Klik Banner Workshop BUMN Series
KOLOM PAKARLENSA

KENISCAYAAN EKONOMI DIGITAL

Oleh Akhmad Kusaeni

             Ekonomi digital adalah sebuah keniscayaan. Ia adalah masa depan Indonesia.

            Ekonomi digital merupakan serangkaian kegiatan ekonomi dan sosial yang menggunakan jaringan internet, seperti aktivitas jual beli, perbankan,  akses pendidikan atau hiburan yang menggunakan platform teknologi internet.

            Perkembangan internet mendorong perkembangan ekonomi digital tumbuh pesat. Pandemi Covid-19 dengan protokol kesehatan dan kewajiban menjaga jarak turut menjadi katalisatornya. Perusahaan dan negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk membuat kebijakan dalam mengembangkan perdagangan berbasis elektronik dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi  sebagai media utamanya.

             Pemerintah Indonesia juga tak mau ketinggalan. Saat ini, pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator dalam ekonomi digital, akan tetapi juga sebagai fasilitator dan bahkan akselerator dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital terutama startup digital.

             Sebagai negara yang potensial untuk investasi di bidang ekonomi digital, Indonesia didukung dengan beberapa hal. Misalnya saja Indonesia menempati urutan ke empat di dunia dengan antusias yang sangat tinggi terhadap penggunaan media sosial seperti Facebook, Instagram, Line, Twitter dan YouTube.  

            Jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang (data Januari 2022). Pengguna media sosial ini meningkat 12,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 170 juta orang.

            Indonesia terus mengalami peningkatan pengguna internet setiap tahunnya. Ini menjadi peluang bagi investor untuk semakin memperluas pasarnya karena Indonesia merupakan pasar potensial yang besar terutama di kawasan Asia Tenggara. Ekonomi digital di Indonesia tertinggi di kawasan ini dengan nilai ekonominya di tahun 2021 tercatat sekitar USD 70 miliar dan diperkirakan mampu mencapai USD 146 miliar pada tahun 2025.

            Indonesia juga memiliki ekosistem yang berkembang dalam bidang electronic commerce (e-commerce) seperti aplikasi jual-beli online, layanan transportasi tumpangan, media distribusi dan layanan keuangan. E-Commerce itu dengan cepat telah membuat perusahaan-perusahaan raksasa yang selama ini merajai dan mendominasi pasar tumbang dihajar pemain-pemain baru yang tidak kelihatan, yaitu para Starupus Rapidus yang sering disebut Killer Companies. Perusahaan pembunuh itu menunggang revolusi digital bersenjatakan aplikasi semacam e-commerce.

            Jaringan departement store terbesar di Amerika Serikat Sears dinyatakan bangkrut dihajar situs belanja online. Sears tidak sendirian dirundung malang. Retailer-retailer besar lain seperti Target, Walmart dan J.C. Penney juga meredup.  Mereka terus mengalami penurunan tingkat belanja pelanggannya.

             Di Indonesia, perusahaan retail besar seperti Debenhams, Lotus, Matahari, Ramayana, sebagian juga tutup dihajar situs belanja online seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee,  Blibli.com dan sebangsanya.

            E-commerce juga telah menggerus pasar ritel modern di Indonesia. Mulanya e-commerce hanya sebagai tempat memajang produk, kemudian terus berkembang hingga menyangkut keseluruhan rantai usaha dari hulu hingga hilir. Ini seperti bola salju yang siap menggulung siapa saja yang diterjangnya.

            Cerita ini untuk menunjukkan bahwa e-commerce telah menjadi sistim transaksi belanja yang makin dominan di masa depan dibanding sistim pasar tradisional. Cerita ini juga membuktikan bahwa keputusan untuk masuk ke ekonomi digital sangat tepat sesuai  dengan perkembangan zaman.

            Perkembangan e-commerce di Indonesia berada di jalur yang benar dibuktikan dengan adanya startup yang memiliki status sebagai unicorn dan decacorn yang telah berkembang hingga ke  beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara. Istilah decacorn merujuk pada startup digital yang telah memiliki valuasi nilai sebesar USD 10 miliar atau Rp 140 triliun, sedangkan unicorn merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan perusahaan privat yang memiliki valuasi nilai lebih dari USD 1 miliar.

            Indonesia kini memiliki dua decacorn, yakni Gojek dan J&T Express. Indonesia memiliki 3 unicorn, yaitu Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka. Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di dunia pada tahun 2022 ini setelah China, India, dan Jepang.  

            Itulah mengapa ekonomi digital menjadi suatu keniscayaan bagi Indonesia!

Artikel Terkait

Back to top button