Strategi KAI Menuju NZE 2060, Elektrifikasi Infrastruktur Hingga Dekarbonisasi

E-Magazine November - Desember 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id. – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyusun Strategi Net Zero Emission PT KAI sebagai langkah jangka panjang untuk menurunkan emisi dan mendukung target emisi nol bersih (Net Zero Emission/NZE) Indonesia pada tahun 2060.

Strategi tersebut dipaparkan dalam kegiatan Towards a Green Rail Future: Delivering a Decarbonized Railway in Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Four Points by Sheraton Jakarta, Kamis (11/6), dengan dukungan Pemerintah Inggris melalui program UK Partnering for Accelerated Climate Transition (UK PACT) yang diimplementasikan oleh Palladium bersama Kynergy Consulting.

Penyusunan strategi ini juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang mitigasi perubahan iklim di sektor transportasi. Melalui strategi tersebut, KAI menetapkan empat arah utama pengurangan emisi, yaitu elektrifikasi jalur rel, peningkatan efisiensi operasional, pemanfaatan energi yang lebih bersih, serta penyerapan karbon melalui program penghijauan.

Langkah ini berangkat dari posisi kereta api sebagai salah satu moda transportasi dengan tingkat emisi yang relatif rendah. Berdasarkan kajian yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, kereta api menyumbang sekitar 1 persen dari total emisi gas rumah kaca sektor transportasi nasional, sementara kendaraan darat mencapai sekitar 89 persen.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa transportasi berbasis rel memiliki peran penting dalam mendukung agenda transisi energi nasional karena mampu melayani mobilitas dalam jumlah besar dengan emisi yang lebih rendah.

“Kereta api memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan emisi. Melalui Strategi Net Zero Emission, KAI menyiapkan langkah jangka panjang agar pengembangan layanan perkeretaapian selaras dengan target transisi energi nasional serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang,” ujar Anne di Jakarta, Kamis (11/6/26).

Salah satu langkah utama yang ditempuh KAI adalah memperluas penggunaan tenaga listrik pada layanan perkeretaapian. Saat ini jalur rel yang telah terelektrifikasi mencapai 1.038,7 kilometer, mencakup layanan KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, dan Whoosh.

Di sisi operasional, KAI juga menjalankan berbagai program efisiensi energi serta menerapkan sertifikasi Green Building EDGE pada stasiun, depo, dan kantor. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Pada aspek energi, KAI terus meningkatkan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan biodiesel telah berkembang dari B0 pada tahun 2017 menjadi B40 pada tahun 2025 dan akan berlanjut menuju B50 pada tahun 2026. Selain itu, KAI juga memanfaatkan energi surya melalui pemasangan panel surya berkapasitas total 3.435,5 kWp yang tersebar di 66 lokasi operasional.

Upaya pengurangan emisi tersebut dilengkapi dengan program penanaman pohon. Sepanjang 2021 hingga 2025, KAI telah menanam 107.757 pohon di berbagai wilayah operasional sebagai bagian dari penyerapan karbon.

Melalui strategi yang telah disusun, KAI menargetkan penurunan emisi sebesar 25,76 persen atau setara 166.873 ton CO2e pada tahun 2030 dari acuan emisi sebesar 647.785 ton CO2e. Target tersebut meningkat menjadi 33,55 persen pada tahun 2035 dan 78,17 persen pada tahun 2050. Pada tahun 2060, KAI menargetkan tercapainya Net Zero Emission dengan total penurunan emisi mencapai 1.093.311 ton CO2e.

Dalam paparannya, Vice President of Sustainability KAI Tria Mutiari Melian menjelaskan bahwa KAI memiliki peran penting dalam mendukung agenda dekarbonisasi sektor transportasi nasional.

“Sebagai tulang punggung transportasi massal nasional, KAI memiliki peran penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Kajian dan rekomendasi yang dihasilkan akan diselaraskan dengan pengembangan kebijakan dan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional dalam jangka panjang,” ujar Tria.

Kajian yang disusun bersama UK PACT dan Kynergy Consulting juga menunjukkan bahwa moda berbasis rel memiliki tingkat emisi yang rendah. LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO2-eq per penumpang-kilometer, KA Antarkota sebesar 16,43 gram CO2-eq per penumpang-kilometer, dan KRL Commuter Line sebesar 34,03 gram CO2-eq per penumpang-kilometer.

Dukungan UK PACT dan Kynergy Consulting dalam penyusunan strategi ini mencakup kajian implementasi B50, analisis percepatan transisi KRD menuju KRL dan modernisasi sistem persinyalan, serta pengembangan instrumen pembiayaan yang membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pembiayaan hijau internasional.

Pada kesempatan yang sama, Project Director Kynergy Consulting Rekyan Eckersley mengatakan bahwa penguatan layanan kereta api merupakan bagian penting dalam upaya menurunkan emisi sektor transportasi.

“Kereta api adalah moda dengan emisi yang relatif rendah. Memperkuat kapasitas dan daya tarik layanannya menjadi bagian krusial dari peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi nasional Indonesia dalam jangka panjang dan kami bangga mendampingi KAI memperkuat langkah strategis tersebut,” kata Rekyan.

Anne menambahkan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan internasional menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan transportasi rendah karbon. Kereta api memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus mendukung mobilitas masyarakat yang semakin efisien,” tutup Anne.

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.