BERITA

Utang Membahayakan, Ini Jawaban Waskita Karya

Jakarta, Bumntrack.co.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk sebagai perusahaan BUMN yang berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur menepis anggapan bahwa utang yang dipikul perseroan menuju ambang batas yang mengkhawatirkan. Perseroan menilai, utang yang dipikul Waskita Karya masih dalam batas yang wajar apabila diliat dari kondisi keuangan. Saat ini total aset Waskita Karya sampai Juni 2019 mencapai Rp132 triliun dengan cagr 77,5. Sedangkan liability perseoran mencapai Rp103 triliun.

“Memang meningkat dibanding 2014. Akan tetapi kalau perseroan mau maju, (utang) harus meningkat. Kalau mau slow aja, ya nggak jauh dari Rp9 triliun. Seandainya kita mau berkembang, kita harus berani berutang, konsekuensinya ya pendapatan harus tinggi, labanya harus tinggi. Impactnya, tidak semua proyek bisa menggunakan modal sendiri, tapi kita juga menggunakan sumber daya lain, biasanya liabilitiasi atau utang,” kata Direktur Keuangan Waskita Karya, Haris Gunawan di Jakarta, Kamis (26/9).

Lebih lanjut dikatakan bahwa sampai dengan Juni 2019, liabilitas mencapai angka Rp77,2 triliun. Angka tersebut 2,6 kali dari nilai equity perseroan. “Sedangkan batas atas obligasi adalah 3 kali. Jadi sebetulnya kita masih punya room 0,4 kali untuk meleverage pinjaman atau utang dari luar,” terangnya.

Terkait tingginya utang, dirinya beralasan ada dua hal yang menjadi dasar yaitu proyek yang dijalankan membutuhkan return investasi yang panjang, dan sistem pembayaran menggunakan turnkey. “Lini bisnis waskita pada 4 tahun yang lalu banyak investasi di jalan tol. Sedangkan investasi jalan tol ini membutuhkan banyak modal untuk membangun. Tingkat return atau pengembalian dari investasi jalan tol itu paling cepat 7 tahun. Selama 1 sampai 7 tahun, perseroan akan menggunakan modal kerja yang cukup besar, sehingga menjadi ekuitas tinggi,” terangnya.

Kedua, lanjutnya, proyek-proyek Waskita Karya banyak menggunakan sistem pembayaran menggunakan turnkey. Turnkey yang paling besar saat ini adalah tol Sumatera dengan owner Hutama Karya. Ditargetkan proyek tol sumatera pada awal Oktober akan diresmikan oleh presiden dengan total nilai kontrak Rp13 triliun.

“Kita yakin bahwa tahun ini Rp13 triliun akan cair. Sekitar 70 persen dari uang tersebut akan kita gunakan untuk menurunkan utang perusahaan,” jelasnya.

Seperti diketahui, Tol Sumatera merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan skema Turnkey, dimana pembayaran akan diperoleh perseroan setelah proyek selesai dikerjakan. Adapun proyek-proyek tersebut terdiri dari Tol Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, Transmisi Listrik di Sumatera, dan LRT Sumatera Selatan. Selain in, Perseroan juga melakukan pengembangan bisnis berupa investasi pada 18 ruas jalan tol di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Aktivitas tersebut membutuhkan pendanaan yang alap besar.

Waskita Karya akan menerima arus kas masuk sebesar Rp40 triliun selama tahun 2019. Angka tersebut terdiri atas pembayaran proyek turnkey Rp26 triliun yang selesai pada 2019 dan Rp14 triliun dari proyek konvensional dengan skema progress payment.

Sampai dengan saat ini Perseroan sudah menerima pembayaran Rp13,1 triliun yaitu Rp3,4 triliun dari proyek turnkey dan Rp9,7 triliun dari proyek konvensional. Diantaranya peneriman dari proyek LRT Sumatera Selatan sebesar Rp2,3 triliun pada awal September 2019. Nilai tersebut di atas belum termasuk rencana penerimaan pengembaIian dana talangan tanah dari LMAN. Kas masuk ini akan digunakan untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan juga untuk meningkatkan kapasitas pendanaan. Dan menurunan posisi hutang Perseroan.

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close