Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, Bumntrack.co.id — CEO Firman’s Group Hendra Firmansyah melakukan kunjungan dan pembahasan peluang investasi bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara yang dipimpin oleh Bupati Nur Rahman Umar, didampingi Sekretaris Daerah Muhammad Idrus.
Pertemuan tersebut membahas potensi pengembangan industri pengolahan kakao dan kelapa sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui investasi sektor agroindustri.
Bupati Kolaka Utara Nur Rahman Umar mengatakan pihaknya terus mendorong revitalisasi dan pengembangan perkebunan kakao untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap komoditas yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Ia menjelaskan, dari total 76 ribu hektare kebun kakao, sekitar 35 ribu hektare masih produktif. “Sebagian sudah tidak produktif karena usia tanaman bahkan ada yang berumur hingga 50 tahun. Karena itu, masih ada sekitar 40 ribu hektare lebih yang menjadi potensi untuk pengembangan ke depan,” ujar Bupati.
Upaya pengembangan kakao di Kolaka Utara mendapat dukungan pemerintah pusat. Kementerian Pertanian telah memasukkan program pengembangan tersebut ke dalam perencanaan nasional hingga 2028, dengan dukungan pengembangan sekitar 18 ribu hektare lahan atau setara dengan 18 juta bibit kakao. Program bantuan bibit sudah mulai disalurkan secara bertahap sejak tahun ini dan akan berlanjut sesuai perencanaan.
Di sisi lain, Kolaka Utara memiliki potensi kakao dengan karakteristik aroma yang khas. Potensi ini menjadi modal penting untuk meningkatkan nilai tambah kakao Kolaka Utara, sekaligus membuka peluang pengembangan produk yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Investasi Awal Rp75 Miliar
Dalam pembahasan rencana kerja sama tersebut, Firmans Group menjajaki rencana pembangunan pabrik pengolahan kakao dengan nilai investasi awal sekitar Rp75 miliar dan kapasitas produksi tahap pertama sebesar 5 ton per hari.
Pabrik ini direncanakan menjadi langkah awal untuk membangun rantai nilai kakao di Kolaka Utara, dari komoditas hasil perkebunan menjadi produk olahan bernilai tambah yang memiliki peluang pasar industri lebih luas.

Melanjutkan rencana kerja sama tersebut, Hendra mengutarakan bahwa dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini menargetkan penyerapan hingga 800 tenaga kerja, dengan komposisi yang direncanakan sekitar 80% tenaga kerja lokal, 10% tenaga ahli asing, dan 10% tenaga kerja lainnya sesuai kebutuhan operasional.
“Tenaga ahli asing direncanakan bekerja berdasarkan kontrak selama tiga tahun, terutama untuk mendukung transfer teknologi, pengoperasian mesin, peningkatan keterampilan, dan pembentukan kompetensi tenaga kerja lokal,’ ungkapnya.
Salah satu aspek strategis dari rencana investasi ini adalah persiapan teknologi dan mesin yang memungkinkan peningkatan kapasitas produksi hingga 50 ton per hari apabila pasokan bahan baku kakao telah mencukupi. Dengan demikian, pengembangan pabrik dirancang secara bertahap, mengikuti pertumbuhan produksi kakao dan kesiapan rantai pasok di wilayah Kolaka Utara maupun daerah sekitarnya.
Produk yang ditargetkan antara lain cocoa butter atau lemak kakao, yaitu bahan baku penting bagi industri cokelat, makanan, kosmetik, dan sejumlah produk perawatan tubuh. Pengembangan produk turunan lain dapat dipertimbangkan sesuai spesifikasi mesin, kualitas bahan baku, dan kebutuhan pasar.
Industri Kelapa Butuh Penguatan Pasokan
Selain kakao, pertemuan tersebut juga menyoroti potensi pengembangan industri kelapa di Kolaka Utara.
Berdasarkan informasi awal dalam pembahasan, ketersediaan kelapa saat ini diperkirakan sekitar 20.000 butir per hari. Volume tersebut dinilai belum memadai untuk mendukung pembangunan pabrik kelapa dengan skala yang ekonomis.
Untuk menjadi dasar pengembangan pabrik, kebutuhan pasokan ditargetkan mencapai sedikitnya 200.000 butir per hari atau sekitar sepuluh kali lipat dari perkiraan pasokan saat ini.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi perluasan kebun melalui penanaman baru (plantation), peremajaan tanaman (replanting), intensifikasi kebun, penggunaan bibit unggul, serta penguatan kemitraan dengan petani dan pemilik perkebunan.
Selain meningkatkan produksi di Kolaka Utara, kajian juga perlu dilakukan terhadap kemungkinan membangun jaringan pasokan dari wilayah sekitar. Langkah tersebut dapat membantu memastikan ketersediaan bahan baku sepanjang tahun, selama memenuhi kelayakan biaya angkut dan persyaratan mutu.
Kunjungan Hendra Firmansyah bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara menjadi langkah awal untuk menjajaki peluang investasi berbasis komoditas unggulan daerah.

Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Investor
Bagi pemerintah daerah, investasi agroindustri berpotensi mendorong penciptaan lapangan kerja, memperluas pasar bagi hasil perkebunan, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal. Sementara bagi Firmans Group, pengembangan industri kakao dan kelapa dapat menjadi bagian dari strategi investasi pada sektor agroindustri yang memiliki keterkaitan langsung dengan produksi komoditas dan pengembangan rantai pasok.
Dengan pendekatan bertahap dan berbasis kepastian bahan baku, Kolaka Utara memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas perkebunannya dari sekadar hasil pertanian menjadi produk industri bernilai tambah.








