Jakarta, Bumntrack.co.id – Knowledge Hub merupakan salah satu daya tarik acara Electricity Connect 2026. Pengunjung biasa hingga anggota delegasi dapat mengetahui perkembangan dunia energi yang terkini dari para pelaku usaha maupun peneliti energi tanpa dipungut biaya.
Setiap sesi memiliki rangkaian presentasi yang berbeda-beda. Contohnya, ada pembicara membuka kesempatan bagi spektator untuk bertanya, namun ada juga yang langsung turun panggung seusai presentasi.
Beberapa sesi menjadi ajang peluncuran atau promosi buku yang ditulis oleh pihak yang tampil di Knowledge Hub seperti yang berlangsung pada hari ketiga expo (24/9), sama seperti dua hari pertama.
Karya pertama yang ditampilkan adalah buku Awareness dan Pengantar Teknologi PLTN karya M. Ahsin Sidqi, Heru Sriwidodo, dan Suharto Wiranu. Pembahasan berlangsung lebih cepat karena salah satu penulis tidak bisa datang karena sakit.
Selama sekitar 30 menit, para hadirin mendengarkan penjelasan hal-hal dasar terkait energi nuklir sekaligus potensinya. Ahsin Sidqi menegaskan bahwa bom nuklir berbeda dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)
“Tolong jangan gunakan nuklir untuk perang, tetapi untuk perdamaian,” tambahnya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang.
Sesi berikutnya, Basuki Setiawan didampingi Sihwanto membahas karya tulis mereka, yakni PLTA 47 MW Rajamandala – Merintis Cahaya.
Sebagai sosok yang terlibat dalam dunia kelistrikan Indonesia, Basuki menceritakan proses pembangunan infrastruktur di Kabupaten Cianjur itu, seperti kendalanya maupun bantuan-bantuan yang diterima dari negara luar.
Ketika melaksanakan sebuah proyek berskala besar, penting untuk berkoordinasi dengan masyarakat sehingga kotak saran tersedia di PLTA Rajamandala supaya warga setempat dapat mengirim tanggapan.
Selanjutnya, Knowledge Hub di Hall 10 diisi oleh mantan petinggi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), Tulus Ruseno. Hal yang dibahas seputar pembangkit energi beserta ketersediaan bahan untuk produksi energi.
Akibat perubahan satu-dua sebab, buku yang dibedah berbeda dari yang dinantikan, meskipun topiknya hampir sama. Tulus mengakui bahwa materi tersebut lebih sulit dicerna.
Penulis: Jovan. A. R
Editor: Ismed Eka








