KOLOM PAKARLENSA

BERSYUKUR DI TENGAH PANDEMI

Oleh Akhmad Kusaeni

                Saya sedang membaca tulisan Francis Fukuyama “The Pandemic and Political Order” di majalah Foreign Affairs terbaru ketika di grup WA muncul link berita yang mengutip pernyataan Presiden Jokowi bahwa kondisi Indonesia masih lebih baik ketimbang Amerika Serikat dan Brazil.

                Barokah. Alhamdulillah. Masih ada negara yang lebih buruk dari kita dalam upayanya memerangi pandemi. Ini patut disyukuri.

                Dalam pertemuan bersama para Gubernur membahas percepatan penyerapan APBD pada hari Rabu, 15 Juli 2020 lalu di Istana Kepresidenan Bogor, Jokowi mengatakan bahwa bila diperbandingkan sesuai dengan jumlah penduduk, maka jumlah pasien positif corona di Indonesia masih jauh lebih rendah ketimbang Amerika Serikat dan Brazil.

                Indonesia masuk lima besar penduduk terbanyak tetapi kalau dilihat 10 negara dengan kasus tertinggi, Indonesia tidak masuk di dalamnya. Amerika Serikat sebanyak 3,4 juta kasus, Brasil 1,8 juta, India 906.000, Rusia 739.000, Peru 326.000. Artinya, menurut Jokowi, Indonesia berada pada posisi yang masih bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, katanya, jangan sampai kita lepas kendali.

                Apa yang disampaikan Jokowi itu sangat relevan dengan tulisan Fukuyama yang terkenal dengan bukunya “The End of History” sehabis Perang Dingin dan Uni Soviet bubar.

                Sejauh ini sejumlah negara terbukti lebih baik dalam mengatasi krisis pandemi dibanding sejumlah negara lainnya. Menurut Fukuyama, faktor yang membuat keberhasilan respon atas pandemi adalah kapasitas negara, kepercayaan rakyat dan pemerintahan/kepemimpinan yang efektif.

                Negara yang memiliki ketiga faktor itu: aparat negara yang kompeten, pemerIntah yang didengar dan dipercaya rakyatnya, dan pemimpin yang efektif, telah berbuat sangat mengesankan dalam perang melawan pandemi dan membatasi kehancuran yang diakibatkan wabah yang belum ada vaksin penyembuhnya itu.

                Negara yang pemerintahannya mengalami disfungsi, masyarakatnya yang terpolarisasi, atau kepemimpinannya yang tidak efektif, telah membuat respon yang buruk sehingga makin menyengsarakan rakyat dan menghancurkan perekonomian nasionalnya.

                Covid-19 adalah wabah yang akan berlangsung lama, bahkan mungkin akan terus ada. Memang virus ini tidak terlalu mematikan seperti yang dibayangkan, tapi sangat menular dan seringkali penularannya tanpa gejala sama sekali. Ebola sangat mematikan, korbannya mati nyaris seketika sebelum menularkan virusnya ke orang lain.

                Covid-19 sebaliknya. Orang cenderung tidak menganggapnya serius seperti seharusnya, bahkan orang yang mungkin sudah terpapar Corona masih bisa berkeliaran di tempat umum secara tidak sadar menularkan kepada orang lain, sehingga menyebabkan korban tewas akibat Corona makin banyak.

                Menurut Fukuyama, tak ada negara yang bisa menyebut dirinya menang dalam perang melawan pandemi Covid-19, paling-paling secara perlahan membuka ekonominya secara bertahap menuju apa yang disebut sebagai new normal. Itupun tahapannya tergantung dari perkembangan situasi. Jika ada gelombang kedua, tahapan itu bisa kembali ke titik nol.  

                Fukuyama mengingatkan konsekuensi politik dari pandemi sangat besar. Masyarakat mungkin bisa diajak berkorban untuk diam di rumah untuk sementara waktu, tapi tidak bisa untuk selamanya. Pandemi yang berlangsung lama digabung dengan PHK besar-besaran, resesi yang berkepanjangan, dan beban hutang yang bertambah berat bakal menyebabkan ketegangan yang bisa memacu sebuah kerusuhan politik.

                Amerika Serikat ceroboh dan respon atas pandemi buruk sehingga korban tewas sampai saat ini lebih dari 120.000 orang. Meski wabah berasal dari China, Beijing bisa mengatasinya dan memasuki era new normal serta berusaha dengan cepat mengembalikan ekonominya dengan cepat.

                AS yang memiliki kapasitas negara yang besar dan punya rekor bagus dalam mengatasi kasus-kasus pandemi sebelumnya, kali ini bertindak ceroboh. Masyarakat AS yang kini terpolarisasi dan pemimpin yang tidak kompeten telah membuat negara terbelenggu untuk berfungsi secara efektif.

                Presiden Trump cenderung mengobarkan perbedaan ketimbang mempromosikan persatuan, mendistribusikan bantuan sosial diembel-embeli pencitraan politik, mendorong para gubenur bertanggungjawab untuk mengatasi pandemi sementara dia terus menyerang kepala daerah yang tidak sefaham seperti terhadap Gubernur New York Andrew Cuomo dari Partai Demokrat. Belum lagi serangannya terhadap lembaga internasional yang semestinya diajak bekerjasama dalam memerangi wabah Corona.

                Sekali lagi, seperti kata Jokowi, kita masih lebih baik ketimbang AS dan Brasil. Kondisi India, Rusia, dan Peru lebih buruk dari Indonesia. Ini patut kita syukuri.           

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close