Jakarta, Bumntrack.co.id – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mengakselerasi transformasi digital dan praktik Net-Zero Construction guna mewujudkan ekosistem infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
WeGe Mengintegrasikan Building Information Modeling (BIM) sebagai platform manajemen informasi mutakhir, strategi perusahaan berfokus pada efisiensi proyek, dekarbonisasi, dan implementasi prinsip ESG yang selaras dengan target penurunan emisi nasional.
Komitmen inovasi teknologi ini juga diimbangi dengan upaya peningkatan kesiapan SDM konstruksi masa depan melalui sinergi edukasi untuk mencetak talenta arsitek spesialis Building Information Modelling (BIM) yang siap kerja.
“Transformasi digital dan pencapaian Net-Zero Construction bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis dan tanggung jawab kita terhadap masa depan. WEGE berkomitmen untuk terus berada di garis depan, memelopori integrasi teknologi seperti BIM untuk menghadirkan karya konstruksi yang tidak hanya efisien dan berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi Indonesia,” kata Direktur Utama WEGE, Mahendra Vijaya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (30/7/26).
Menurutnya, industri konstruksi global saat ini sedang memasuki era transformasi terbesar sepanjang sejarahnya. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) bersama Global Alliance for Buildings and Construction (GlobalABC) menunjukkan bahwa sektor bangunan masih menyumbang sekitar 37% emisi karbon dioksida global.
Di sisi lain, McKinsey Global Institute mencatat pertumbuhan produktivitas industri konstruksi terbilang stagnan dibandingkan sektor manufaktur. Menjawab tantangan efisiensi dan perubahan iklim tersebut, transformasi digital kini menjadi kebutuhan strategis yang tak bisa ditawar.
Dalam berbagai forum strategis, WEGE terus menggemakan pentingnya digitalisasi. BIM bukan sekadar alat gambar tiga dimensi, melainkan ‘otak’ dari manajemen informasi konstruksi
“Dengan mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan Digital Twin berbasis standar internasional ISO 19650 Kitemark, kita dapat mengambil keputusan yang lebih presisi, transparan, dan efisien sepanjang siklus hidup bangunan,” kata Imam Agung Baskoro S.T., Koordinator BIM WEGE.
Paradigma baru ini juga menjadi kunci dalam menekan jejak karbon.
Koordinator BIM WEGE, Yudi Purmigo pada Seminar Nasional di Gedung Waskita menegaskan bahwa untuk mencapai Net-Zero Construction, harus mengubah cara membangun sejak fase desain.
“BIM adalah platform strategis yang memungkinkan kita melakukan simulasi energi dan mengelola embodied carbon—yakni emisi yang dihasilkan dari proses produksi material konstruksi. Dengan demikian, prinsip keberlanjutan bukan lagi sekadar teori, melainkan terukur dan tereksekusi dengan pasti,” kata Yudi Purmigo.
Untuk mendukung ekosistem teknologi dan tuntutan infrastruktur hijau tersebut, ketersediaan sumber daya manusia yang adaptif menjadi sangat krusial.
Dalam sektor industri, WEGE membuktikan perencanaan teknis yang selalu unggul berkat implementasi BIM yang advance, di mana tahap RnD kami tengah mengeksplorasi hingga level 8D.
WEGE meyakini bahwa masa depan industri konstruksi ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi informasi dan prinsip keberlanjutan secara utuh.
Melalui pilar transformasi BIM yang kokoh serta kolaborasi proaktif dengan institusi akademis, WEGE memantapkan posisinya sebagai pionir dalam percepatan infrastruktur berkelanjutan, mendukung penuh target pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission (NZE).








