LENSA

SURVIVAL MODE MENUJU NEW NORMAL

Oleh Akhmad Kusaeni

                Pandemi Corona membuat semuanya ambyaaaarr. Semua lini kehidupan terhajar dan terkapar. Tak terkecuali perusahaan-perusahaan plat merah BUMN. Salah satunya adalah perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himbara (Himpunan Bank-Bank Milik Negara).

                JP Morgan menyebut pertumbuhan kredit, penurunan pendapatan bunga dan non bunga bank-bank di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengalami perlambatan. Pukulan mematikan dari Covid-19 berujung pada menurunnya profitabiltias industri perbankan.

                Kredit macet di Himbara diperkirakan bakal melambung. Ini lantaran adanya kebijakan pelonggaran angsuran kredit bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, serta melesunya kinerja industri. Bank BRI, misalnya, mengalami tekanan perolehan laba pada kuartal I. Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI, memperkirakan tekanan laba lebih berat akibat pandemi itu bakal terjadi pada kuartal II.

                Tekanan menurunnya laba dirasakan lebih parah oleh bank-bank swasta. Laba bersih Bank Permata, misalnya, terpangkas dalam. Sepanjang kuartal I-2020, perseroan cuma meraih laba bersih Rp 1,73 miliar, merosot sedalam 99,53% dibandingkan laba kuartal I-2019 senilai Rp 377,36 miliar.

                Selain perbankan, sektor lain yang juga terhantam dampak virus Corona adalah pariwisata. Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan imbauan #DiamDiRumah tiba-tiba membuat sektor pariwisata babak belur. Pariwisata yang sebelumnya digadang-gadang sebagai sumber utama devisa negara menggantikan sektor migas menjadi tidak bisa diandalkan lagi.

                Transportasi udara nyaris lumpuh. Kini adalah hari-hari menyedihkan bagi industri penerbangan dalam 100 tahun sejarahnya. Virgin Airlines memecat 3000 kru termasuk 600 pilot. Virgin Atlantic dan Virgin Australia nyaris tidak bisa membayar ongkos operasional sehari-hari. Untuk mencegah dari kebangkrutan, Richard Branson, pendiri Virgin Airlines, berniat menjual Pulau Necter, miliknya di kawasan eksotik Karibia. 

                Finnair mengembalikan 12 pesawat dan merumahkan 2.400 karyawan. Norwegian Airlines menghentikan penerbangan jarak jauhnya. SAS mengembalikan 14 pesawat dan mem-PHK 520 pilot. Ethiad membatalkan 18 pesanan pesawat A350, menghanggarkan 10 pesawat A380 dan 10 pesawat Boeing 787 serta merumahkan 720 stafnya.  Emirat menghanggarkan 38 pesawat A380 dan membatalkan semua pesanan (lebih dari 150) pesawat Boeing 777x.

                Garuda Indonesia? Gaji direksi dan staffnya sudah dipotong 50%. Itu sudah mencerminkan betapa terpaparnya maskapai Carrier Flag Indonesia itu dihajar pandemi Corona. Selain Garuda Indonesia, BUMN yang masuk ke sektor pariwisata adalah Angkasa Pura, Pelabuhan Indonesia, Hotel Indonesia Group, PT Kereta Api Indonesia, dan Pelni. Keuangan perusahaan-perusahaan ini diproyeksikan akan negatif tahun ini.

                Begitulah, krisis akibat pandemi Corona berdampak sangat luas. Situasi ekonomi makin sulit. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan di kisaran minus 0,4% sampai 2,3% hingga akhir 2020. Namun skenario buruk itu tidak boleh membuat kita pasrah. Kita harus percaya krisis bukan berarti kiamat. Sehebat apapun krisis yang menerjang, there is always light at the end of the tunnel.

                Sedahsyat apapun krisis, akan ada jalan keluarnya. Kita percaya, segelap apapun malam, esok hari matahari akan memberi terang. Kita percaya, selalu ada blessing in disguisse, selalu ada hikmat dibalik semua kejadian.

                Dalam bahasa China krisis itu disebut Wei-Ji yang mempunyai dua arti, yaitu “Bahaya” dan “Peluang”. Jadi dalam setiap krisis selalu ada bahaya dan peluang. Krisis wabah virus Corona sekarang ini pasti ada hikmahnya, pasti ada peluangnya.

                Bisnis yang terpuruk harus cari survival mode atau model bisnis baru. Hotel yang kosong tak ada tamu harus berubah tidak lagi menjual kamar. Hotel berbintang di Bali ada yang sudah banting harga sampai Rp3 juta per BULAN, tetap tetap tak ada yang minat. Pengusaha hotel harus putar otak agar tetap mendapatkan pemasukan. Salah satunya menyediakan layanan antar makanan hotel untuk masyarakat umum.

                Atau, menjadi pengelola rumah sakit darurat korban Corona, seperti yang dilakukan PT Hotel Indonesia Natour (HIN).  Hotel BUMN itu menyediakan jasa housekeeping dan catering di rumah sakit darurat Wisma Atlet Kemayoran. HIN mengerahkan 162 personil untuk menyiapkan ribuan kamar dengan total sebanyak 3.680 kasur.

                Setiap perusahaan kini harus menyiapkan survival modenya karena pandemik Corona bakal berlangsung lama. Perusahaan kosmetik, misalnya, harus berubah memproduksi hand sanitizer. Perusahaan makanan cepat saji harus masuk ke bisnis frozen food. Mal-Mal dan hotel dialihfungsikan menjadi rumah sakit.

                Mungkin survival mode itu tidak cukup dilakukan sendirian oleh perusahaan-perusahaan terpapar. Bagaimanapun BUMN-BUMN itu butuh bantuan pemerintah bukan saja untuk menjaga keberlangsungan perusahaan, tetapi lebih luas untuk menjaga keberlangsungan ekonomi di tengah pandemi.

                Menteri BUMN Erick Thohir sudah memetakan BUMN mana saja yang terkena dampak Covid-19. Pemerintah sudah menyiapkan upaya-upaya penyelamatan. Kementerian Keuangan telah mengalokasikan Rp318,09 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka dukungan bagi BUMN. Hal ini tertuang dalam PP Nomor 23 Tahun 2020.   

                Jadi, apapun yang terjadi, kita harus menghadapi krisis wabah Corona ini dengan kepala dingin dan tidak panik. Kita harus mempersiapkan diri untuk “bisa berdamai dengan Corona” melalui inovasi, transformasi, dan survival mode yang sesuai dengan kehidupan normal yang baru (new normal).

                Krisis itu seperti goro-goro dalam dunia pewayangan. Ia menjadi sebuah titik balik perubahan dari sebuah era ke era baru.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close