BERITA
Trending

Mengurangi Sampah Laut, Miliaran Rupiah Diraup

Dok.Istimewa

Sambil mengais-ngais sampah yang ada di tepi pantai di kawasan pesisir Teluk Jakarta,  Muhammad Reza Cordova, Peneliti Oseanografi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), ingin memperlihatkan banyak sekali sampah berupa masker dan juga diduga sampah medis berserakan di pantai.

Menurut Cordova, sebelum pandemi, sampah-sampah pelindung diri ini tidak ditemukan. Sampah-sampah tersebut ada di tepi pantai karena terbawa oleh aliran 13 sungai yang melintasi Kota Jakarta yang bermuara di Teluk Jakarta.

Dari hasil  penelitian yang dilakukan oleh Oseanografi LIPI, diketahui selama pandemi lebih dari 16 persen sampah yang ditemukan di muara sungai Cilincing dan muara sungai Marunda merupakan sampah APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, pelindungan wajah, sarung tangan dan baju hazmat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan data yang disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar. Total timbulan limbah medis sejak Maret 2020 hingga Agustus 2021angkanya telah mencapai 20.110,585 ton per kubik.

Limbah medis, termasuk sampah masker,  tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Kementerian Kesehatan menyebutkan pengolahan limbah masker medis membutuhkan perlakuan khusus sebelum dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Meningkatnya sampah medis selama penanganan Pandemi Covid-19 mendapat perhatian yang serius dari Presiden Joko Widodo. Presiden mengingatkan karena sampah medis tersebut sangat berbahaya, semua instrumen untuk menghancurkan limbah medis tersebut harus segera diselesaikan. Penanganan sampah medis ini memang jadi tantangan bagi pemerintah di tengah upaya untuk menekan penyebaran virus Covid-19.

Dalam rangka ikut mengurangi dampak pencemaran lingkungan dan potensi penyebaran virus dari limbah masker, tim mahasiswa Unversitas Pertamina merancang inovasi Purwarupa Smart Mask Bin. Tempat sampah pintar ini dilengkapi teknologi untuk mengolah sampah khusus masker medis.

Khansa Dzahabiyya Wahyuddin, salah satu anggota tim menungkapkan, di bagian penutup tempat sampah tersebut, ditempelkan NIR Sensor. Chip pada sensor telah diisi oleh data kandungan kimia dari berbagai jenis masker. “Sehingga, tutup tempat sampah hanya terbuka ketika jenis masker medis akan dibuang,” ungkapnya.

Jika limbah masker medis telah terakumulasi dengan ketinggian tumpukan mencapai 15 cm, pisau pada tempat sampah akan secara otomatis berputar dan menghancurkan limbah. Setelah itu, limbah masker medis akan secara otomatis jatuh ke bagian bawah dan disemprot dengan disinfektan untuk membunuh berbagai patogen dalam limbah. Cacahan limbah yang telah didisinfeksi akan tersimpan dalam storage box utuk selanjutnya dibuang.

Khansa menambahkan, ide membuat Purwarupa Smart Mask Bin ini muncul didasarkan kekhawatirannya akan timbulan limbah dan potensi daur ulang limbah masker medis yang tak semestinya. Masih banyak masyarakat yang masih membuang masker medis bekas pakai dengan sembarangan. Ada juga oknum yang bahkan memungut limbah masker medis untuk dijual kembali. “Padahal limbah masker medis termasuk kategori hazardous waste yang harus diolah secara khusus supaya tidak menyebarkan penyakit,” ujar Khansa.

Inovasi Purwarupa sebagai tempat sampah pintar ini meraih juara ke-2 di ajang Java Business Competition 2021 yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Telkom pada September 2021 lalu.  Khansa dan tim berharap, Purwarupa ini tak hanya sampai di ajang perlombaan saja. Kedepan, tim akan mencari peluang kerja sama baik dengan pihak internal maupun eksternal universitas untuk mengembangkan Purwarupa menjadi produk unggulan karya anak bangsa.

Kepedulian akan persoalan sampah sebenarnya sudah menjadi perhatian serius dari PT Pertamina (Persero).  Kepedulian tersebut ditunjukkan dengan bebrgaai kegiatan yang termasuk dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Berbagai inovasi dilakukan demi turut mengurangi sampah agar tidak terbuang begitu saja mencemari lingkungan dan menjadi limbah.

Bayar Uang Sekolah dengan Sampah

Sampah plastik, misalnya, masih bisa digunakan sebagai bahan baku industri daur ulang. Sehingga masih memiliki nilai ekonomi.  Nah, sambil menumbuhkan budaya peduli sampah sejak dini, PT Pertamina EP Subang Field bekerjasmaa dengan mitra binaan PAUD Alam Al Firdaus, mencetuskan program  membayar iuran bulanan sekolah dengan sampah.

PAUD Alam Al Firdaus berlokasi di Desa Muktijaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang. PAUD ini mengusung pendidikan anak usia dini berbasis lingkungan, mulai dari pendidikan karakter cinta dan peduli lingkungan, kurikulum lokal berbasis lingkungan, hingga pengelolaan sampah.

Vice President CSR & SMEPP Agus Mashud mengatakan, PAUD ini memang sengaja dibentuk untuk membangun budaya sadar lingkungan sejak dini. Anak-anak diedukasi untuk mengenal lingkungan sejak dini, sementara orang tuanya datang membawa sampah, sebagai pengganti biaya untuk membayar uang bulanan sekolah. Sembari menunggu, para ibu juga mengikuti pelatihan kerajinan tangan dan mendapatkan sosialisasi tentang cara pengelolaan sampah yang benar. “Dengan demikian, baik ibu dan anak dapat menerapkan hidup sehat,” jelasnya. 

Kegiatan ini pun didukung penuh oleh orang tua murid.  Ibu Susanti (24) menceritakan, PAUD ini jadi solusi ibu-ibu di sekitarnya lebih berkembang lagi. “Programnya bermanfaat sekali, bayangkan membayar sekolah bisa pakai sampah. Lingkungan jadi lebih bersih dan kami bisa belajar mengolahnya kembali jadi barang yang bisa dijual,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh  orang tua murid lainnya, Ibu Wastiah. Pada awalnya, ia tak menyadari sepenuhnya bahwa sampah memiliki nilai guna. Namun lama kelamaan kesadaran itu tumbuh dengan sendirinya setelah mengukuti  program bayar uang sekolah dengan sampah yang digagas oleh PT Pertamina.

Rp1 Miliar per Tahun

Kepedulian PT Pertamina terhadap sampah juga diwujudkan dengan membantu masyarakat membangun bank sampah. Itu seperti yang dilakukan dengan masyarakat sampah di Lingkungan Tegalwangi Rejane, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Gerogol, Kota Cilegon, Banten. Melalui Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat, Pertamina ikut membangun bank sampah.

Pembuatan bank sampah tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Linkungan (TJSL) Pertamina di sekitar area operasi Fuel Terminal Tanjung Gerem, diresmikan langsung oleh Fuel Terminal Manager Tanjung Gerem Ade Sepriadi dan Camat Gerogol Lina Komalasari.

Dalam penyelenggaraan program bank sampah ini, Pertamina memberikan sejumlah bantuan fasilitas berupa mesin pencacah plastik, gerobak sampah, serta alat pendukung berupa karung goni dan buku tabungan sampah. Dengan fasilitas bank sampah tersebut, masyarakat dapat membawa sampah yang sudah dipilah sehingga menghasilkan nilai ekonomi.

Di bank-bank sampah yang menjadi mitra binaan Pertamina, masyarakat sekitar juga dilatih untuk membudidaya ulat maggot. Ulat berwarna hitam ini sangat efektif dalam mengurangi sampah, khususnya sampah organik. Program budidaya ulat maggot ini pun diberi nama Bulatih, budidaya Ulat Hitam.

Menurut Pjs Senior Vice Presiden Corporate Communications and Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman, inovasi sosial melalui program TJSL Pertamina sepanjang 2020 telah memberi manfaat kepada banyak masyarakat.  Salah satunya pada Program Pertamina Berdikari.

Melalui program ini masyarakat didorong untuk menghadirkan energi secara mandiri. Pertamina Group telah menghasilkan dampak bagi pengurangan emisi, mengalirkan gas methane, pemanfaatn kotoran menjadi energi terbarukan serta mereduksi timbunan sampah, pemanfaatan lahan pemanfaatan minyak jelantah menjadi energi listrik. Program TJSL pemberdayaan komunitas (kawasan) ini mampu memberikan dampak ekonomi kepada 6.929 penerima manfaat senilai hampir dari Rp1 miliar per tahun.

Apa yang telah dilakukan oleh Pertamina disambut baik oleh Rofi Alhanif, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Menurutnya upaya Pertamina yang begitu peduli terhadap penanganan sampah sangat dibutuhan pemerintah saat ini.

Apalagi dengan melibatkan PAUD dengan program membayar uang sekolah dengan sampah. Ini menanamkan prilaku sejak dini kepada anak-anak tentang pengelolaan sampah. “Membentuk prilaku peduli sampah, menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mengurangi sampah yang terbuang begitu saja ke lingkungan,” ujar Rofi.

Menurutnya, persoalan sampah saat ini menjadi persoalan serius yang ditangani pemerintah. Melalui Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2018 Tentang Penanganan Sampah Laut, ditargetkan pada tahun 2025 Indonesia dapat mengurangi sampah yang terbuang begitu saja ke laut, termasuk sampah plastik, sebesar 70 persen.

Seperti data yang disampakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwa setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 65,8 juta ton sampah. Tak kurang dari 14 persen dari sampah tersebut berupa sampah plastik. Dan setiap tahunnya sekitar 590 ribu kg sampah plastik masuk ke laut.  Dan ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua terbesar di dunia yang membuang sampah langsung ke laut.

Rofi berharap makin banyak BUMN maupun korporasi lainnya di Indonesia yang peduli dan tergerak seperti Pertamina akan pengelolaan sampah di Indonesia. Ia pun mengingatkan, tanpa upaya serius untuk mengurangi sampah yang terbuang ke laut, diperkirakan pada tahun 2050, akan lebih banyak sampah di laut dari pada ikan.

Artikel Terkait

Back to top button