BERITA

Indra Karya Menuju Tahun Keseimbangan Baru

Setelah berhasil melewati pasang surutnya dinamika bisnis, kini Indra Karya telah bangkit. Bahkan, bersiap  menjemput mimpinya menjadi perusahaan konsultan terintegrasi yang berbasis pada layanan jasaEngineering, Developer dan Industri Sumber Daya Air bertaraf Internasional terbaik di Asia.

Sikap pantang menyerah dan teguh berinovasi menjadi salah satu kunci keberhasilan Indra Karya keluar dari zona suram masa lalu. Melalui kecepatan dan berbagai terobosan, kepercayaan publik mulai terbangun seiring dengan menguatnya kepercayaan perbankan dan mitra kerja multinasional terhadap perusahaan.Branding perusahaan juga menguat, bersamaan dengan kesejahteraan karyawan yang meningkat.

Ditemui di ruang kerjanya yang bergaya minimalis modern di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Direktur Utama PT Indra Karya (Persero) Milfan Rantawi mengatakan, tahun 2020 telah dicanangkan sebagai tahun menuju titik keseimbangan baru bagi Indra Karya. “Di Usia Perusahaan yang ke-59 Tahun ini, Kami bertekad untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan perusahaan, seiring dengan pencapaian kinerja yang terus meningkat dengan tren pertumbuhan positif beberapa tahun terakhir,” ungkapnya dengan nada optimistis.

Harapan ini bukanlah buaian, mengingat perjuangan Indra Karya untuk keluar dari masa-masa sulit. Sebagai informasi, di sepanjang 2016, kinerja Indra Karya terpuruk dengan perolehan laba bersih minus Rp4,36 miliar. Minusnya laba bersih berdampak kepada cash ratio dan ROE yang minus 60,59 persen, sehingga perseroan tidak mendapat kepercayaan perbankan.

Tiga tahun berjalan, tepatnya pada 2019, kinerja Indra Karya mulai mengalami perbaikan dan meraih lompatan besar. Berdasarkan laporan keuangan unaudited, aset perusahaan tercatat Rp240,93 miliar atau meningkat dari 2016 sebesar Rp70,65 miliar dan ROE di angka 16,21 persen.

Sementara itu, capaian usaha untuk produksi di tahun yang sama sebesar Rp191,11 miliar dengan nilai kontrak meningkat menjadi Rp422,75 miliar atau naik dari 2016 sebesar Rp223,53 miliar. Indra Karya bahkan berhasil membukukan laba sebesar Rp11,8miliar atau meroket 300 persen dari perolehan 2016.

Sedangkan pada 2020,  perusahaan yang berdiri pada 29 Maret tahun 1961 atau 59 Tahun yang lalu ini telah memproyeksikan peningkatan aset menjadi Rp306,96 miliar dan peningkatan ROE menjadi 22,50 persen. Indra Karya juga membidik peningkatan laba bersih mencapai Rp24,56 miliar atau naik 210 persen.

Dari Air hingga Nuklir

Sebagai konsultan engineering dengan core business pengelolaan sumber daya air (SDA), kiprah Indra Karya di bidang perairan sudah tidak diragukan. Indra karya antara lain terlibat dalam pembangunan Bendungan, Irigasi, Waduk, Situ-Situ, PLTA, normalisasi sungai, pengendalian banjir dengan lingkup pekerjaan beragam mulai dari melakukan kajian untuk studi kelayakan, detail engineeringdesain hingga melakukan fungsi pengawasan pada tiap proyek-proyek Infrastruktur.

Di dalam negeri, Indra Karya terlibat dalam pembangunan 36 bendungan dari total 56 bendungan yang ada di bangun di Indonesia pada era Pemerintahan Presiden Joko Widodo ini, keterlibatan Indra Karya diprediksi meningkat sehingga total menjadi 40  bendungan yang dikelola. “Kami memang sangat firm di bidang air. Tidak hanya untuk bendungan, kami juga leading untuk pembangkit listrik, pengendalian banjir, irigasi sawah dan pengembangan yang terkait pengelolaan air lainnya,” jelas Milfan.

Selain SDA, layanan jasa yang dilakukan Indra Karya juga meliputi gasifikasi batubara. Sejalan dengan arahan Menteri BUMN Erick Thohir untuk memperluas penyerapan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya melalui gasifikasi batubara, Indra Karya telah membuktikan kapabilitasnya sebagai konsultan engineering berkemampuan komplit yang tak hanya bergelut di bidang SDA sebagai bisnis utamanya.

Tahun 2015 lalu, sesuai penugasan dari Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE),  Indra Karya telah merampungkan tahap studi kelayakan dan detail engineeringdesain atau FEED (Front End Engineering Design) pekerjaan gasifikasi batubara di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kajian FEED untuk memanfaatkan batubara berkalori rendah yang dianggap sebagai limbah diproses menjadi energi pembangkit listrik itu dilakukan pada 2016 dengan nilai proyek Rp2,7 miliar.

Tak hanya itu, peran Indra Karya juga meluas hingga bidang perencanaan desain nuklir. Oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Indra Karya ditunjuk sebagai konsultan perencana pembangunan Iradiator Gamma (Nuklir) Merah Putih atau IGMP, sekaligus menjadi konsultan konstruksi pertama di Indonesia yang terlibat di bidang nuklir.Selain mengerjakan perencanaan, Indra Karya terlibat dalam feasibility study, manajemen konstruksi (pengawasan) dan desain.  Produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 84 persen itu diresmikan Wapres pada 15 September 2017.

IGMP yang mulai dibangun pada tahun 2016 dengan total investasi Rp117 miliar inibermanfaat bagi masyarakat untuk memperpanjang kualitas, mutu dan daya simpan berbagai komoditi. Pembangunan dengan metode reverse engineeringdilakukan untuk menjawab permasalahan tentang pengolahan pascapanen dan pengawetan bahan pangan, obat herbal, bahan kosmetik hingga sterilisasi alat medis.

Menembus Pasar Global

Dalam rangka mewujudkan visi misi perusahaan sesuai dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2019-2024, PT Indra Karya (Persero) terus memperluas lini bisnis dengan tidak lagi hanya melaksanakan usaha engineering, namun berkembang pula ke bisnis developer dan industri. Berbagai inisiasi yang dilakukan merupakan upaya perseroan untuk menghasilkanrecurring income dan nilai tambah bagi perusahaan.

Selaku konsultan engineering, Indra Karya terus melakukan berbagai inisiasi atau inkubasi bisnis baru, di antaranya kerjasama strategis maupun konsultan konstruksi lintas negara. Saat ini Indra Karya bermitra dengan Wapcos Limited dari India menggarap tiga proyek strategis nasional dengan nilai total proyek Rp100 miliar. Keduanya juga akan memulai inisiasi penetrasi pasar di Bangladesh, Nepal dan Ghana. Selanjutnya, pada awal tahun 2020, Indra Karya menggandeng CTI Engineering International (CTI-E) yang merupakan konsultan engineering asal Jepang.

“Kerja sama dengan CTI-E ini merupakan kerja sama strategis, implementasi bisnis dari kerja sama antarnegara. Hal ini sangat baik bagi Indra Karya untuk meningkatkan profesionalisme dan mematangkan kapasitas Indra Karya untuk Go Asia ke depannya,” jelas Milfan, peraih The Best CEO BUMN Initiative Collaboration dalam ajang BUMN Branding and Marketing 2019.

Setidaknya, terdapattiga kesepakatan mendasar yang akan digarap bersama selama dua tahun ke depan, di antaranya sharing knowledge antarkorporasi dan On The Job Training untuk meningkatkan kapabilitas SDM Indra Karya di CTI-Center, Tokyo, Jepang. Kedua, reciprocal dan kerja sama strategisjoint operation konsultan engineering di Negara Asia, pertama memasuki pasar di Filipina pada Semester II Tahun 2020 mendatang. Selanjutnya, membangun kerja sama efektif di bidang usaha engineering pada beberapa proyek pekerjaan strategis di Indonesia, sektor SDA dan Non SDA dengan pola alih transfer teknologi.

Selain memperkuat sisi hulu dari bisnis engineering, mulai dari kajian, studi kelayakan, detail desain, manajemen konstruksi, pengawasan, dan survei investigasi, Indra Karya sebagai perusahaan konsultan BUMN satu-satunya yang memiliki laboratorium tanah terintegrasi (Lab Geoteknik) dengan kapasitas uji teknik 27 pengujian terintegrasi dan tersertifikasi ISO 17025 untuk memperkuat dukungan bisnis pada layanan jasa konsultan terintegrasi. Indra Karya saat ini juga terus menggenjot peluang revenue dari sisi developer (tengah), Beberapaproyek yang sedang digarap antara lain menyediakanlayanan air bersih di kawasan tertentu seperti pelabuhan dan kawasan industry, dari proses kajian, penentuan titik sumber air, hingga proses sterilisasi sampai proses produksi menjadi air bersih yang siap di gunakan. Proyek layanan jasa tersebut dijalankan melalui konsep investasi bersama dengan model BoT dalam jangka waktu yang telah ditentukan bersama strategic partner yang ada.

AMDK, Inisiasi Indra Karya untuk Negeri

Meningkatnya peluang bisnisengineering dan developer, mendorong Indra Karya untuk memperluas bidang usaha dari sisi hilirsebagai penyedia Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).InFresh (Indonesia Fresh), sebagai merk dagang AMDK milik Indra Karya, digunakan sebagai salah satu strategi pemasaran dalam pengembangan bidang usaha.

Tahun 2018, pemegang saham mendorong Indra Karyauntuk melakukan diversifikasi layanan usaha, terutama di sektor hilir. Atas pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, perusahaan mulai melakukan kajian dan penguatan model bisnis untuk masuk ke ranah bisnis AMDK.

Inisiasi yang dilakukan Indra Karya dinilai sangat tepat. Mengingat, hingga saat ini belum ada perusahaan negara yang hadir untuk mengelola AMDK, sementara ketersediaan AMDK sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan hingga yang berada di pelosok negeri.Terlebih, undang-undang SDA menegaskan bahwa pemanfaatan air harus dikuasai negara, terutama BUMN. “Kami sebagai BUMN merasa sangat terpanggil untukmasuk ke bisnis AMDK sebagai inisiatif untuk melayani negeri dengan cara meluncurkan Air Minum yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini AMDK masih dikapitalisasi oleh swasta asing, oleh karena itu negara harus hadir secara langsung sebagai wujud keseimbangan dalam memberikan pemastian untuk kebutuhan Air Minum bagi masyarakat,” tegas Milfan.

Ke depan, Indra Karya melihat potensi AMDK akan tumbuhsecara signifikan, mengingat penyerapan konsumsi AMDK di Indonesia saat ini telah menyentuh angka 24 triliun per tahun. Dengan peningkatan brand awareness melalui keterlibatan langsung, Indra Karya mengenalkan produk InFresh pada berbagaievent-event yang diadakan oleh Kementerian BUMN ataupun perusahaan BUMN, saat ini InFresh telah dikonsumsi oleh 60 perusahaan BUMN, beberapa Kementerian/Lembaga, Coffee Shop di beberapa tempat, serta mulai masuk ke retail tradisional market di berbagai daerah Jabodetabek. Saat ini, InFresh mendapatkan dukungan dari Kementerian BUMN untuk menjadi merk AMDK milik BUMN (Single Brand/One Brand Produk AMDK BUMN) yang akan di produksi oleh 11 BUMN dan Anak Perusahaan BUMN pemilikAMDK lainnya.

“Saat ini 11 BUMN dan Anak Perusahaan BUMN pengelola AMDK, telah bersepakat untuk bekerjasama memperkuat AMDK BUMN dengan standarisasi yang sama untuk memperluas pasar di Indonesia,” imbuh Milfan. Kesebelas perusahaan pelat merah ituakan menggunakan merek dagang InFresh untuk brand  AMDK BUMN yang tersedia dengan beberapa varian, baik botol ukuran 330ml, 600ml, 1500ml maupun galon.

Membangun Unit Hidrologi

Meski menyasar berbagai lini bisnis, kontribusi terbesar bagi Indra Karya tetap berada pada layanan bisnis jasa engineering, yakni sekitar 60 persen revenue yang di hasilkan. Selain sebagai pencetak profit, bisnis ini dirancang untuk merangkap sebagai riset and developmentbagi perusahaan.

Menangkap peluang kebutuhkan pasar, perseroan tengah menyiapkan Unit Layanan Hidrologi sebagai unit yang menyediakan databasebig data terkait hidrologi. Tidak hanya berkutat di database, Indra Karya juga akan menawarkan jasa analisa terkait kajian hidrologi yang dibutuhkan oleh berbagai perusahaan. Data tersebut tentunya terus di update dan diperbaharui setiap hari.

“Jadi semua proyek yang bersentuhan dengan air, seperti normalisasi ataupun naturalisasi sungai, pembuatan bendungan, irigasi, drainase, pasti membutuhkan data hidrologi seperti curah hujanmaupun debit air sungai. Kami akan mengumpulkan data-data yang sudah kami peroleh dan mengelolanya ke dalam Unit Hidrologi sehingga menjadi big data yang lengkap dan terupdate,” jelas Milfan.

Tahun ini, Unit Hidrologi masih diperuntukan bagi kebutuhan proyek internal yang digarap Indra Karya. Namun pada tahun 2021, Indra Karya berencana membuka layanan Hidrologi untuk eksternal secara komersial. “Jadi proyek-proyek manapun yang membutuhkan data hidrologi berikut kajiannya bisa datang ke kami. Sehingga ada peluang revenuebaruuntuk perusahaan,” seru Milfan.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button