KOLOM PAKAR
Trending

Supply Chain Masa Pandemi: Masih Strategi Jadul

Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen

Saat menghadapi situasi pandemi Virus Corona, kita sebenarnya masih menerapkan konsep Supply Chain model jaman Perang Dunia 2. Ketika itu, negara-negara yang berperang memobilisasi semua perusahaan memproduksi berbagai peralatan dan kebutuhan perang, seperti senjata, mesin perang, dan pakaian tentara.

Toyota misalnya, yang semula memproduksi mesin tekstil, beralih memproduksi mobil setelah Perang Dunia 2. Seperti disebut tadi, mengalihkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pakaian tentara, sampai tulisan ini dibuat, Amerika Serikat masih “memaksa” Ford dan GM memproduksi ventilator untuk pasien yang dirawat akibat Virus Corona, dan menunda sejumlah produksi mobil demi tujuan Negara.

Sejumlah perusahaan dengan tiba-tiba harus mengalihkan kegiatan produksinya dalam skala besar dan dalam waktu singkat. Ini artinya Perusahaan dan Pemerintah harus mencari dan menyediakan raw material secepatnya, mempersiapkan kapasitas dan keahlian tenaga kerja untuk memproduksi barang jenis baru, berbagi tempat penyimpanan barang baru dengan barang yang selama ini diproduksi, dan mempersiapkan sistem pengendalian kualitas yang terbaik.

Kita jadikan contoh ventilator tadi, tantangan berikutnya adalah menyediakan kemasan (packaging) untuk ventilator agar pengiriman terjamin baik, dan bekerja sama dengan forwarder yang mampu mendistribusikan ventilator. Belum tentu forwarder yang tersedia selama ini memiliki kapasitas pengiriman yang cukup besar. Belum lagi risiko ketidakefisienan space utility selama proses distribusi. Tidak heran jika militer ikut turun tangan mengirim barang-barang kebutuhan ini.

Setelah ventilator, alat pelindung diri, dan peralatan lain digunakan, apakah sudah tersedia strategi after-sales service seperti perawatan ventilator? Apakah sudah ada infrastruktur reverse logistics (misalnya: recycle, refurbish) yang sehat dan ramah lingkungan untuk menarik alat pelindung diri?

Semua ini dilakukan seakan-akan dengan tergesa-gesa, demi kebutuhan yang sangat penting dan segera. Semua ini dilakukan tanpa memikirkan biaya, termin pembayaran, dan berapa lama inventori yang akan disimpan, dan menyingkirkan kinerja supply chain yang selama ini digunakan. Yang penting adalah ketersediaan (availability) di semua lokasi, yakni rumah sakit.

Kondisi ini sejalan dengan pandangan Bill Gates, bahwa saat ini kita belum siap menghadapi pandemi. Manusia sibuk memikirkan keuntungan bisnis, melupakan alam, dan dampak risiko penghancuran alam bagi kelangsungan bisnis itu sendiri.

Padahal ketika muncul pandemi, seketika itu juga bisnis berhenti dan harus menanggung kerugian operasional selama beberapa waktu. Lebih lanjut, dia pernah menyarankan negara-negara untuk berinvestasi pada sistem kesehatan terintegrasi, vaksin, dan obat-obatan, bukan investasi untuk peralatan perang. Dia berkaca pada pengalaman di tahun 2009 ketika wabah H1N1 terjadi.

Setiap kali memasuki sebuah gedung perkantoran, pusat belanja, manusia diperiksa dengan detector logam, tapi melewatkan detector virus ataupun bakteri. Ketika perang fisik berakhir, dunia masuk ke era perang dagang, dan tantangan virus. Maka perlu dipikirkan bagaimana peran Supply Chain menghadapi tantangan baru ini.

Ketidakpastian dalam Suuply Chain tidak lagi sebatas ketidakpastian demand dan supply, namun juga tantangan bagaimana mengalihkan sumber daya, pabrik, bahkan peran militer secara seketika.

Ada beberapa langkah yang dapat kita pikirkan. Pertama, selama ini militer Indonesia sudah dilatih untuk program “ABRI Masuk Desa” dan membantu korban bencana alam. Ini menjadi modal penting.

Kedua, karena segala sesuatu harus dialihkan fungsinya dalam waktu cepat, maka perusahaan, pabrik, dan pemerintah harus membuat standar kerjasama agar pengalihan strategi produksi dan distribusi untuk kasus pandemi di masa mendatang menjadi lebih smooth. Jangan lupa menyediakan lokasi-lokasi yang dapat dialihfungsikan dengan segera, misalnya Indonesia mengalihkan wisma atlet menjadi rumah sakit penanganan pasien Corona.

Ketiga, menyediakan sistem informasi bagi perusahaan terkait berapa banyak barang diproduksi, bagi rumah sakit berapa potensi penambahan pasien. Terakhir, memasukkan langkah-langkah di atas sebagai bagian dari bahan training bagi perusahaan, pegawai pemerintah, dan militer. Meskipun kejadian yang sama baru akan terulang mungkin 10 sampai 20 tahun lagi.

Selain produksi dan distribusi, isu hak paten sebuah produk yang secara mendadak diproduksi massal, misalnya ventilator tadi. Pada masa perang, Roosevelt mengatakan bahwa isu paten ini berdampak pada kondisi yang lebih rumit. Namun akhirnya, pemerintah Amerika Serikat pada saat itu menyatakan bahwa pemilik paten tidak bisa menghalangi usaha memperbanyak produk buatannya sendiri jika tujuannya adalah untuk kepentingan negara.

Tentunya in merugikan si pencipta produk. Disisi lain, tentunya pemerintah dan warga negara berharap ketersediaan barang ataupun obat tersedia dalam skala besar, dan dengan harga murah.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button