Menghadapi Tantangan Global ala Menteri Bahlil

E-magazine Tahun XIX Edisi 178 - 2026

Jakarta, Bumntrack.co.id – Sejumlah pejabat, menteri maupun stakeholder mengikuti Investor Daily Summit 2026 di Hotel Raffles, Jakarta. Forum tersebut berlangsung dari hari Rabu (7/10) hingga Kamis (8/10).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, hadir pada hari pertama selaku salah satu pembicara.

Bahlil memulai pemaparan dengan pernyataan bahwa seluruh negara di dunia sedang mengalami masalah energi akibat tegangan geopolitik serta penunjukan data kebutuhan minyak Indonesia lebih besar daripada produksi.

Dalam waktu kurang dari 30 menit, Bahlil menerangkan langkah-langkah yang telah ditempuh Kementerian ESDM untuk mewujudkan tujuan yang hendak dicapai negara di sektor energi.

“Ada tiga konsep untuk meningkatkan lifting kita. Pertama, bagaimana sumur-sumur tua yang ada harus diintervensi dengan teknologi. Kedua bagaimana sumur-sumur yang kita kerja samakan dengan pihak lain. Ketiga, yang sudah selesai POD harus segera kita dorong untuk lakukan seperti Blok Masela, ” ujarnya.

Terkait isu konsumsi energi, Kementerian ESDM mengambil upaya pengurangan impor berupa peluncuran B50 dan pemanfaatan etanol dalam BBM.

Pemerintah juga dihadapkan dengan masalah-masalah lain. Contohnya adalah komitmen terhadap lingkungan, terutama soal batu bara yang masih diandalkan karena harga murah.

Menteri ESDM menyebutkan dua langkah yang telah diambil, yakni penyuluhan tentang polutan batu bara berkurang karena perkembangan teknologi serta mendorong program PLTS 100 GWp untuk penghematan anggaran pengadaan listrik bagi masyarakat.

Topik Hilirisasi ikut dijabarkan. Pria yang juga mengisi posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi itu mengungkapkan bahwa proyek hilirisasi sudah direncanakan sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014), namun terhalang oleh tekanan dari luar Indonesia.

“Asing yang sudah punya industri itu sudah candu terhadap sumber daya alam kita yang dijadikan sebagai bahan baku,” imbuh Bahlil.

Agenda hilirisasi menemui titik terang pada masa pemerintah Joko Widodo (2014-2024) dengan proses pemetaan yang hati-hati. Pada sektor nikel, misalnya, Indonesia mengambil solusi yang krusial seperti pembangunan fasilitas produksi dan penetapan aturan larangan ekspor nikel mentah.

Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan hilirisasi yang berbeda sehingga ada kebijakan skala besar yang diambil. Contohnya, dalam rangka menjaga harga jual, Menteri ESDM melakukan pengaturan RKAB serta mengusulkan moratorium pembangunan smelter nikel.

“Arahan Bapak Presiden sudah disampaikan Menko Hilirisasi untuk menata kembali dan menjaga kepentingan negara di atas segala-galanya,” simpul Bahlil.

Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.