BERITA

Optimalisasi Layanan Digital, Pandemi Covid-19 Justru Membuat Transaksi JFX Meningkat

Jakarta, Bumntrack.co.id – Secara global, pandemi Covid-19 telah banyak memukul tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, justru saat pandemi, minat investor untuk bertransaksi di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) naik signifikan. Hal tersebut terlihat dari target BBJ tahun 2020 hingga pertengahan bulan November telah melebihi dari target 8,25 juta Lot, yaitu sebesar 8,252 juta Lot atau 0,03 persen.

“Pandemi Covid-19 justru membuat transaksi di BBJ meningkat. Hal itu didukung kesiapan BBJ yang dilakukan sebelum pandemi, salah satunya optimalisasi teknologi tanpa tatap muka atau online. Selain itu, pergerakan harga komoditi di market juga turut memengaruhi minat masyarakat untuk berinvestasi. Seperti pada Mei lalu, harga minyak menyentuh titik negatif, sedangkan emas dan kopi volatilitasnya cukup fantastis,” kata Direktur Utama Jakarta Futures Exchange, Stephanus Paulus Lumintang di Jakarta, Rabu (18/11).

Meskipun hingga pertengahan bulan November ini, kontrak Multilateral baru mencapai 83 persen dari target, namun kami yakin pada akhir tahun akan dapat mencapai target. Kinerja perdagangan hingga 16 November 2020, terdapat kenaikan yang signifikan, sebesar 22,46 persen yaitu 8.252.710,24 Lot dari 6.739.081,55 Lot di tahun 2019 dengan periode yang sama.

Hingga pertengahan November 2020, Volume transaksi untuk kontrak Multilateral telah mencapai 1.450.030 Lot, dari yang ditargetkan sebesar 1.750.000 Lot. Sementara itu, volume transaksi untuk kontrak Bilateral, telah melampaui target yaitu sebesar 6.802.680,24 Lot dari 6.500.000 Lot yang ditargetkan atau sebesar 4,65 persen.

BBJ menargetkan volume transaksi mencapai 10 juta lot dengan strategi antara lain memperluas kerjasama dengan bursa dan pelaku pasar di luar negeri, sinergi dengan stakeholder baik regulator, asosiasi, anggota bursa, dan pelaku usaha akan terus ditingkatkan.

“Pencapaian volume transaksi di JFX membuktikan bursa berjangka komoditi punya daya tahan terhadap kontraksi ekonomi,” kata Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi.

Menurutnya, pencapaian volume transaksi di Bursa Berjangka Jakarta merupakan hal yang positif bagi Industri Perdagangan Berjangka Komoditi, ditengah pandemi yang melanda Indonesia sejak awal tahun. Ini semua merupakan bukti bahwa industri perdagangan berjangka komoditi cukup tahan terhadap kontraksi ekonomi, baik nasional maupun global.

“Terkait transaksi Multilateral, merupakan pekerjaan rumah bagi semua pemangku kepentingan, untuk kedepan bisa meningkatkan volume transaksi. Hal ini karena khittahnya industri perdagangan berjangka komoditi adalah transaksi multilateral,” pungkasnya.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button