Jakarta, Bumntrack.co.id – Sepanjang kuartal IV tahun 2025, Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatat laba bersih sebesar Rp1,2 Triliun (+30% YoY, +101% QoQ).
Hasil ini membuat laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp3,5 triliun (+16% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 109% estimasi 2025F konsensus.
Kinerja laba bersih pada kuartal IV/2025 didorong oleh lonjakan Net Interest Income (+101% YoY/+57% YoY), seiring dengan melandainya Cost of Fund (CoF) dan adanya penyesuaian kalkulasi effective interest income pada segmen KPR non–subsidi. Di sisi lain, perseroan tetap meningkatkan beban provisi di tengah perbaikan kualitas aset per Desember 2025.
Dilansir dari Stokbit, Rabu (11/2/26), BBTN menegaskan komitmennya untuk meningkatkan proporsi CASA berbiaya rendah, salah satunya melalui pembatasan pemberian special rate kepada nasabah institusi.
CoF tercatat turun menjadi 2,9% selama Desember 2025, meski CASA Ratio turun ke 49% (vs. Desember 2024: 54%, September 2025: 47%). Hasil ini membuat CoF deposit selama 2025 turun menjadi 3,9% (vs. 2024: 4,1%, 9M25: 4,1%), sehingga beban bunga menurun -6% YoY pada 4Q25 dan flat selama 2025. Di sisi lain, loan yield meningkat ke level 10% pada 4Q25 (vs. 3Q25: 9%) dan 10% selama 2025 (vs. 2024: 8%). Dinamika ini mendorong NIM naik menjadi 4,2% (vs. 2024: 2,9%, 9M25: 3,9%).
BBTN mencatat pertumbuhan kredit sebesar +12% YoY per Desember 2025 (vs. September 2025: +7% YoY), melampaui guidance 2025F dari manajemen di kisaran +7–9% YoY. Kinerja ini didorong oleh pertumbuhan kredit korporasi (+71% YoY, +30% QoQ), sejalan dengan strategi manajemen untuk meningkatkan proporsi kredit non–perumahan hingga 30% pada 2029–2030 (vs. 2025: 18%, 2024: 15%). Di tengah akselerasi kredit tersebut, Loan–to–Deposit Ratio (LDR) masih relatif longgar di 92% (vs. target 2026: 94–97%), didukung oleh pertumbuhan DPK yang solid per Desember 2025 (+15% YoY).
BBTN mencatat kenaikan beban provisi yang signifikan pada 4Q25/2025 (+154% YoY, +205% YoY), yang mendorong NPL Coverage Ratio naik menjadi 124% per Desember 2025, yang sudah dekat dengan target manajemen di atas level 125% pada 2026.
Kenaikan provisi terjadi di tengah perbaikan NPL gross menjadi 3,1% (vs. September 2025: 3,4%) yang relatif sejalan dengan target manajemen di <3,1%. Perbaikan kualitas aset didorong oleh strategi pengetatan seleksi pada segmen KPR non–subsidi, tercermin dari kenaikan rata–rata rejection rate menjadi 44% pada 2025 (vs. 2024: 27%).
Analis Stockbit, mengungkapkan bahwa untuk tahun 2026, BBTN menetapkan target pertumbuhan kredit di kisaran +8–10% YoY, dengan keyakinan bahwa realisasi akan berada di batas atas guidance.
Manajemen memperkirakan likuiditas industri masih akan ample hingga 1H26, meski terdapat ketidakpastian pada 2H26 yang membuka peluang revisi guidance ke depan.
Sementara itu, kami melihat potensi berlanjutnya tren penurunan CoF seiring penghimpunan CASA yang lebih selektif. Dari segi kualitas aset, NPL gross ditargetkan turun ke <3% pada 2026F. Manajemen pun menilai bahwa NPL Coverage Ratio saat ini sudah mendekati level nyaman, sehingga guidance CoC untuk 2026F diturunkan ke kisaran 1–1,2%, dari realisasi 2025 sebesar 1,6%.








