BERITA

Pasca Rampungkan Restrukturisasi Keuangan, INTI Hemat Fixed Cost Hingga 30 Persen

Jakarta, BUMN TRACK – PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI mencatatkan penghematan biaya tetap (fixed cost) hingga lebih dari 30% dan sejumlah pencapaian strategis. Hal tersebut berkat rampungnya proses restrukturisasi utang yang berakhir dengan hasil positif.

“Proses yang telah berlangsung selama 195 hari tersebut berakhir dengan Homologasi atau Perdamaian,” kata Senior Vice President Corporate Secretary PT INTI (Persero), Delvia Damayanti dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (20/02).

Putusan tersebut lahir setelah proses voting yang berujung kesepakatan dari mayoritas kreditor, dengan komposisi hasil voting untuk Kreditor Separatis baik Headcount maupun Amount terkalkulasi sebesar 100%. Sementara itu, untuk Kreditor Konkuren Headcount 98,04% dan Amount 94,06%.

Menurutnya, komposisi tersebut merepresentasikan bahwa proses yang dijalani Perseroan ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk mayoritas kreditor, yang pada akhirnya sepakat dan yakin bahwa PT INTI (Persero) pantas untuk diselamatkan, sanggup untuk mengimplementasi semua hal yang tercantum dalam perjanjian perdamaian, serta memiliki kemampuan pemenuhan kewajiban usaha terhadap kreditor.

“Proses restrukturisasi keuangan ini tentunya memberikan multiefek yang sangat signifikan untuk Perseroan, yang salah satunya, secara buku membuat balance sheet kita menjadi jauh lebih positif. Dan, tahapan berproses ini tentunya memberikan pelajaran dan peningkatan value bagi INTI Group secara jangka panjang,” tambahnya.

Selain itu, hasil restrukturisasi keuangan itupun menegaskan bahwa PT INTI (Persero) telah memiliki landasan hukum yang kuat untuk terus beroperasi serta terbebas dari proses pailit. Bahkan, hasil restrukturisasi keuangan itu nantinya akan mempercepat transformasi menuju arah perusahaan yang lebih baik, sekaligus pemenuhan tanggung jawab terhadap seluruh kreditor.

Selanjutnya, Delvia Damayanti lanjut menjelaskan bahwa proses restrukturisasi keuangan tersebut berjalan beriringan dengan program restrukturisasi keuangan yang terdiri dari aspek berikut:

  • Penyelesaian carry-over issue melalui restrukturisasi utang dan model, jaminan kepastian pada kreditor, serta pengembangan dan restruktusasi laporan keuangan.
  • Cash Optimizing melalui pendanaan dari institusi non-perbankan, pembiayaan vendor, dan manajemen cashflow.
  • Optimalisasi aset perusahaan.
  • Subsidiary Streamlining melalui penyehatan, pembekuan, dan divestasi anak perusahaan dan afiliasi.
    Restrukturisasi yang tengah berlanjut tersebut terbukti secara bertahap telah menunjukkan sinyal positif pada sejumlah variabel keuangan. Di antaranya yaitu pertumbuhan pendapatan year on year sebesar 63%, yang didominasi dari proyek pemerintah dengan kenaikan hingga 14 kali dari periode yang sama pada tahun 2022, di antaranya sebagai berikut:
  • Sentralisasi Aplikasi Surat Izin Mengemudi (SIM) Online Terpusat di Seluruh Indonesia dari Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang ditargetkan siap Go Live pada awal tahun 2024. Aplikasi SIM Online ini akan diimplementasikan di seluruh lokasi Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah yang tersebar di 34 Provinsi dengan total area sebanyak 856 lokasi.
  • Pembangunan dan Implementasi Alat Ukur Electromagnetic Compability (EMC) di Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) yang digunakan untuk menjalankan aspek penilaian kesesuaian teknis (pengujian) Alat dan Perangkat Telekomunikasi yang wajib memenuhi kewajiban EMC.
  • Pembangunan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) Wilayah Indonesia untuk 27 Provinsi, dengan sebaran total lokasi sekitar 10.468 titik. Pembangunan PJU-TS ini merupakan salah satu program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait aspek pengendalian penggunaan energi untuk memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).
  • Produksi 1 juta chipset yang dialokasikan untuk dua bank BUMN terbesar di Indonesia.
  • Penggarapan proyek bisnis Out Site Plant di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Barat dari tiga perusahaan BUMN dan swasta nasional, yang akan terus diperluas ke seluruh telecommunication company di Indonesia.
    Selain itu, produktivitas per karyawan mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 94% disebabkan dari implementasi Rightsizing Human Capital Program dan Leaning Organization.

Artikel Terkait

Back to top button