BERITA

Ceruk Pasar Syariah Menjanjikan, BTN Targetkan Spin Off Unit Syariah pada 2020

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) tengah mematangkan realisasi pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi Bank Umum Syariah (BUS) pada tahun 2020. Selain memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator, aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka memacu ekspansi bisnis syariah BTN. Demikian disampaikan Direktur Konsumer BTN, Budi Satria dalam acara Media Gathering 2019 di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Jumat (4/10/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam rangka memacu perkembangan perbankan syariah nasional, OJK mewajibkan bank umum nasional yang memiliki Unit Usaha Syariah melakukan spin off (pemisahan) menjadi entitas yang berdiri sendiri atau Bank Umum Syariah. Batas waktu yang diberikan OJK selambatnya tahun 2023. Namun begitu, bank wajib menyampaikan rencana spin off  UUS pada tahun 2020. Jika tidak, izin usaha tersebut otomatis dicabut.

Budi menyampaikan, BTN optimis melakukan spin off pada tahun 2020. Sebab, Unit Usaha Syariah BTN memiliki prospek yang baik, karena fokus bisnisnya adalah pembiayaan perumahan yang permintaannya terus meningkat. “BTN Syariah akan menjadi satu-satunya bank syariah dengan core bussinisnya sama dengan induknya, sehingga infrastrukturnya lengkap,” tegas Budi.

Per Juni 2019, kinerja UUS BTN mencatat pembiayaan sebesar Rp23,16 triliun atau tumbuh 16,54 persen secara year on year (YoY). Lalu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 18,5 persen menjadi Rp23,03 triliun dan total aset mencapai Rp 29,17 triliun atau tumbuh 19,67 persen,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Treasury BTN Nixon L Napitupulu mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan kajian untuk memilih sejumlah opsi dalam merealisasikan spin off . Opsi tersebut antara lain mengakuisisi bank syariah lain, merger dengan bank BUMN syariah dan mendirikan anak usaha baru. Yang terpenting ada cangkangnya (wadah atau perusahaan) dulu sebagai tempat BTN syariah.

“Dibutuhkan dana Rp4,5-Rp5 triliun untuk membangun BTN Syariah dengan posisi capital adequacy ratio (CAR) minimal 15 persen. Namun, jika kita pilih merger dengan unit syariah bank lain, positifnya banyak, pertama modal yang haus disiapkan tidak sebesar angka Rp4,5 triliun tadi (tergantung berapa saham yang dikehendaki), kedua rata-rata teknologinya sudah jalan dan jaringan bisnisnya sudah luas sehingga juga tidak perlu capex yang besar lagi,” ujarnya.

Kendati mempertimbangkan sejumlah opsi, imbuh Nixon, BTN juga tengah menunggu kepastian atas kebijakan lanjutan terkait bank syariah. Karena saat ini terdapat dua wacana yang berkembang, salah satunya adalah kemungkinan pemerintah melakukan konsolidasi bank-bank syariah milik pemerintah menjadi hanya dua bank BUMN saja.

Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menuturkan, relaksasi regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) terhadap sektor properti bisa menjadi momentum yang tepat bagi BTN untuk melakukan spin off unit syariahnya. Pasalnya, terdapat hubungan positif antara penyaluran kredit perbankan ke sektor properti dengan pertumbuhan ekonomi sektor Real Estate.

Sementara itu, pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menuturkan, instrumen syariah sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia. Adanya BTN Syariah yg masuk dalam core bisnis yang sama dengan induknya dengan cara syar’i menjadikan masyarakat tidak lagi berpindah bank. “Besarnya masyarakat muslim yg mulai hijrah ke instrumen syariah memberikan peluang besar bagi BTN Syariah,” pungkasnya.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close