BERITA

Evolusi Manajemen Supply Chain & Manajemen Logistik di Era Digital


Oleh : Alain Widjanarka – Head of Operational Excellence Department PPM Manajemen

Dalam Harvard Business Review, Lyall dkk (2018) menyatakan bahwa Manajemen Supply Chain (SC) akan menjadi usang karena digantikan oleh teknologi. Pemikiran tersebut dipicu dengan adanya fenomena kehadiran digitalisasi di setiap aspek kegiatan manusia.

Teknologi digital memungkinkan perusahaan dapat dengan cepat menangkap, menganalisis, mengintegrasi, mengakses, dan menginterpretasi data real-time yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan ke depan. Teknologi sensor memudahkan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasional dan perawatan peralatan. Teknologi robot memudahkan perusahaan untuk melakukan pekerjaan dengan produktivitas tinggi dengan risiko kecelakaan kerja rendah.

Masih dalam artikel yang sama dikatakan bahwa teknologi akan mengubah fokus pejabat SC dari mengelola orang melakukan kegiatan rutin menjadi mendesain dan mengelola informasi serta aliran produk dengan tenaga ahli yang terbatas. Sekelompok kecil tenaga profesional harus menyesuaikan perkembangan teknologi dengan strategi, kebutuhan, serta sasaran prioritas perusahaan. Fokus dari pejabat SC saat ini adalah memberikan pandangan bagaimana kondisi operasional di masa depan dan mengambil tindakan apa yang dibutuhkan perusahaan.

Apabila kondisi operasional di masa depan adalah seperti di atas, apakah berarti peran dari ahli manajemen SC akan menyusut sampai akhirnya punah? Bagaimana dengan ahli manajemen Logistik yang seringkali disandingkan dengan ahli manajemen SC, apakah juga akan bernasib sama? Atau fenomena masa depan tersebut menjadi suatu anugerah yang malah dapat memperjelas posisi keduanya?

Peranan Supply Chain Management (SCM) dan Logistik saat ini masih sering diperdebatkan. Beberapa mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya, SCM hanyalah logistik gaya baru. Eropa lebih mengenal manajemen logistik daripada SCM sementara Amerika melihat manajemen SC lebih penting daripada manajemen logistik. Area keahlian dan kemampuan juga menjadi perdebatan Ahli SC dan Ahli Logistik, keduanya menyatakan bahwa masing-masing berperan penting dalam penciptaan dan penyampaian produk.

Dalam dunia bisnis, SC cenderung ditempatkan sebagai unit kerja, sementara Logistik lebih sebagai salah satu bentuk industri. Sebagai unit kerja SC akan melakukan pengelolaan hubungan kerjasama internal dan eksternal perusahaan untuk memproduksi dan mendistribusikan produk tertentu sampai kepada pengguna. Oleh karena itu di dalam unit kerja SC akan ditemukan ragam kegiatan, manusia, entitas, informasi, dan sumber daya. Sasaran utama dari unit kerja tersebut adalah untuk menurunkan biaya dan mempertahankan posisi perusahaan di dalam industri.

Industri Logistik membantu perusahaan dalam menangani pergerakan dan penyimpanan produk mulai dari titik asal ke tujuan akhir. Sasaran Industri logistik adalah ketepatan pengiriman di tiap mata rantai dan produk dikirimkan dalam kondisi baik sampai kepada pengguna. Industri Logistik juga diharapkan dapat membantu perusahaan untuk menurunkan biaya operasional.

Beberapa ilmuwan juga telah menyusun terminologi manajemen SC dan Logistik. Bowersox dkk dalam bukunya Supply Chain Logistics Management menyatakan bahwa di dalam manajemen SC akan ditemukan kolaborasi antara perusahaan untuk menghubungkan pemasok, pelanggan, dan mitra lainnya demi mengangkat efisiensi dan memberikan nilai tambah kepada pengguna.

Tindakan manajemen SC merupakan keputusan yang strategis dan diharapkan memberikan kerangka kerja bagaimana logistik dapat beroperasi. Manajemen Logistik didefinisikan sebagai bagian dari proses rantai pasok yang terdiri dari perencanaan, implementasi dan mengendalikan efisiensi serta efektifitas aliran produk maupun informasi, mulai dari titik awal sampai kepada titik pengguna. Kegiatan logistik melingkupi transportasi, penyimpanan, pengepakan, dan kegiatan lainnya sebagai pendukung perpindahan produk demi terbentuknya sinkronisasi rantai pasok.

Di dalam buku Supply Chain Management yang ditulis oleh Chopra & Meindl, rantai pasok digambarkan sebagai suatu kesatuan dari beberapa pihak, langsung maupun tidak langsung, untuk memenuhi permintaan pelanggan. Di dalamnya dapat berupa produsen dan pemasok, transportasi, penyimpanan, penjualan, bahkan pengguna itu sendiri. Meskipun logistik tidak didefinisikan secara jelas, namun Chopra & Meindl mengakui bahwa SCM membutuhkan logistik terutama untuk mendapatkan kegiatan operasional yang efektif dan efisien.

Lambert & Cooper (2000) mendefinisikan SCM sebagai integrasi proses bisnis kunci, mulai dari pengguna sampai pemasok akhir untuk menghasilkan produk, jasa dan informasi dalam upaya memberikan nilai tambah kepada pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya. Logistik digunakan sebagai istilah untuk pengelolaan material, jasa, informasi, dan aliran keuangan yang memungkinkan terjadinya pengiriman produk ke pengguna (Köhler, 2005).

Meskipun telah ada beberapa pandangan terkait Manajemen SC dan logistik namun masih belum jelas batasannya. Keduanya memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan seperti: sama-sama menggambarkan adanya ragam kegiatan serta pihak yang terlibat, sasarannya adalah proses operasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien melalui strategi dan perencanaan, membutuhkan proses yang terintegrasi mulai dari pemasok sampai pengguna, perlunya pengendalian pergerakan dan penyimpanan demi mempertahankan kualitas produk sampai ke pengguna, membutuhkan kejelasan informasi, mulai dari titik awal sampai titik akhir di pengguna, dan masih banyak lagi.

Ketidaksamaannya adalah ketika munculnya terminologi SC dan logistik, membuat manajemen SC seakan-akan menjadi manajemen logistik gaya baru, hanya karena manajemen logistik telah lahir lebih dahulu. Dunia industri lebih tidak jelas pembagiannya karena di dalam unit kerja SC dapat ditemukan Logistik sementara perusahaan Logistik menggunakan manajemen SC untuk operasionalnya.

Sampai kemudian muncul suatu pemikiran bahwa SC adalah “KONSEP” sementara Logistik adalah “FUNGSI”. SC lebih cenderung menjadi kerangka pikir kegiatan perjalanan produk mulai dari hulu sampai hilir. Logistik lebih kepada fungsi yang memastikan adanya perjalanan produk mulai dari hulu sampai hilir. SC dan Logistik dapat dijalankan secara berdampingan. SC tanpa Logistik hanya berupa konsep yang tidak bisa diaplikasikan karena terlalu ideal. Logistik tanpa SC merupakan kegiatan yang penuh dengan ketidakberaturan dan mungkin tidak bisa berjalan dengan baik.

Tambahan “Manajemen” di dalam SC membuat konsep pergerakan produk harus selalu berkembang mengikuti kebutuhan di masa depan. Sementara kata “Manajemen” di dalam logistik menjadikan pergerakan produk itu harus selalu mengarah kepada konsep yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna di masa depan.

Oleh karena itu, untuk merespon perkembangan teknologi di masa depan maka manajemen SC dan Logistik harus terus bergerak. Ahli SC memacu untuk terus mengembangkan konsep pergerakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di masa depan. Ahli Logistik memacu untuk terus menyesuaikan proses pergerakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di masa depan. Ahli SC perlu melengkapi dirinya dengan manajemen Logistik sehingga dapat memahami kemampuan terapan konsep yang dikembangkan. Ahli Logistik perlu melengkapi dirinya dengan manajemen SC agar apa yang dikerjakan dapat lebih efektif dan efisien. Kedua manajemen tersebut perlu mengembangkan teknologi tersebut.

Berdasarkan pemikiran di atas maka dapat disimpulkan bahwa teknologi sesungguhnya tidak akan membuat Manajemen SC punah namun Manajemen Logistik-lah yang sebetulnya berevolusi. Manajemen SC akan selalu menjadi kerangka pikir bagi perkembangan teknologi untuk membantu manajemen Logistik melakukan fungsinya. Manajemen SC akan selalu menjadi rujukan bagaimana sebaiknya teknologi dapat membuat pergerakan produk menjadi lebih efektif dan efisien mulai dari hulu sampai hilir. Manajemen Logistik sebagai fungsi yang biasanya dikerjakan oleh manusia, di masa depan, sebagian fungsi, akan menempel pada mesin-mesin pintar. Perusahaan Logistik akan banyak menggunakan teknologi dalam operasionalnya. SC akan menyusut hanya apabila dijadikan sebagai salah satu unit kerja perusahaan.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button