KOLOM PAKAR

Tanggung Jawab Membangun Bisnis Ekosistem dan Laporan World Bank 2019

Jakarta, Bumntrack.co.id – Membaca posting tulisan prof Rhenald Kasali berjudul: Orang Berduit Bakar Uang, Apa Salahnya? membuktikan bahwa bisnis konvensionalpun sejak dulu juga BANTING HARGA, analog dengan BAKAR UANG sebagaimana istilahnya di era disruptive.

Meskipun demikian, BANTING HARGA maupun BAKAR UANG akan tergantung pada kekuatan napas dari pemainnya, sehingga dibutuhkan hitung-hitungan yang tepat apakah penciptaan NETWORK EFFECT dari pengorbanan tersebut akan sebanding dengan peningkatan VALUASI yang diperoleh organisasi bisnis. Sebagai contoh: saham Jack Ma di Alibaba boleh TERDILUSI hingga hanya 17%, tetapi kalau nilai valuasi Alibaba akibat BAKAR UANG dari masuknya investor pembeli sahamnya mampu meningkatkan nilai Alibaba 100 kali lipat, maka riil sisa saham 17% itu sebenarnya memiliki nilai valuasi 1,7 kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Pertarungan bisnis tradisional dalam memperebutkan market sama juga mekanismenya. Ditingkat bisnis retail yang sederhana saja seperti kain batik printing, entitas bisnis dalam hal ini pedagang besar yang didukung oleh produk import batik China berani BAKAR UANG dengan BANTING HARGA sedemikian, sehingga produk-produk tekstil dalam negeri megap-megap. Pedagang besar tersebut berani banting harga dan siap rugi hingga 1 sd 2 TAHUN, asal mereka kemudian akan menjadi penguasa pasar karena pesaingnya sudah tumbang. Inilah kasus riil yang terjadi di PASAR BERINGHARJO JOGJA, pasar tradisional batik terbesar tetapi yang dijual bukan produk dalam negeri, melainkan produk import.

Ditingkat bisnis yang lebih canggih, industrialisasi dan transfer teknologi mesin diesel yang dinisiasi oleh DOOSAN Korea dengan beberapa BUMN seperti BBI, BARATA, PINDAD dll nya mungkin juga akan mengalami kendala yang sama. Mengapa demikian? Karena pada saat kita ingin membangun industry permesinan diesel, sudah ada importer mesin yang sama dan eksis mensuplai pasar. Oleh karena itu, membangun bisnis apapun memang harus memperhatikan BISNIS EKOSISTEM nya, tidak sekedar manufakturnya, sehingga mampu mengeliminir distorsi-distorsi yang terjadi pada mekanisme penetrasi pasar yang ada.

Dan hanya pemerintahlah yang mampu meleverage penciptaan BISNIS EKOSISTEM tersebut, dengan menggandeng komponen TRIPLE HELIX ataupun PENTA HELIX. Penta Helix merupakan Triple Helix PLUS PLUS dengan menambah komponen Akademisi, Bisnis, Government dengan Komunitas dan Media.

Siapa yang harusnya mampu meleverage penciptaan BISNIS EKOSISTEM tersebut? Saya beropini dengan penuh harap bahwa Menko Perekonomian yang berperan banyak. Dengan kata lain, setiap ada investasi yang masuk di Kemenko Maritim dan Investasi, maka Menko Perekonomian perlu menghubungkan TITIK-TITIK stakeholder yang ada (Kemenkeu, Kemendag, Kemenlu, BUMN, PMA, SWASTA, Asosiasi dll) menjadi bentuk yang kita namakan BISNIS EKOSISTEM. Inilah proses kreatif ditingkat kebijakan yang perlu dilakukan, sebagaimana yang dimaksud oleh Fabio Moioli dari Microsoft.

Semoga tugas membangun BISNIS EKOSISTEM, dan juga termasuk mendesain GLOBAL SUPPLY CHAIN industri dan perekonomian kita bisa dilakukan dengan cepat dan tepat oleh Menko Perekonomian Ir. Airlangga Hartarto. Saya yakin peran dan jabatan Menko Perekonomian sangat vital bagi kemajuan daya saing Indonesia ditingkat global, plus di era VUCA ini.

Apa bukti peran menko perekonomian sangat vital? WORLD BANK saja menyerang beliau 2 kali, pertama pada rilis laporan bulan September 2019 saat akan pemilihan pembantu presiden (mentri) dengan isu Indonesia tidak masuk dalam GSC Mobil Listrik Dunia. Kedua adalah dalam rilis laporan akhir tahun WB 2019 tentang kualitas pendidikan yang dihubungkan dengan ketidaksiapan Indonesia menjalani REVO 4.0 pada saat munas Golkar. Yang jadi pertanyaan kreatif adalah: Kenapa WB, yang notabene bukan memiliki tupoksi seperti UNESCO, harus bicara masalah kualitas pendidikan, serta membungkus laporannya dengan terminology ketidaksiapan REVO 4.0? Mhn diingat oleh WB, bahwa Indonesia adalah rank 5 dalam potensi start up global berbasis IOT.

Ditulis Oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Akademisi Manajemen Bisnis – ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close