KOLOM PAKAR

Perfect Storm

Oleh: Alphieza Syam

Head of Research and Consultancy Division – PPM Manajemen

 “Kemampuan perekonomian global untuk mampu pulih saat ini juga ditambah dengan tantangan terkini dari global shocks berupa lonjakan inflasi yang tinggi, pengetatan likuiditas dan suku bunga yang tinggi, stagflasi, gejolak geopolitik, climate change, serta krisis yang terjadi pada sektor energi, pangan, dan finansial. Ketidakpastian yang tinggi akibat dari kondisi ini juga telah menempatkan perekonomian global berada dalam pusaran badai yang sempurna, the perfect storm, sehingga mengakibatkan munculnya ancaman resesi global pada tahun 2023 nanti”. Demikian kutipan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dalam siaran pers judul; Dancing in the Storm, Pemerintah Jaga Resiliensi Perekonomian Hadapi Ancaman Resesi Global 2023, yang dirilis 9 Desember 2022.

Substansi dari siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI tersebut adalah, Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, utamanya para pelaku perekonomian, untuk tetap membangun optimisme seraya menjaga resiliensi, ketahanan ataupun kewaspadaan, atau apapun sejenisnya, mengingat adanya ancaman resesi global 2023 yang mungkin akan kita hadapi bersama.

Kemenko Perekonomian menggunakan diksi “the perfect storm” untuk menggambarkan situasi perekonomian global di tahun 2023 mendatang. Mungkin sebagian dari kita yang menggemari film layar lebar, diksi “Perfect Storm” mengingatkan pada karya Wolfgang Petersen tahun 2000 dengan judul yang sama. Film yang dibintangi oleh George ClooneyMark Wahlberg, dan sejumlah pemeran lainnya mengisahkan tentang kapal penangkap ikan Andrea Gail yang dinahkodai oleh Kapten Billy Tyne. Dengan kinerja hasil tangkapan ikan baru-baru ini yang belum memuaskan, Kapten Billy Tyne seringkali mendapatkan cemoohan atau ejekan dari sang pemilik kapal.

Berbekal rasa bersalah atas kinerja yang belum memuaskan, Kapten Billy Tyne memutuskan untuk mengajak seluruh awak kapal Andrea Gail berlayar ke perairan yang menjanjikan lebih banyak ikan. Semangat “menebus kekalahan” serta kepercayaan diri yang seketika menjadi sangat tinggi telah membuat Kapten Billy Tyne dan segenap awak kapalnya tidak menghiraukan potensi cuaca ekstrem, yang sewaktu-waktu dapat memporak-porandakan mereka.Film berakhir memilukan, setelah sekumpulan regu penyelamat gagal menjalankan operasi penyelamatan Andrea Gail karena diterpa badai yang sama, dan bahkan justru harus diselamatkan oleh regu penyelamat lainnya. 

Dari sinopsis singkat film Perfect Storm , setidaknya ada dua hal yang mungkin dapat kita tarik pembelajarannya dalam konteks organisasi atau perusahaan. Pertama; semangat Kapten Billy Tyne dan segenap awak kapal Andrea Gail dapat dianggap sebagai semangat transformasi. Semangat berubah dari kinerja yang belum memuaskan menjadi kinerja Andrea Gail yang menuai tangkapan ikan dengan volume jauh lebih besar.

Terminologi “transformasi” telah menjadi pilihan bagi banyak organisasi atau perusahaan untuk dijadikan frasa motivator yang menujukkan upaya strategis untuk berubah ke posisi yang jauh lebih baik dari posisi saat ini. Oxford Dictionary memberikan definisi transformasi sebagai perubahan menyeluruh atau dramatis dalam bentuk atau tampilan. Secara singkat, transformasi dimaknai sebagai suatu upaya perubahan fundamental, baik dari cara kerja, tampilan atau bentuk, menuju suatu kondisi yang lebih bermanfaat atau menguntungkan.

Kedua; terdapat potensi terjadinya hal-hal di lingkungan eksternal yang dapat merugikan, menghambat atau bahkan mengagalkan transformasi. Badai dan cuaca ekstrem yang terjadi di film tersebut merepresentasikan potensi gangguan dari lingkungan eksternal atau risiko.  

Pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada dasarnya telah memberikan semacam peringatan dini kepada para pelaku perekonomian di negeri ini.  Atas peringatan dini tersebut, tentunya terdapat sejumlah alternatif tindakan yang dapat kita pilih untuk dilakukan.

Organisasi atau perusahaan bisa saja memilih sikap wait and see, yang mungkin mirip dengan sikap seandainya Kapten Billy Tyne harus menunggu kapan cuaca mulai kembali bersahabat. Seraya menunggu cuaca bersahabat, mungkin Kapten Billy Tyne dan seluruh awak Andrea Gail hanya berdiam diri tidak melaut, dan keberlangsungan hidup mereka sebagai nelayan pun sedikit terganggu.

Sikap lain yang mungkin lebih bijak dan dapat menjadi pilihan adalah dengan tetap melaut dengan semangat mendapatkan tangkapan ikan yang lebih banyak, namun tetap menjunjung tinggi kewaspadaan bila sewaktu-waktu badai datang, dan kesigapan untuk segera putar haluan ke tempat yang lebih aman.

Sikap ini serupa dengan inti dari pesan Pemerintah melaui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto; tetap membangun optimisme seraya menjaga resiliensi, ketahanan ataupun kewaspadaan. Namun demikian, pilihan atas sikap ini pun tidak mudah. Dibutuhkan banyak persyaratan agar kita tetap dapat melaut dengan optimis, sambil waspada serta lincah bergerak putar haluan bila ternyata ‘badai’ yang sesungguhnya datang menerjang.

Transformasi organisasi dibutuhkan pada titik tersebut. Kesiapan sumber daya organisasi, utamanya modal insani dalam organisasi atau perusahaan untuk berubah menjadi lebih lincah atau agile dan memiliki resiliensi atau ketahanan dalam menghadapi badai akan menjadi salah satu faktor yang mendukung. Bagi BUMN di Indonesia, penanaman nilai-nilai inti AKHLAK secara paripurna, dan tidak hanya sebatas jargon, pada dasarnya merupakan peluang untuk meningkatkan kesiapan modal insani organisasi.

Bertransformasi dengan semangat menjadi lebih lincah atau agile tentunya juga bekum cukup. Kapten Billy Tyne seharusnya tidak hanya berfokus pada bagaimana performa teknis kapal dapat dipacu hingga dapat memecah ombak atau bahkan menembus gelombang setinggi puluhan meter. Sistem kemudi dan peralatan keselamatan di kapal juga harus mendapatkan prioritas penting untuk ditinjau, seraya diperbaiki atau ditingkatkan fungsinya. Sistem kemudi dan peralatan keselamatan di kapal mungkin dapat kita analogikan sebagai sistem manajemen risiko di organisasi atau perusahaan.

Bagi BUMN, hadirnya Peraturan Menteri BUMN No. PER-5/MBU/09/2022 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada BUMN harus disikapi sebagai peluang untuk dapat mengimplementasikan manajemen risiko secara lebih paripurna. Implementasi manajemen risiko harus ditujukan kepada kondisi yang pada akhirnya mendorong terciptanya budaya sadar risiko di seluruh jajaran organisasi atau perusahaan.

Pemerintah telah mendentangkan lonceng early warning, juga telah menitipkan pesan kepada para pelaku perekonomian di negeri ini untuk tetap waspada tanpa menurunkan optimisme. Apapun yang akan kita pilih sebagai tindakan untuk menghadapi ancaman badai di tahun mendatang, sepenuhnya akan berada di tangan kita, begitu pula konsekuensi logis yang berada di balik pilihan tersebut. 

Perfect storm akan menjadi mimpi buruk, dan sama sekali tidak kita harapkan kehadirannya. Namun, seandainya perfect storm itu datang, tentunya kita juga tidak ingin organisasi atau perusahaan kita bernasib sama dengan Andrea Gail.

Selamat memasuki tahun 2023 tanpa meredupkan semangat berkarya!

Artikel Terkait

Berita Lainnya
Close
Back to top button