BERITA

Bulog Pastikan Cadangan Beras Nasional Jelang Ramadhan dan Idul Fitri Aman

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat melakukan sidak ke Gudang Bulog Kanwil DKI dan Banten di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (27/2).

Perum Bulog memastikan stok beras jelang Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tahun ini tercukupi. Saat ini, stok cadangan beras pemerintah (CBP) secara Nasional yang tersedia di Gudang Bulog tersisa 1,7 juta ton. Khusus stok di DKI Jakarta, ketersediaan pasokan mencapai lebih dari 323.000 ton. Pernyataan itu disampaikan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Kanwil DKI dan Banten di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (27/2).

Buwas mengatakan, dalam waktu dekat sekitar akhir Maret atau awal April akan ada penyerapan kembali melalui panen raya di beberapa daerah yang memproduksi beras. “Kita sudah petakan wilayah mana saja yang surplus, sehingga kita akan menyerap beras sebanyak mungkin,” ungkap Buwas.

Bulog menargetkan hasil panen raya tahun ini mampu menyerap minimal 1,7 juta ton untuk seluruh Indonesia. Dengan stok saat ini 1,7 juta, dan prediksi kebutuhan puasa dan lebaran sebanyak 500 ribu ton, maka Bulog memperkirakan masih memiliki stok 2,9 juta ton hingga akhir tahun.

“Jumlah sekarang 1,7 juta ton, nanti diambil 500.000 ton, sisanya 1,2 juta. Sementara itu kita masih bisa menyerap 1,7 juta ton lagi dari panen raya April nanti, artinya kita punya stok 2,9 juta ton. Jadi masyarakat diharapkan tenang karena ketersediaan pangan, khususnya cadangan beras, aman,” jelas Buwas.

Selain stok beras lokal, Gudang beras milik Bulog saat ini juga masih menyimpan sekitar 900.000 ton beras impor yang di antaranya berasal dari Pakistan dan Thailand. Jumlah itu menyusut dari total impor 1,8 juta pada tahun 2017. Namun, Buwas menegaskan bahwa mutu dan daya tahan beras impor di gudangnya tetap terjamin, mengingat beras-beras tersebut telah melalui proses pengelolaan, pengeringan dan pengepakan yang sempurna.

Cadangan beras pemerintah (CBP) secara Nasional yang tersedia di Gudang Bulog tersisa 1,7 juta ton.

Terkait kualitas beras, mantan Kepala BNN itu juga menyampaikan bahwa kualitas beras bulog terus meningkat, bebas dari kutu, tidak berbau, apalagi dalam keadaan busuk. Hal ini karena pengepakan beras Bulog dilakukan melalui proses mesin rice to rice.

“Bulog membangun rice to rice untuk mengolah beras, sehingga ada proses dryer yang lebih optimal. Karena itu kualitasnya bagus, keringnya maksimal, sehingga tidak ada lagi cerita beras Bulog bau dan berkutu,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk menjaga stabilisasi harga beras medium, Perum Bulog di seluruh wilayah terus aktif melaksanakan Program KPSH (Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga) Beras Medium atau dikenal dengan operasi pasar. Realisasi pelaksanaan KPSH sejak Januari sampai dengan Rabu (26/2) sebesar 300.000 ton.

Kegiatan KPSH dilaksanakan setiap hari secara masif melalui pengecer di pasar tradisional, retail modern, jaringan Sahabat Rumah Pangan Kita (RPK), sinergi BUMN serta distributor sehingga mampu menahan laju kenaikan harga beras hampir selama tahun 2019.

Bulog juga sudah turut serta dalam memasok beras untuk Program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai). Penyaluran beras BPNT dilakukan melalui e-warong dan agen Himbara (Agen Brilink dan Agen 46) serta melalui RPK (Rumah Pangan Kita). Sampai Rabu (26/2) Bulog telah menyalurkan beras BPNT sebanyak 43.000 ton.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close