CEO NOTES

Memilih Produktif

Ia tak pernah berhenti belajar. Kemampuannya menjalin silaturahim, menjaga integritas dan kontribusi dirinya untuk selalu memberikan yang terbaik,memuluskan jalannya membangun sejumlah prestasi.

Senja di pinggir waduk Jatiluhur, pertengahan November lalu begitu teduh. Dibuai semilir angin, kami terhanyut menikmati gradasi warna langit yang berubah keemasan,  sambil menyeruput kelapa muda. Seraya menanti sang surya kembali ke peraduan, perbincangan ringan perjalanan hidup Direktur Utama Jasa Tirta II, U. Saefudin Noer,mengalir bak inspirasi yang tak berujung.

Saefudin Noer lahir diPandeglang, Banten. Masa kecilnya kerap ditandai aktivitas bernuansa religi dan diajari kesantunan. Nilai-nilai ditanamkan orangtuanya sejak dini, sebagai bekal yang memagari hidupnya.

Orang tuanya menitip pesan untuk tak berhenti belajar.Saefudin ingat betul salah satu pesan Sang Ayah. “Menurut Orangtua, cukuplah memiliki ilmu untuk menaklukkan dunia. Kalau kamu bawa harta, maka kamu butuh rumah, mobil, lemari, kamar, pesawat, dan lain-lain untuk membawa dan meyimpannya. Tetapi jika punya banyak ilmu, kamu cukup membawa kepalamu saja. Kamu bisa hidup di manapun,” urai Saefudin mengenang nasihat orangtuanya.

Ajaran tersebut bak mantra dan ajimat, yang mengantarkan Saefudin menuju sejumlah prestasi. Kegigihannya dalam belajar pun bebuah manis. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, ia langgananmeraihpredikat juara 1. Sekali-kalinya, lelaki yang saat sekolah dikenal sebagai siswa teladan ini menjadi juara 1 kembar saat kelas 2 SMA. Selebihnya, ia selalu unggul di antara kawan-kawannya dalam bidang akademik, termasuk menjadi mahasiswa berprestasi di Universitas Indonesia (UI). Ia juga lulus sekaligus menjadi penulis skripsi terbaik tingkat nasional dari penilaian Asosiasi Ilmuwan Politik Indonesia (AIPI), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

Apa rahasia suksesnya? “Doa ibu dan semangat untuk terus belajar,” seloroh lelaki yang aktif dalam berbagai organisasi di sekolah itu.

Bakat sukses terlihat sejak kecil. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Saefudin sangat gemar membaca. Ia rela berjalan kaki sejauh 5 km ke pusat kota untuk meminjam buku di perpustakaan umum.Selain buku pelajaran,  berbagai jenis buku ia lahap, antara lain, ia mempunyai bacaan favorit yang ditulis tokoh besar dunia, seperti Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran,Karl May, Erich Fromm, sampai Andreas Falludy, seorang guru besar perencanaan.

Tentu ia juga kerap membaca buku penunjang profesi dan karirnya dibidang finance & banking, hingga memiliki bearagam koleksi dan perpustakaan pribadi di rumahnya. Salah satu buku yang dia akui mempengaruhi dirinya adalah buku Denis Waitley yang berjudul Kekaisaran Pemikiran (Empires of The Minds).

Melalui buku tersebut, Waitley menjelaskan bahwa pikiran manusia laksana sebuah kekaisaran. Untuk menaklukan sebuah bangsa atau memenangkan kompetisi, kita harus mampu mempengaruhi pemikiran para pemimpinnya. Buku ini juga mengajarkan kunci-kunci sukses dan bagaimana strategi mempengaruhi pemikiran dan mengelola pemikiran.

Isi yang terkandung dalam buku tersebut sejalan dengan keyakinkannya bahwa, “masa depan itu belum ada yang memiliki, kecuali orang-orang yang telah memikirkan dan mempersiapkannya,” ungkapnya.

Perjalanan Profesional

Untuk menambah pengalaman dan mengasah kepemimpinan, Saefudin gemar berorganisasi. Ia aktif di Pramuka, OSIS& IKOSIS semasa SMP dan SMA. Selama menjadi mahasiswa ia jugapernah menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) di UI dan President of The Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS).

Saat masih menjadi mahasiswa UI, ia sering diundang ke luar negeri. Negara-negara ASEAN dan Jepang adalah negara yang paling sering ia kunjungi, menyusul negara-negara lain yang jumlahnya tak terhitung. Perjalanan pendidikannya terus berlangsung hingga menyelesaikan master di UI danprofesional program di INSEAD Business School di Prancis.

Prestasi dan perjalananannya melintasi lima benua semakin menjadi saat ia menjalani karir profesional. Ia pun pernah menjadi tim lembaga dunia usaha untuk ekonomi APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation)yaitu ABAC (APEC – Business Advisory Courcil).

Selain mengabdi sebagai dosen di UI, karirnya dimulai dari perusahaan konsultan Management  Engineering berbasis di Amerika Serikat dengan posisi terakhirnya sebagai Project Director untuk Region Asia Pasifik. Perjalanan karirnya berlanjut di dunia perbankan hingga lebih dari 20 tahun. Selain berkarier di Bank Duta, antara lain, Saefudin juga pernah menjadi Direktur Bank Muamalat dan meraih penghargaan sebagai The Best Product Innovator pada tahun 2005. Saefudin kemudian dipercaya sebagai Deputy Director GIBD CIMB Group Malaysia , Senior Vice President (SVP) unit bisnis syariah dan Head of Government Relations di CIMB Niaga hingga tahun 2015. Ia juga pernah meraihThe Best Innovator Champion of The Blue Ocean Strategy CIMB Group di tahun 2012.

Sejak Maret 2015 kariernya berlabuh di BUMN. Sebagai Direktur Keuangan Pelindo III dan posisi komisaris di anak-anak perusahaan Pelindo III. Selanjutnya, sejak 6 Maret 2019 hingga saat ini, Saefudin dipercaya mengemban amanah menjadi Direktur Utama Jasa Tirta II.

Memilih Produktif

Berkarier dengan beragam sector telah ia jalani. Peraih gelar Master Manajemen Komunikasi UI dan lulusan Business and Leadership Program INSEAD Business School Prancis ini, terbukti multitasking, alias mampu mengerjakan banyak hal dalam satu kesempatan. “Cara membagi waktunya adalah dengan mind management,” kata pria yang gemar membaca buku‘Mind Map’ karya Tony Buzan.

Risalah yang ia simpulkan dari buku tersebut adalah, seseorang yang memiliki kemampuan melakukan mind mappingakan terbantu. “Anggaplah pikiran itu seperti sebuah lemari yang menyimpan banyak pakaian. Kalau belum mau dipakai jangan dikeluarkan dulu dari ‘lacinya’. Fokus pada apa yang mau dibahas saja,” ungkapnya berbagi tips.

Saefudin juga sosok yang berpikiran positif dan berusaha menciptakanvalue. Ini pun terlihat pada reaksinya saat pertama ditunjuk menjadi Dirut Jasa Tirta II. Pria yang patriotik ini mengaku surprise karena belum memiliki gambaran tentang bisnisnya. Sebagai orang keuangan, ia segera menelusuri neraca keuangan perusahaan. Ia pun takjub ketika mengetahui kontribusi Jasa Tirta II yang begitu besar, yakni hampir 90 persen air yang dikelola untuk kepentingan ketahanan pangan dan pertanian.

“Artinya, perusahaan ini amalnya banyak kepada negara dan masyarakat. Makanya, sayaturun langsung ke lapangan. Saya meyakinkan teman-teman, ayo kita mulai dari lapangan, mulai dari mendengar dan mulai dari masa depan,” ajaknya. 

Dasar inilah yang membuatnya segera menetapkan transformasi bagi perusahaan. Dalam 30 hari pertama masa kerja, ia mencanangkan gerakan kebersihan sungai dan waduk serta menata sekitarnya. Bagi para karyawannya ini menciptakan aktivitas yang padat dan menggembirakan. Ia berprinsip, agar tidak memilih menjadi sibuk tidak karuan, tapi mengajak timnya lebih produktif dengan beragam kegiatan positif. “Saya memilih productive, not busy. Saya sering berkelakar, ini business, bukan  busy-ness,” ujarnya sambil terbahak.

Bait-bait Puisi

Saefudin juga piawai menciptakan bait-bait puisi. Hobi yang cenderung menggambarkan sikap romantis ini seiring dengan hobinya membaca. Sejak remaja ia sudah menghasilkan beragam tulisan, seperti puisi, prosa hingga artikel. Semasa SD, ia menyabet juara lomba baca puisi tingkat kabupaten dan provinsi. Saat duduk di bangku SMP, ia mulai membuat majalah dinding. Bahkan di Kampus ia memimpin sejumlah media, termasuk Jurnal ilmiah dan profesi.

Karya-karya Saefudin sewaktu remaja juga kerap mengisi beberapa majalah remaja dan media cetak nasional. Bahkan, saat menjadi mahasiswa, pria yang skripsinya dinilai terbaik versi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) ini sempat menjadi kolumnis, penulis puisi dan prosa, serta ghost writer untuk membiayai kuliahnya. “Mungkin karena saya banyak membaca, sehingga banyak memori, teori, pengetahuan, atau pandangan yang memengaruhi saya dalam menyampaikan pikiran. Itu membuat cara berpikir lebih terstruktur dan kontennya beragam. Diksinya pun berbeda dengan teman seusia saya saat itu,” papar Saefudin yang juga pernah membuat majalah kampus bernama Jurnal Mentari dan Majalah Kampus.

Bahkan saat ini, sesekali ia masih menyempatkan diri membuat prosa atau puisi sebagai hobi yang secara tidak langsung mendukung kesuksesannya.

Baginya, antara hobi dan pekerjaan dapat saling mengisi. Hobi merupakan bentuk ekspresi, sedangkan profesi untuk survive pada kehidupan yang kompetitif. “Keduanya tidak berbenturan. Namun pada tahap tertentu, kita perlu membatasi diri,” tukasnya.

Men-support Buah Hati

Saefudin menyanjung nilai persahabatan. Ia gemar menjaga hubungan dengan banyak kalangan. Di luar itu, yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bermanfaat dan mampu berkontribusi, dalam setiap kesempatan.

Nilai-nilai positif itu ia tularkan kepada buah hatinya. Ayah dari Ahmad Ananda Surya Ramadhan (20), Aisyah Putri Maharani (16) dan Sultan Maulana Saefudin (12) ini memilih bersikap terbuka dalam berkomunikasi dengan keluarga yang menyesuaikan dengan era dan gaya bahasa ketiganya, seraya tak lupa mendisiplinkan nilai-nilai agama.

“Anak-anak dan keluarga sekarang berbeda. Yang penting kita menjaga komunikasi dengan anak-anak, baik langsung ataupun dengan memanfaatkan perkembangan teknologi,” ungkap Saefudin.

Bersama Diah Senja Dwitari, sang istri, ia kerap memberi masukan kepada anak-anak tentang masa depan tanpa memaksakan kehendak. Yang terpenting baginya adalah dapat mengantar anak-anak menggapai cita-cita yang sesuai pilihan mereka.

Ia kerap member cerita tentang perlunya perencanaan dan tujuan yang dimulai dari masa depan. Menurutnya, jika seseorang memiliki tujuan dan cita-cita, dia akan berdisiplin untuk mencapainya, sehingga menghindari setiap gangguan yang dapat merusak tujuannya. “Agar anak sukses, sering-sering doakan dan berisupport. Kasih mereka tujuan, gambaran dan beri mereka role model,” pungkasnya.

Tak terasa, matahari kian merunduk. Tanda terang segera berganti temaram. Dengan perasaan lega, kami mengakhiri perbincangan hangat sore itu sambil membawa pulang segudang pengalaman serta pelajaran hidup yang sangat berharga.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close