Jakarta, Bumntrack.co.id – Sepanjang 2025, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih Rp4,9 triliun pada kuartal IV 2025, turun 6% secara tahunan (YoY) dan 2% secara kuartalan (QoQ).
BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun. Jika dibandingkan tahun 2024, laba bersih BBNI sebesar Rp 21,5 triliun, maka laba BBNI menurun 6,97 Persen secara tahunan
Penurunan laba bersih secara tahunan terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pencadangan. Manajemen mengambil langkah konservatif dengan menaikkan level provisi sebagai bagian dari strategi kehati-hatian.
Meski demikian, kinerja operasional tetap solid tercermin dari Pre–Provision Operating Profit (PPOP) kuartal IV 2025 yang mencapai Rp10,2 triliun, tumbuh 10% YoY dan melonjak 27% QoQ, melanjutkan tren pemulihan sejak kuartal III 2025.
Hingga akhir tahun 2025, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan (Year on Year/YoY), didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat, tercermin dari struktur pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang semakin solid, sehingga menopang efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama di Jakarta, Selasa (4/2/26).
Transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas secara menyeluruh. Upaya tersebut dijalankan melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, optimalisasi jaringan kantor dan pemanfaatan data analytics, serta penguatan platform digital guna meningkatkan kualitas layanan dan customer experience secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari ekosistem perbankan nasional, BNI juga secara aktif mencermati perkembangan makroekonomi serta menerapkan langkah mitigasi yang terukur untuk memastikan kebijakan strategis berjalan optimal dan mendukung kesinambungan pertumbuhan jangka panjang.
Dalam kerangka strategi transformasi digital, BNI terus mengembangkan wondr by BNI sebagai personal transaction platform. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 12 juta pengguna, dengan tingkat keaktifan transaksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan platform sebelumnya. Peningkatan engagement nasabah ini turut berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan tabungan ritel dan penguatan CASA.
Selain itu, BNI juga menyempurnakan platform BNIdirect yang mencakup layanan Cash Management, Trade Finance, Bank Guarantee, dan Supply Chain Financing untuk segmen korporasi dan bisnis. Sepanjang 2025, BNIdirect mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% YoY, yang berkontribusi langsung terhadap penguatan dana giro korporasi.
Di sisi internasional, BNI memperkuat perannya sebagai orkestrator bisnis Indonesia ke pasar global melalui jaringan internasional di delapan pusat keuangan dunia, serta kemitraan strategis dengan lebih dari 1.300 bank koresponden di 90 negara yang mencakup 16 mata uang.
Provisi Ditingkatkan Meski Kualitas Aset Membaik
Pada kuartal IV 2025, BNI meningkatkan credit cost (CoC) ke level 1,5% dari 1,1% pada kuartal sebelumnya, meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) dan loan at risk (LAR) tercatat menurun secara kuartalan. Sepanjang 2025, CoC berada di level 1,2%, lebih tinggi dibandingkan 2024 sebesar 1,1% dan di atas target manajemen sekitar 1%.
Manajemen menjelaskan, kebijakan peningkatan provisi didorong oleh sejumlah faktor, antara lain dampak bencana alam di wilayah Sumatra pada akhir 2025, lemahnya pemulihan bisnis ritel, serta tingginya ketidakpastian geopolitik global. Untuk 2026, BNI menargetkan CoC yang lebih rendah di kisaran 1–1,2% seiring membaiknya prospek ekonomi domestik.
Pertumbuhan Kredit Melonjak Ditopang Program Kopdes Merah Putih
Hingga Desember 2025, kredit BNI tumbuh 16% YoY, jauh melampaui target awal 8–10%. Pertumbuhan ini didorong oleh penyaluran kredit sebesar Rp47 triliun kepada PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih.
Di luar kredit tersebut, pertumbuhan kredit inti BNI tercatat sebesar 10% YoY, sejalan dengan target manajemen. Total alokasi kredit untuk program Kopdes Merah Putih mencapai Rp66 triliun, dengan realisasi pinjaman meningkat menjadi Rp55 triliun per akhir Januari 2026 dan sisanya akan disalurkan secara bertahap.
Dari sisi profitabilitas, manajemen menyampaikan bahwa kredit kepada Agrinas memiliki yield sekitar 6% dengan cost of fund (CoF) 3,8%, sehingga spread lebih rendah dibandingkan Net Interest Margin (NIM) perseroan secara keseluruhan.
Analis Stockbit menilai secara keseluruhan kinerja fundamental BNI pada kuartal IV 2025 dinilai tetap positif. Perbaikan kualitas aset dan pertumbuhan dana murah (CASA) yang mencapai 29% YoY menjadi sentimen pendukung utama.








