (dua) mingguan dari negara Eropa lainnya akibat keluar dari persekutuan UNI EROPA.

Di level UNIVERSITAS, VUCA telah membuat PERGURUAN TINGGI (PT) harus merevolusi framework kurikulum dan metode pengajarannya secara lebih responsip. Adanya tekad perusahaan ternama seperti GOOGLE dll yang menyatakan rekruitmennya akan berdasarkan kompetensi, dan bukannya ijasah, telah membuat PT di dunia yang progresif terhadap VUCA berancang ancang bertransformasi tidak sekedar mandek di Komersial University (seperti PTNBH), tetapi menuju ke VIRTUAL UNIVERSITY hingga DISRUPTIVE UNIVERSITY.

VIRTUAL UNIVERSITY merupakan PT yang pengajarannya tidak butuh kehadiran mahasiswa, tetapi bisa dilakukan dengan cara ONLINE dengan modul-modul pengajaran yang termanajemen dengan baik (MOOC/MOOL) tanpa kehadiran mahasiswa. FEB UI yang saya tahu cukup serius membuat modul-modul berkualitas ini, seperti Prof Iwan Jaya Aziz (IJA) yang menggaet banyak pakar ekonomi luar negeri untuk membuat modul Economic Development, dan relative pakar luar negeri ini free of charge karena kepakaran dan network Prof IJA)

Sementara DISRUPTIVE UNIVERSITY adalah PT yang tidak mengeluarkan IJASAH maupun butuh pengakuan pemerintah (seperti: peringkat AKREDITASI) maupun pendanaan dari pemerintah. DISRUPTIVE UNIVERSITY sepenuhnya menjaminkan akreditasinya pada pengakuan USER dan lembaga pemeringkat dunia yang bebas dari campur tangan regulator konvensional (pemerintah). Era DISRUPTIVE UNIVERSITY ini sedang dimulai di beberapa negara maju, meskipun memang belum tertata frameworknya.

Apa dampak positip dari semua perubahan tersebut? Saya berpendapat bahwa kebutuhan USER (contoh: GOOGLE) yang tidak butuh ijasah (sekedar kertas) akan memaksa: (1) BISNIS PROSES PT menghasilkan lulusan yang KOMPETEN sesuai dengan kebutuhan BISNIS PROSES USER. Dengan demikian, konsep LINK and MATCH yang sejak dahulu kala jadi jargon akan secara OTOMATIS dan ALAMI akan terjadi. (2) Mendudukkan LEVELING pendidikan sesuai dengan konsep seharusnya. Artinya lulusan VOKASI akan fokus pada keahliannya di PRAKTEK LAPANGAN, sedangkan lulusan SARJANA dikonsep pemikiran problem solving dan modelingnya, sehingga tidak ada lulusan SARJANA tapi kalah pintar problem solvingnya dibandingkan VOKASI. Atau lebih ekstrim lagi lulusan DOKTOR tapi kalah pemikirannya dibandingkan lulusan SARJANA S1. Jangan sampai ada candaan bahwa ternyata kuliah DOKTOR di PT. ABX ternyata lebih mudah dibandingkan cari parkir mobil.

Bagaimana dengan di level KORPORASI? VUCA cukup banyak menyita perhatian sehingga memaksa korporasi mendesain langkah INOVATIF, melalui KOLABORASI dalam mencapai SINERGI. Meskipun demikian, saya menilai bahwa kolaborasi dan sinerginya masih bersifat sporadis dan sektoral

Saya berpendapat bahwa negara yang siap dengan VUCA adalah yang kolaborasi TRIPLE HELIX ++ nya kuat, seperti JEPANG melalui aliansi SOGO SOSHA nya dengan MITI pemerintah Jepang, KORSEL dengan aliansi CHAEBOL nya. Disisi lain, negara-negara dengan BISNIS INTELIJEN kuatlah yang akan bertahan dan leading seperti PERANCIS, INGGRIS, JERMAN, FINLANDIA dll.

Dengan kata lain, hanya negara dengan kemampuan BISNIS INTELIJEN dan KOLABORATIF ABG yang kuatlah yang akan bertahan melewati era VUCA, karena mampu MEMPREDIKSI, MENGANTISIPASI, dan MENCIPTAKAN kemandirian ekonominya.

BISNIS INTELIJEN yang dilakukan negara-negara maju tersebut adalah meliputi RISET INTELIJEN, karena riset tersebut akan menentukan invensi selanjutnya, yang ujung-ujungnya meningkatkan DAYA SAING negara menghadapi era VUCA yang SUPER DISRUPTIVE.

Bagaimana dengan INDONESIA? Mampukah kita bertahan di era VUCA, serta melewatinya dengan baik? Dan bagaimana relevansi kita mempersiapkan diri menghadapi VUCA dalam konteks BELA NEGARA yang inovatif?
(Bersambung tulisan selanjutnya)

Ditulis oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Akademisi dari Manajemen Bisnis – ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close