LENSA

KARMA AMERIKA

Oleh Akhmad Kusaeni

                Selama pandemi Corona yang mengharuskan diam dan bekerja di rumah, saya punya kebiasaan baru, yaitu menonton CNN dan Al Jazeera. Saya menonton Donald Trump dan Amerika Serikat (selanjutnya saya sebut Amerika saja) yang tengah dilanda pandemi sekaligus kerusuhan sosial.

                Kebiasaan baru itu bukan saja untuk mengenang ‘the good old days” zaman saya tinggal di kota New York tahun 1998-2001, tapi juga untuk melihat karma Amerika. Saya tidak anti Amerika, karena saya pernah merasakan ‘What’s so great about America” seperti judul buku karangan Dinesh D’Souza. Saking kesengsem sama Paman Sam, saya kasih nama anak lelaki saya yang lahir di Elmhurst Hospital, Queens, dengan nama Presiden Amerika, yaitu JFK. 

                Tapi belakangan ini, saya jadi kepikiran apa Amerika sudah berubah? Saya betul-betul prihatin. Kawasan elit Manhattan yang dulu saya jelajahi hampir setiap hari seperti di 5th Avenue dan 42nd Street ambyaar. Outlet brand ternama seperti Gucci, LV, dan H&M dijarah massa. Mobil polisi NYPD dibakar.

                Sebaliknya pengunjuk rasa dihalau dengan keras. Mereka ditembak gas air mata dan peluru karet. Kalau bentrokan polisi dan pengunjuk rasa itu terjadi di Jakarta atau Hong Kong, sudah pasti dicemooh Amerika sebagai pelanggaran HAM dan kebebasan menyampaikan pendapat.

                Kredo-kredo yang biasa diajarkan Paman Sam ke negara lain sedang mengalami karmanya sendiri. Analis menilai Trump ingin mengembalikan Amerika ke tahun 1950-an. Trump ingin membuat benteng “no imigrant, no negros, no homosexual, no human rights, no equality, and no socialist”.  Yang ada hanya “White Anglo Saxon Protestants” yang mendominasi Amerika.

                Kalau ini benar, sangat menyedihkan bagi orang seperti saya, yang pernah merasakan nilai-nilai “American Way”. Saya pernah percaya bahwa Amerika telah menemukan solusi atas masalah konflik agama dan etnis yang sampai saat ini masih menghantui dunia.

                Sewaktu tinggal di New York, saya terkagum-kagum melihat bagaimana pendatang Serbia dan Kroasia, Sikh dan Hindu, Katholik Irlandia dan Katholik Protestan, Yahudi dan Palestina, pihak-pihak yang saling bermusuhan itu, bisa hidup rukun bersama. Bagaimana ini bisa terjadi di Amerika sementara kelompok-kelompok ini saling bunuh di banyak tempat di kawasan lain dunia? 

                Menurut Dinesh D’Souza ada dua kunci jawabannya. Pertama, Amerika memisahkan urusan agama dan urusan pemerintahan. Tidak ada agama yang mendapat preferensi negara, tapi semua pemeluk agama bebas menjalankan ibadahnya masing-masing.

                Kedua, Amerika tidak memberikan hak apapun kepada kelompok etnis atau ras, tapi hanya  kepada individu-individu.  Dengan cara ini, setiap orang sama kedudukannya dalam hukum, peluang sama terbuka bagi semua orang, dan setiap orang yang memeluk cara hidup dan nilai-nilai Amerika bisa menjadi “orang Amerika”, entah itu imigran dari Arab, Asia, atau Afrika.

                 “To make us love our country,” kata sosiolog Edmund Burk, “our country ought to be lovely.”

                Arti penting dari apa yang disampaikan Burke adalah kita (warga Amerika) harus mencintai negara  bukan hanya karena kita lahir di situ, tapi juga karena Amerika adalah negara yang baik, punya nilai-nilai dan adab yang bagus. Amerika memang jauh dari sempurna, tapi kehidupan orang Amerika sekarang adalah yang terbaik saat ini. Itulah sebabnya, negara Amerika wajar dicintai dan dibela karena lebih dari bangsa-bangsa lain di dunia, Amerika telah menjadi tempat untuk hidup –meminjam istilah Jawa—tata tentrem kerto raharjo.

                Amerika mampu menyediakan “good life” untuk “the ordinary guy”. Orang kaya bisa hidup makmur di mana saja. Namun, apa yang membedakan Amerika adalah negeri itu menyediakan standar hidup yang sangat tinggi buat orang biasa dengan pekerjaan biasa. Seorang buruh bangunan di New York biasa membayar 5 dolar (Rp80.000) untuk secangkir kopi, asisten rumah tangga biasa naik mobil bagus dan tukang ledeng bisa memboyong keluarganya liburan ke Eropa.

                Waktu baru pertama kali datang ke Amerika, saya terheran-heran dengan ‘kemewahan’ yang dinikmati orang miskin. “Orang miskin” di Amerika setidaknya memiliki televisi, microwave dan mobil. Amerika adalah negara dimana orang miskinnya gendut-gendut, setidaknya itu bukti mereka cukup makan.

                Tapi bayangan saya tentang ideal Amerika seperti itu terpontal-pontal beberapa pekan terakhir ini. Tragedi yang memilukan tengah terjadi di Amerika: korban mati akibat Covid-19 sudah 100.000 orang dan pembunuhan George Floyd, warga kulit hitam, memicu unjuk rasa dan kerusuhan di seantero negeri.

                Tapi reaksi Presiden Trump di luar dugaan. Trump sibuk sendiri main Twitter, mengutuk China soal unjuk rasa di Hong Kong dan memutuskan hubungan dengan WHO, sebuah badan PBB yang menjadi garda depan perang melawan Covid-19.

                Trump juga asyik memposting tweet-tweet kontroversial. Ia menyebut pengunjuk rasa sebagai “bandit”, profesional anarkis, dan mengancam dengan mengutip ucapan Kepala Miami Polisi Walter Headley tahun 1967: “Jika penjarahan dimulai, penembakan dimulai”.

                Twitter mengambil langkah yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam membatasi kemampuan publik untuk membaca ciutan Trump tersebut. Twitter menilai ciutan Trump melanggar aturan tentang “glorifikasi kekerasan”. Tweet tersebut disembunyikan kecuali pengguna mengklik untuk membacanya, sementara orang tidak bisa merespon “like” atau “reply” terhadapnya.

                Banyak yang tidak setuju dengan gaya jagoan Trump. Jenderal James Mattis, mantan Menteri Pertahanan, menuding presiden telah memecah belah bangsa. Mattis menentang Trump melibatkan tentara AS dalam menghadapi unjuk rasa. Itu dinilai melanggar konstitusi Amerika.  

                Bahkan ada karikatur menggambarkan Donald Duck ingin mengganti nama depannya menjadi Derek. Ia malu Trump telah membuat nama Donald menjadi buruk.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya
Close
Back to top button