BERITA
Trending

Model Bisnis Baru di Era Kenormalan Baru

Oleh: Noveri Maulana – Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Pada awal Juni geliat perekonomian masyarakat perlahan kembali terlihat membaik di berbagai daerah. Sejak pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan dimulainya gagasan tatanan kehidupan kenormalan baru (new normal), kini masyarakat mulai membuka bisnis mereka yang sebelumnya terhenti karena situasi penyebaran Covid-19 yang tinggi.

Selama pemberlakuan kebijakan PSBB pada daerah yang terjangkit Covid-19, kegiatan usaha dan aktivitas perekonomian masyarakat nyaris stagnan, bahkan sebagian tak bisa beroperasi. Berbagai sektor usaha dan kegiatan bisnis terkena dampak yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Banyak “penderitaan” yang disuarakan oleh pelaku usaha di masa pandemi Covid-19. Berbagai strategi sudah coba diimplementasikan, namun sebagian tak berjalan sesuai harapan.

Menjelang masa kenormalan baru diterapkan, banyak pengusaha sudah mulai menyusun strategi baru bagi keberlanjutan bisnis mereka. Ada yang berupaya membangkitkan strategi sukses lamanya, namun tak sedikit yang mencoba beradaptasi dengan pelbagai perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Ada yang kembali berbisnis seperti semula, ada yang menerapkan nilai tambah baru pada produknya, dan bahkan tak sedikit pula yang harus mengubah model bisnisnya. Strategi bertahan menjadi andalan bagi banyak pelaku usaha di tengah pandemi ini.

Berangkat dari kegelisahan para pelaku usaha ini, era kenormalan baru menjadi sebuah harapan dan momen bagi para pelaku usaha untuk kembali mengevaluasi model bisnis mereka. Evaluasi pada model bisnis akan membantu para pelaku usaha untuk melahirkan inovasi baru bagi proses bisnis mereka. Dengan harapan para pelaku usaha bisa semakin baik dalam memahami model bisnis yang dijalankan, sehingga akan semakin baik pula rencana strategi yang bisa dipersiapkan.

Salah satu kerangka kerja dalam melakukan evaluasi model bisnis tersebut adalah dengan menggunakan analisis Business Model Canvas (BMC). Alat analisis ini dicetuskan oleh Osterwalder & Pigneur (2010) yang menjadi populer di dunia bisnis internasional. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa BMC menjadi salah satu metode yang bisa dipahami dengan mudah, cepat, namun tetap menjelaskan model bisnis secara komprehensif.

Kerangka BMC mengajak kita untuk memahami proses bisnis dari hulu hingga ke hilir yang digambarkan dalam model bisnis yang tertuang pada satu halaman kanvas atau kertas. Itulah kekuatan BMC, satu halaman yang bisa menjelaskan dengan baik hubungan antarkomponen di dalam proses bisnis yang dijalankan.

Dalam satu halaman kanvas tersebut, pelaku usaha harus mampu menggambarkan sembilan elemen (building blocks) yang saling berhubungan. Kesembilan elemen tersebut adalah Value Proposition, Customer Segment, Channel, Customer Relationship, Revenue Stream, Key Activities, Key Resources, Key Partner, dan Cost Structure.

Hubungan kesembilan elemen dalam satu halaman tersebut, menjadi kerangka dasar untuk melihat apakah sebuah model bisnis tersebut logis untuk dijalankan atau tidak. Semakin rasional hubungan antar elemen, akan semakin baik pula proses bisnis yang direncanakan.

BMC membantu top management untuk merasionalisasi ide atau inovasi bisnis yang akan dijalankan. Sederhananya, BMC membantu kita untuk mewujudkan wacana menjadi rencana. Di saat yang serba tidak menentu ini, yakni dunia bisnis yang sedang mengalami keadaan penuh gejolak (Volatility), tidak pasti (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba kabur (Ambiguity) atau dikenal dengan sebutan (VUCA).

Kemampuan beradaptasi dengan kondisi di luar perusahaan sangat penting untuk ditingkatkan. Pebisnis harus berpikir dinamis, tidak boleh statis. BMC membantu kita untuk berpikir dinamis tersebut.

Misalnya, di saat pandemi ini, banyak perusahaan yang terkena dampak hingga harus gulung tikar. Sebagian lagi ada yang coba beradaptasi dengan berpindah platform ke channel online. Namun sebagian lainnya mungkin tidak mudah beralih ke dunia online. Oleh karena itu, inovasi model bisnis bisa dilihat dari elemen BMC lainnya, entah itu melakukan perubahan model bisnis pada bagian Customer Segment, Key Activities, atau bahkan melakukan perubahan pada Value Proposition yang ditawarkan kepada pelanggan.

BMC bisa membantu perusahaan dalam melahirkan inovasi bisnis sama seperti halnya membangun sebuah rumah. Seorang kontraktor rumah akan membuat cetak biru (maket) dari bangunan yang akan dikerjakan. Maket adalah bentuk rasionalisasi dari ide desain bangunan yang ada di dalam kepala arsitek atau kontraktor. Apabila maket dibuat dengan tidak logis, atau bahkan salah ukuran, tentu nanti tukang bangunan yang bekerja di lapangan juga akan bisa salah ambil keputusan untuk membangun dan memilih material yang digunakan. Analogi tersebut sama halnya dengan metode BMC.

BMC adalah maket-nya bisnis yang akan dijalankan. Karena itulah, orang yang menyusun BMC merupakan bagian dari top level management atau tim yang ditugaskan sebagai think tank perusahaan. BMC yang baik dan mudah dipahami tentu akan memudahkan seluruh komponen di perusahaan untuk menjalankan strategi bisnisnya kelak.

Karena BMC ini nantinya akan diturunkan menjadi strategi bisnis dan menjadi panduan dalam proses bisnis hingga level terbawah di perusahaan. Jadi, kalau satu elemen BMC disusun dengan kurang tepat, maka nanti karyawan di perusahaan akan ragu dan bingung menjalankan strategi bisnis perusahaannya.

Inovasi Model Bisnis dengan BMC
Apakah inovasi model bisnis dilakukan dengan mengubah seluruh elemen BMC tersebut? Jawabannya bisa saja tidak. Dari sembilan elemen tersebut, kita bisa memilih salah satu building blocks yang akan dilakukan inovasi perubahan.

Namun perlu diingat, kesembilan bagian dalam BMC memiliki hubungan antara satu dengan lainnya, maka bisa jadi perubahan pada satu elemen juga akan mengubah elemen-elemen lainnya. Intinya, rasionalisasi ide yang diusulkan harus mampu dipahami secara logis dengan kerangka BMC yang baik dan benar.

Ladd (2017) dalam risetnya yang berjudul “Does Business Model Canvas Drive Venture Success?” mengungkapkan bahwa perusahaan yang mampu menerapkan BMC dengan baik, maka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memenangkan persaingan di tengah pasar. Lebih lanjut Ladd menyarankan bahwa perusahaan bisa fokus pada tiga elemen yang paling besar pengaruhnya dalam membangun model bisnis yang kompetitif, yaitu Customer Segment, Value Proposition, dan Key Activities. Tiga elemen ini memiliki skor pengaruh yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan elemen BMC lainnya.

Oleh karena itu, di era kenormalan baru ini, perusahaan bisa melakukan inovasi model bisnis mereka dengan fokus pada evaluasi tiga elemen utama BMC tersebut. Inovasi pada Value Proposition misalnya dengan menambah manfaat bagi konsumen dari produk yang ditawarkan. Bisa juga inovasi pada komponen customer segment dengan menyasar target pasar yang baru, entah dengan pendekatan market development maupun dengan pendekatan market penetration. Bisa juga menerapkan inovasi pada key activities, melakukan proses produksi tambahan untuk menjamin lahirnya nilai tambah baru bagi konsumen.

Sebagai contoh, beberapa restoran dan rumah makan menerapkan kantong dan ikat pengaman khusus ketika melakukan delivery pesanan via ojek online. Hal ini untuk memberikan kenyamanan dan kepastian kebersihan bagi pelanggan. Tentu, penambahan ikat pengaman dan kantong khusus untuk pengiriman ini merupakan bagian dari upaya pengusaha dalam memberikan value proposition baru bagi pelanggan mereka. Tentu dengan hadirnya value proposition baru tersebut juga mengharuskan adanya key activities baru yang harus dilakukan dalam proses bisnis di internal perusahaan.

Itulah sekelumit contoh bagaimana inovasi model bisnis bisa dilakukan dengan mengevaluasi elemen yang ada pada BMC. Berbagai inovasi yang bisa dilahirkan di tengah pandemi ini menjadi kunci keberhasilan dan juga keberlanjutan bisnis yang akan dijalankan kembali.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close