Mengubah Kemarau Menjadi Harapan, Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit dan Lebih Sejahtera

Mengubah Kemarau Menjadi Harapan, Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit dan Lebih Sejahtera
E-Magazine November - Desember 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id – Pada setiap tahun, musim kemarau menjadi momentum yang paling dikhawatirkan oleh para petani di Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah. Keterbatasan air membuat sebagian besar lahan pertanian tidak dapat ditanami. Akibatnya, hasil panen menurun, dan pendapatan para petani ikut berkurang.

Hal itu yang dirasakan Khairul Huda, beserta para petani yang ada di desanya. Ia harus berjuang mengelola lahan seluas sekitar empat hektare yang hanya bisa ditanami saat musim penghujan karena tidak memiliki akses irigasi.

“Saat musim kemarau kami hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan. Selama enam bulan berikutnya kami mengalami kerugian karena tidak bisa bercocok tanam,” kata Khairul dalam rilis Pertamina yang diterima di Jakarta, Rabu (19/8/26).

Kegelisahan ini membuat Khairul bersama puluhan petani lainnya, berinisiatif membentuk sebuah kelompok tani bernama Ngudi Makmur, sebagai salah satu upaya mengatasi segala tantangan yang ada. Terbentuknya kelompok tani menjadi awal perjalanan mereka. Langkah tersebut mempertemukan kelompok tani Ngudi Makmur dengan Pertamina, yang kemudian memberikan berbagai dukungan dan pendampingan untuk mengembangkan usaha tani melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB).

Mulai akhir 2024, berbagai dukungan diberikan Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo. Mulai dari pembangunan dua sumur air, penyediaan sarana dan prasarana pendukung pertanian, hingga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang menjadi sumber energi bagi pompa air.

Perubahan pun dirasakan secara bertahap. Pada tahun pertama pendampingan, luas lahan yang dapat ditanami saat musim kemarau meningkat, dari 20 persen menjadi sekitar 60 persen. Memasuki tahun kedua pendampingan, sekitar 90 persen lahan sudah dapat dimanfaatkan untuk penanaman.

Tak hanya mendukung sektor pertanian, lanjutnya, Pertamina juga membantu pengembangan usaha peternakan melalui pengembangan budidaya hewan ternak yang dikelola secara berkelompok. Kelompok tani juga memanfaatkan gulma yang selama ini memenuhi Waduk Cengklik sebagai pakan alternatif ternak. Upaya tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi tambahan, tetapi juga berkontribusi menjaga kondisi lingkungan sekitar waduk.

Tak berhenti sampai disitu, masih menurut Khairul, Pertamina juga memberikan bantuan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), agar kelompok tani Ngudi Makmur tidak bergantung pada listrik konvensional untuk mengoperasikan pompa air. Selain lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi, penggunaan energi terbarukan turut membantu mengurangi emisi di lingkungan.

“Manfaat yang diberikan Pertamina sangat banyak dan benar-benar kami rasakan. Dampaknya sangat besar terhadap perekonomian kami. Dulu kami sangat kesulitan sebagai petani, sekarang alhamdulillah kehidupan kami semakin sejahtera,” katanya.

VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan DEB merupakan bukti bahwa kemandirian masyarakat dapat inisiatif yang memadukan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendorong kemandirian masyarakat inilah yang menjadi jiwa program DEB yang dilaksanakan oleh Pertamina.

“DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan,” tutup Baron.

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.