Jakarta, Bumntrack.co.id – Sepanjang kuartal I tahun 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi senilai Rp37,2 triliun atau Rp18,0 triliun bila dihitung berdasarkan EBITDA.
Meskipun ada kenaikan pendapatan konsolidasi sebesar 1,5% YoY, Telkom mengalami penurunan laba bersih dari Rp5,8 triliun di Kuartal I tahun sebelumnya menjadi Rp4,3 triliun. Penyusutan terjadi karena dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi.
Pada saat yang sama, Telkom menilai kinerja operasional tetap terjaga. Hal tersebut dibuktikan dengan pertumbuhan arus kas operasional perseroan sebesar 3,1% YoY dan diwujudkan dengan efisiensi TOTEX serta disiplin penagihan.
“Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap guna memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat dan negara,” ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, dalam keterangan resmi yang diperoleh di Jakarta pada hari Rabu (3/6/26).
Telkom menginputkan tiga rupa kenaikan angka dalam segmen Business-to-Customer (B2C) (Mobile dan Fixed Broadband), yakni pertumbuhan pendapatan konsolidasi sebesar 1,3% YoY, peningkatan 2,3% YoY pada payload data, dan kenaikan .Average Revenue Per User (ARPU) menjadi Rp45.100.
Kehadiran angka-angka tersebut tidak lepas dari realita bahwa konsumsi internet dalam masyarakat mengalami pertumbuhan tanpa henti mengingat internet sudah dipandang sebagai salah satu kebutuhan yang mendasar.
Pada segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure, Telkom mengumpulkan pendapatan bernilai Rp 2,4 T atau mengalami kenaikan 6,8 YoY. Hasil tersebut ditopang oleh performa yang baik dari salah satu anak perusahaan Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel).
Mitratel mendulang perolehan yang positif di Kuartal 1. Pada aspek finansial, Mitratel mencatat pertumbuhan menyentuh 1,4% YoY sekaligus menjaga kestabilan EBITDA di margin 82,7%. Dalam ruang lingkup bisnis, Mitratel telah sukses berkembang melalui ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Dalam segmen yang sama, Telkom mencatat dua temuan dalam laporan. Pertama, performa bisnis data center oleh NeutraDC Group perlu ditingkatkan karena berkembangnya industri digital. Kedua, unit Wholesale & International Service menghasilkan pendapatan berjumlah Rp2,8 T, seiring dengan lonjakan aktivitas international wholesale voice business.
Telkom turut mencantumkan angka Rp3,1 triliun sebagai pendapatan pada segmen B2B ICT. Berbeda dengan sektor infrastruktur, aktivitas B2B ICT mengalami kelandaian akibat proses restrukturisasi demi posisi dan hasil akhir yang lebih baik di masa yang mendatang.
Performa pada kuartal I tidak lepas dari dua langkah strategis yang ditempuh, yakni pengaplikasian visi TLKM 30 serta efisiensi operasional dalam bentuk inisiatif streamlining, penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo, divestasi, merger, dan likuidasi entitas non-core.
Dalam rangka meningkatkan performa, Telkom melakukan upaya-upaya seperti memastikan spin-off fase kedua bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dengan InfraNexia rampung pada kuartal III tahun 2026 serta mendorong pertumbuhan melalui monetisasi aset dan infrastruktur ke pasar eksternal.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis, menghadirkan layanan yang semakin inklusif, serta membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas,” pungkas Dian.
Bagi Telkom, hasil yang baik di awal tahun bukan hanya soal Institusi yang mencetak laba untuk negara. Sebagai BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi, menciptakan ekosistem digital yang resilien dan transformatif adalah hal yang hendak dicapai oleh Telkom sebelum pergantian dekade.
Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka








