KAI Kaji Konektivitas KITB Batang ke Pelabuhan Utama, Perkuat Infrastruktur Logistik Nasional

E-Magazine November - Desember 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)/Industropolis Batang sebagai bagian dari pengembangan ekosistem logistik yang semakin terintegrasi di Pulau Jawa.

Pembahasan pengembangan konektivitas tersebut melibatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) atau SPJT, Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Batang atau Perumda Aneka Usaha Batang, serta PT Kawasan Industri Terpadu Batang atau KITB/Industropolis Batang. Kajian diarahkan pada keterhubungan kawasan industri dengan dry port, seaport, jaringan kereta api, pergudangan, trucking, serta pelabuhan utama.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan infrastruktur logistik memiliki peran strategis dalam menentukan kelancaran arus barang dari kawasan industri menuju pasar domestik maupun internasional.

“Kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien. KAI melihat kereta api memiliki ruang besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang,” ujar Anne di Jakarta, Selasa (25/8/26).

Peran tersebut didukung skala layanan angkutan barang KAI. Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI melayani 38.648.919 ton barang. Sebanyak 31.661.769 ton merupakan batu bara, sementara 6.987.150 ton berasal dari komoditas nonbatu bara seperti petikemas, semen, BBM, komoditas perkebunan, ritel, dan komoditas lainnya.

Menurut Anne, pengalaman mengelola pergerakan barang dalam volume besar menjadi modal penting dalam membaca potensi kawasan industri baru. Bertumbuhnya aktivitas produksi di KITB dapat membuka arus barang baru apabila terkoneksi dengan terminal, pelabuhan, dan jaringan distribusi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing komoditas.

Dalam pembahasan awal, konektivitas menuju Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, serta Patimban menjadi beberapa arah yang akan didalami. Tanjung Priok dapat memperkuat akses barang dari KITB menuju jaringan perdagangan internasional, sementara konektivitas ke Tanjung Perak/Kalimas membuka akses ke jaringan distribusi dan pelayaran melalui kawasan timur Pulau Jawa. Patimban juga masuk dalam alternatif jaringan yang akan dianalisis berdasarkan asal-tujuan serta kebutuhan tenant KITB.

Pemanfaatan kereta api akan ditentukan berdasarkan jarak, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, waktu perjalanan, proses handling, serta efisiensi keseluruhan rantai logistik. Relasi dengan jarak sekitar 150–200 kilometer ke atas menjadi salah satu rentang yang akan didalami. Sementara untuk tujuan yang relatif lebih dekat seperti Semarang/Tanjung Emas, pilihan moda perlu dibandingkan untuk memperoleh skema distribusi yang paling efektif.

Pengembangan tersebut sejalan dengan rencana ekosistem logistik Industropolis Batang yang mencakup seaport, dry port, warehouse, container yard, truck parking bay, serta fasilitas pendukung lainnya. Seaport kawasan telah mulai beroperasi sejak 2025, sementara dalam roadmap awal pengembangan kawasan, dry port diarahkan memasuki tahap operasional secara bertahap pada 2028.

KAI juga memandang integrasi kereta api dengan dry port perlu mempertimbangkan kondisi teknis di lapangan, termasuk elevasi antara jaringan rel dan area rencana dry port. Kajian akan melihat berbagai alternatif konektivitas, baik melalui akses rel maupun skema intermoda lainnya, sehingga konfigurasi infrastruktur dapat mengikuti kebutuhan operasional dan volume barang yang berkembang.

Pembahasan berikutnya juga akan melibatkan KAI Logistik untuk memperkuat pemetaan demand, konsolidasi barang, terminal handling, first mile–last mile, serta layanan logistik end-to-end. Data dan kajian dari KAI, Pelindo, SPJT, Perumda Aneka Usaha Batang, KITB, serta pihak terkait selanjutnya akan dipadukan untuk menentukan model konektivitas yang paling feasible.

“Ketika kawasan industri, jaringan kereta api, dry port, dan pelabuhan terhubung dalam satu sistem, ruang distribusi barang menjadi semakin luas. KAI siap memberikan kapabilitas perkeretaapian untuk mendukung terbentuknya jaringan logistik yang lebih kuat dan kompetitif,” tutup Anne.

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.