BERITA

Sugiharto: AKHLAK, Core Value Membangun Budaya Korporasi BUMN

Jakarta, Bumntrack.co.id – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2004-2007, Sugiharto mengungkapkan bahwa kesuksesan yang dicapai seseorang dalam memanajemen sebuah perusahaan adalah pengelolaan emosi. Hal tersebut termasuk dalam salah satu core value BUMN yang digadang-gadang Erick Tohir yaitu AKHLAK; Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif.

“Pemimpin agar bisa diterima di perusahaan yang baru kuncinya adalah adaptibility. Tolong, menjadi pemimpin yang rendah hati beradaptasilah dengan lingkungan baru. Seperti contoh, ketika kita pindah dari perusahaan yang besar dengan manajemen dan SDM yang mayoritas muda, kemudian harus pindah ke perusahaan dengan SDM yang kebanyakan orang tua, maka yang perlu dilakukan pemimpin adalah beradaptasi terlebih dahulu,” kata Menteri BUMN era Presiden SBY, Dr Sugiharto dalam Workshop & Diskusi Panel dengan tema AKHLAK Mulia Sebagai Core Value Membangun Budaya Korporasi BUMN di Jakarta, Rabu (26/8).

Selain itu, dalam seluruh agama menyiratkan bahwa kriteria pemimpin yang baik adalah pemimpin yang Fathanah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh. Kriteria tersebut termaktub jelas dalam core value menteri BUMN Erick Thohir. Seorang pemimpin perusahaan yang ideal juga harus memiliki lima karakter kriteria AVIRA, yaitu adaptability, visionary, innovative, responsible, dan actuation.

“Sekitar 80 persen kesuksesan itu karena kemampuan mengelola emosi meliputi Behavior, Attitude dan Value. Sisanya performance, ilmu dan keahlian,” terangnya.

Menurutnya, implementasi Akhlak dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk. Salah satunya mengelola emosi dan melandaskan pekerjaan pada ibadah. “Saya melihat di medsos betapa Menteri Kesehatan sudah seperti pesakitan ketika RDP dengan DPR. Bagi saya, kalau dimarahi orang, saya senyum. Karena saya sedang menikmati, Tuhan sedang memberikan kesabaran terhadap diri saya,” terangnya.

Memilih Direksi dan Komisaris Terbaik

Ketika dirinya menjabat sebagai Menteri BUMN, dirinya memilih jajaran direksi sesuai dengan kriteria AKHLAK. Pertama, menggunakan sistem administrasi yang sudah ada. Misalnya, Direksi dan komisaris PTPN dan RNI jatuh tempo dalam waktu yang sama. Misalkan dalam satu pos itu ada 3 calon, sedangkan dalam satu perusahaan ada 5 direktur dan 5 komisaris, maka itu berarti ada ratusan orang yang harus diseleksi dalam waktu yang singkat.

“Nah tiap perusahaan BUMN itu punya mapping sendiri, yang paling tahu, ya perusahaan BUMN itu sendiri. Nama yang sudah layak baru dimasukkan ke kementerian BUMN. Contohnya, Telkom memiliki assesment internal untuk memilih yang terbaik.

Dirinya tidak menampik bahwa dalam memilih jajaran direksi dan komisaris rawan konflik. Oleh sebab itu, ketika assesment calon direksi dan komisaris dipasang dan direkam melalui CCTV. Kedua, penilaian Key Performance Index (KPI) dari internal dan independen. KPI tersebut dibuat matrik kenapa seseorang bisa layak menjadi direksi dan komisaris.

“Jangan kaget kalau jadi Menteri itu tidurnya cuma tiga jam. Nah, kalau Menteri terus menerus melakukan fit and profer test komisaris dan direksi, kapan kerjanya (membangun Indonesia),” tegasnya.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button